Merayakan yang Banal

Muda, penghasilan belasan juta per hari, tinggal di apartemen mewah dan punya kendaraan pribadi adalah kombinasi yang terlalu mujur. Kombinasi itulah yang diam-diam kita impikan dan amini, setidaknya lewat drama-drama di televisi ataupun novel remaja. Ketika kemujuran tersebut terwujud di dunia nyata, kita tak henti untuk menguntit kehidupan sosok itu. Sama seperti drama-drama di televisi yang kita tonton ataupun novel-novel metropop yang tak surut menghiasi rak-rak toko buku.

Continue Reading

Kekerasan terhadap Perempuan di Media Digital: Lawan!

Ketika ‘dapur, sumur, kasur’ jadi satu-satunya harta, dan pernikahan hanyalah cita-cita yang diperbolehkan, Kartini tahu ada sesuatu yang harus diubah. Namun Kartini sadar, apa yang ingin ia ubah bukanlah sesuatu yang mudah pada jamannya. Untuk bisa mengubah kondisi perempuan pada jamannya, paling tidak perempuan harus terdidik. Setelah itu baru ia bisa bebas dan terbuka matanya (Kartini 1963). Perempuan tidak lagi menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya status yang disandang, tetapi ia bebas untuk bekerja dan menjadi mandiri.

Continue Reading