ABOUT

about imas indra

Imas Indra adalah blogger yang berdomisili di Yogyakarta. Ia tertarik pada isu perempuan, lingkungan, dan internet culture.

Blog ini adalah tempat baginya berbagi ide seputar gaya hidup yang sederhana, tak terburu-buru, dan ramah lingkungan. Blog ini juga memuat bahasan tentang proses menjadi dewasa, rekomendasi buku, dan review produk yang sesuai dengan gaya hidup yang ia percayai.

Imas Indra sempat menjadi reporter rubrik KACA di SKH Kedaulatan Rakyat dan kontributor My School Page, Majalah HAI selama tahun 2011-2013. Semasa di kampus, ia menjadi asisten editor untuk buku 50 Years of Amity and Enmity: the Politics of ASEAN Cooperation (2018), Menghadapi Kebangkitan Cina (dalam proses), dan Kerja Sama Selatan-Selatan (dalam proses).

Setelah sempat bekerja di kampus selama tiga tahun dan menyelesaikan studi ilmu politik, ia meniti karir sebagai content writer di sebuah startup teknologi komunikasi.

Sela-sela waktunya dihabiskan untuk membaca buku, berolahraga, menonton serial tv, dan (terkadang) merajut.

Untuk pertanyaan dan tawaran kerja sama, kamu bisa menghubungi Imas Indra melalui imasndra@gmail.com

about the blog.

about imasndra.com

Blog ini adalah tempat merayakan gaya hidup yang tak terburu-buru, sederhana, dan ramah lingkungan. Tempat aman untuk mempertanyakan segala hal dan mencari alternatif terbaik untuk hidup.*

Semua berawal dari penggalan lirik salah satu lagu dari Efek Rumah Kaca.

“Kita belanja terus sampai mati….”

Meski terdengar sedikit berlebihan, penggalan lirik itu memang ada benarnya.

Belanja tak lagi sekadar menukar lembaran kertas dengan barang atau jasa. Kini, ia menjadi kegiatan yang paling ditunggu menjelang awal bulan. Hiburan bagi mereka yang penat dihimpit beban pekerjaan. Sebuah terapi konkret untuk “membahagiakan” diri sendiri.

Hari libur nasional tidak lagi sekedar tanggal merah dan tinggal di rumah. Ia kini menjelma menjadi diskon besar dan gratis ongkos kirim.

Tak sampai disitu, hari-hari peringatan yang kurang spesial disulap menjadi perayaan. Mulai Hari Kartini, Hari Perempuan, Hari Ibu, Hari Konsumen, Hari Belanja Online Nasional, sampai Black Friday. Pun, tanggal-tanggal cantik tak luput diubah menjadi momentum belanja.

Di sinilah diriku mulai bertanya: sebetulnya buat apa kita belanja? Mengapa kita begitu terobsesi untuk mendapat harga termurah?

Siapa saja yang diuntungkan bisa bilang, “Ini demi memutar roda ekonomi.”

Tapi kenyataannya tak sesederhana itu.

Ada harga yang harus ditebus dari segala hingar bingar perbelanjaan. Entah itu gaji cekak untuk para produsen barang, ataupun dampak lingkungan dari plastik bungkus sekali pakai.

Maka dari itu, penting untuk bertanya: siapa pembuat barang yang kubeli? Apakah barang yang kubeli betul-betul menghidupi pembuatnya? Apakah barang itu berdampak buruk bagi lingkungan?

Melalui pertanyaan itulah, blog ini ingin mengajak kita semua berpikir ulang soal kebiasaan berbelanja.

Belanja bukanlah kegiatan impulsif. Ia tak dilakukan hanya sekedar untuk memuaskan ego atau menggenapi bagian diri yang kurang. Justru sebaliknya, belanja harusnya dilakukan dengan kesadaran. Karena ia punya kaitan yang lekat dengan aspek lainnya.

Blog ini akan membahas kaitan-kaitan dari dunia perbelanjaan. Mulai dari gender, feminisme, politik, lingkungan, dan konsep soal keberlanjutan serta ramah lingkungan. Semuanya dibungkus dengan bahasa yang lugas dan sederhana.

Selain itu, ada juga topik-topik sampingan yang mengingatkanmu untuk hidup dengan sederhana dan tak terburu-buru. Semuanya dirangkum dalam beberapa kategori:

BOOK
berisi ulasan dan catatan menarik soal buku-buku yang kubaca.

THOUGHT
adalah kumpulan pemikiran dalam bentuk esai dan listicles.

LIVING
membahas hal-hal yang berkaitan dengan gaya hidup yang sederhana, perlahan, dan berkelanjutan. Topik ini dibagi lagi dalam tiga kategori:

adulting
berisi hal-hal seputar proses menjadi dewasa. Membahas refleksi dan catatan soal menikmati proses pendewasaan tanpa menyiksa diri. Mengingatkan diri untuk menghindari keterburu-buruan, kerumitan, dan hal yang tak perlu.

beau
mengulas produk perawatan dan kecantikan yang etis (organik, ramah lingkungan, tidak berlaku jahat dan mendukung keberagaman) serta alternatif produk buatan sendiri.

bite
rekomendasi kuliner artisan dan produk-produk lokal yang memanjakan lidah dan ikut mengenyangkan perut si pembuatnya.