Rumah Kopi Singa Tertawa, Yusi Avianto Pareanom

Melalui kedelapan belas cerpennya, Yusi membawa kita masuk dalam kebetulan-kebetulan yang selama ini hanya terbayang di layar kaca. Menemani tokoh-tokoh yang seenaknya dipermainkan hidup.

Dalam “Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih” misalnya, kita dibuat kasihan dengan protagonis malang, si Anwar Sadat, yang hidupnya berakhir nahas di hari pertama ia memijak Jakarta – dikeroyok setelah dikira copet. Padahal tangannya cuma tak sengaja mampir ke dada dan pinggang seorang perempuan. Ketika ia berusaha menyeimbangkan diri saat tergelincir sehabis turun dari metromini. Sewaktu kita mengira cerita hanya akan sampai disitu, penulis membawa kita lebih jauh. Kita digiring untuk memahami perempuan yang tak langsung mengantarkan Anwar Sadat ke ajalnya. Pada akhirnya kita mau tak mau dibuat maklum dan kagum, bagaimana kebetulan saling menghukum hidup antara keduanya. Tapi sialnya ketika pembaca sudah terlanjur percaya pada cerita, muncul fragmen-fragmen yang membuat kita tak bisa menghindari pernyataan: ‘ini nyata apa nggak sih?’

Begitu juga dengan “Hukum Murphy Membelit Orang-Orang Karangapi”. Satu cerita pendek ini begitu emosional. Sepanjang cerita, pembaca diajak berkali-kali mengalami perubahan emosi: senang. penasaran, dan sedih. Kombinasi cerita yang sebenarnya mudah ditebak, tetapi tetap tak membuat diri berhasil menghindari keterkejutan.

Bercerita tentang seorang yang tak sengaja menemukan teman semasa kecil di tengah tugasnya di Rotterdam. Sukemat, teman lama yang dulunya tak begitu beruntung itu, berubah menjadi yang paling sukses diantara semua teman sepermainan di Karangapi. Namun begitu, pertemuan keduanya harus diakhiri begitu cepat. Tanpa kemungkinan keduanya bertemu lagi. Ketika Sukemat yang sedang mabuk, sempoyongan berusaha menghajar lelaki yang meremas buah dada teman wanitanya. Ia justru jatuh dengan kepala menggaduk lantai ditemani sebotol single malt scotch yang tadinya hendak ia gunakan menghukum si peremas. Cerita belum berhenti sampai di situ. Si tokoh lantas menceritakan berbagai kemalangan teman masa kecilnya, yang apalagi kalau bukan disebabkan si Murphy. Semuanya berakhir dengan…’kurang aduhai’.

Sedangkan cerpen yang juga menjadi judul buku ini, “Rumah Kopi Singa Tertawa”, ditulis dengan gaya yang lain. Mengambil latar sebuah kafe, sepanjang cerita hanya ada petikan-petikan percakapan di meja-meja acak. Penulis seolah lepas dari ceritanya sendiri, dan pembaca dibebaskan tuk berimajinasi. Belum lama saya tahu, kalau gaya penceritaan mirip Hills Like White Elephants milik Hemingway ini dimaksudkan sebagai kritik. Penulis kelahiran Semarang itu menganggap terlalu banyak cerita berlatar kafe yang menempatkan tokohnya di pojok – diam, mengawasi dan kontemplatif. Padahal jarang ada kafe yang menyediakan ruang untuk diam. Kafe begitu riuh dengan obrolan-obrolan yang tidak saling sambung satu dengan yang lain.

Namun, di antara semua cerpen ada satu yang berhasil mencuri perhatian saya. Itulah “Tiga Maria dan Satu Mariam”. Cerita ini bisa jadi mengamini jalan hidup perempuan yang bak Maria atau Maryam: pelik. Bercerita tentang empat perempuan dengan nama serupa. Keempatnya datang dengan latar belakang dan persoalan hidup yang berbeda-beda. Tetapi sialnya, kesamaan nama seolah menautkan mereka dalam nasib yang tak kalah sukar dari perempuan suci yang hidup ribuan tahun lalu itu. Lewat cerita ini muncul kekaguman pada Yusi Avianto Pareanom. Karena mampu menghadirkan cerita tentang perempuan seolah ditulis oleh tokoh itu sendiri.

Cerita tentang Maria Larasati Tunggadewi yang paling bikin kelu. Gadis yang baru ‘mekar’ ini belum lama menyadari, kalau sepanjang hidupnya ia ‘digarap’ bapaknya sendiri. Mengatasnamakan kesembuhan sang istri, si bapak bertindak bejat dan menyebut tingkahnya sebagai ‘ritual penghukuman setan’. Si bapaklah yang meyakinkan Maria kalau setan dalam tubuhnya yang membuat ibunya jatuh sakit.

Sebagai sebuah kisah yang sejak awal sudah jelas maksudnya, tetap saja saya dibuat dag-dig-dug. Cerita keakuan dan diksi yang polos – khas anak-anak, membuat semuanya nampak jauh lebih nyata. Akibatnya, kisah Maria masih menghantui setiap jeda pikiran saya.

Semua cerpen yang disuguhkan tak pernah jauh dari kenyataan sehari-hari. Kebanyakan menyoal kebetulan-kebetulan menyebalkan yang terjadi dalam hidup. Mirip kolom Sungguh-Sungguh Terjadi di Kedaulatan Rakyat yang sungguh ndilalah, dengan versi lebih panjang dan menggelitik. Beberapa karya bicara tentang refleksi personal, ironi, dan tentu saja topik cerita sejuta umat – cinta dan perempuan.

Hanya saja, jangan harap Yusi Avianto Pareanom menulis untuk membawa anda lari dari kenyataan. Apalagi berharap setelah membaca bukunya anda bisa mendapatkan pencerahan dan motivasi menjalani hidup. Karena jujur saja, buku ini memang tak memiliki niatan untuk bicara masa depan. Yang ada soal sekarang dan lebih sering, tentang yang sudah lewat. Tetapi untungnya, hanya satu dua saja yang dibawakan dengan getir. Lainnya masih dibumbui dengan humor khas yang membuat anda sering merutuk dalam berbagai ekspresi: takjub, sedih dan mungkin marah.

 

Nilai: 3/5

Judul: Rumah Kopi Singa Tertawa

Penulis: Yusi Avianto Pareanom

Penerbit: Banana

ISBN: 978-978-1079-26-6

Cetakan: pertama, 2011

Jumlah halaman: 172

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *