Entrok, Okky Madasari

Marni bergegas pergi dari rumah Paklik dan Buliknya. Tak sanggup lagi ia menahan bulir air mata dan perih tenggorokan yang mencekiknya. Bukan karena ia gagal membujuk Paklik membelikan entrok, membuatnya begitu. Melainkan cara Bulik menepis keinginannya, “Kalau mau punya, ya minta sama Bapakmu sana.”

Continue Reading

Rumah Kopi Singa Tertawa, Yusi Avianto Pareanom

Melalui kedelapan belas cerpennya, Yusi membawa kita masuk dalam kebetulan-kebetulan yang selama ini hanya terbayang di layar kaca. Menemani tokoh-tokoh yang seenaknya dipermainkan hidup.

Dalam “Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih” misalnya, kita dibuat kasihan dengan protagonis malang, si Anwar Sadat, yang hidupnya berakhir nahas di hari pertama ia memijak Jakarta – dikeroyok setelah dikira copet. Padahal tangannya cuma tak sengaja mampir ke dada dan pinggang seorang perempuan.

Continue Reading

Catcher in the Rye – J.D. Salinger

Kukira, mereka yang tak tumbuh bersama rasa benci adalah yang paling beruntung. Mereka tak usah mengeluhkan ketidakberuntungan dan takdir yang tak bisa diubah. Tak perlu juga diam-diam mengutuk banyak hal. Mereka tak mendendam pada yang meremehkan. Lagi, tak merasa perlu meniatkan semua hal untuk pembuktian.

Akan tetapi, siapa yang tak tumbuh bersama rasa benci?

Continue Reading