Kekerasan terhadap Perempuan di Media Digital: Lawan!

Ketika ‘dapur, sumur, kasur’ jadi satu-satunya harta, dan pernikahan hanyalah cita-cita yang diperbolehkan, Kartini tahu ada sesuatu yang harus diubah. Namun Kartini sadar, apa yang ingin ia ubah bukanlah sesuatu yang mudah pada jamannya. Untuk bisa mengubah kondisi perempuan pada jamannya, paling tidak perempuan harus terdidik. Setelah itu baru ia bisa bebas dan terbuka matanya (Kartini 1963). Perempuan tidak lagi menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya status yang disandang, tetapi ia bebas untuk bekerja dan menjadi mandiri.

Menjadi mandiri mungkin itulah petunjuk yang diberikan Kartini dalam menjawab persoalan kekerasan terhadap perempuan. Dengan menjadi mandiri, perempuan bisa tidak serta merta tunduk terhadap kekerasan yang merugikannya. Dalam cita-cita Kartini, perempuan yang mandiri akan mendidik anak dengan cerdas dan memajukan bangsanya.

Barangkali pemikiran itu juga yang menginspirasi pemikir-pemikir feminis selanjutnya, sebut saja Simon de Beauvoir. Beavouir pada usia 41 tahun menerbitkan bukunya The Second Sex. Buku yang berusaha membalikkan mitos-mitos bahwa perempuan diciptakan untuk menjadi subordinan. Dalam bab akhir buku setebal 800-an halaman itu, Beavouir membahas tentang perempuan mandiri. Sifat yang diharapkan bisa melepaskan perempuan dari jeratan kekerasan. Walaupun kemandirian yang dimaksud filsuf eksistensialis ini tidak sesederhana apa yang dimaksud Kartini.

Beralih ke jaman milenial, kemandirian perempuan diterjemahkan dengan jenaka oleh film garapan Payton Reed, Down with Love. Film yang dirilis pada tahun 2003 ini, menceritakan Barbara Novak, seorang feminis yang berhasil menjadi penulis buku best-seller yang mendorong perempuan untuk menjadi mandiri. Kemandirian perempuan menjadi momok baru bagi laki-laki dan hal ini menyebabkan Catcher Block, seorang penulis mata keranjang, berusaha membuat Barbara Novak jatuh cinta padanya. Semua itu dilakukan untuk membuktikan bahwa perempuan itu pembohong. Pada akhirnya segala upaya Catcher Block berbalik menyerang dirinya sendiri. Ia jatuh cinta. Namun, ternyata itu semua sudah ada dalam skenario. Barbara Novak ternyata seorang mantan sekretaris Catcher Block, yang menyamar menjadi penulis untuk bisa mendekati mantan bosnya.

Ketiga pemikiran lintas generasi mengenai kemandirian perempuan tersebut, seolah menjadi penegas bahwa hanya dengan menjadi mandiri lah perempuan bisa lepas dari kekerasan. Akan tetapi, jaman pun berubah. Kini perempuan berhak memperoleh pendidikan, bekerja, berpartisipasi dalam pemilu bahkan menempati sektor publik. Perempuan memperoleh apa yang laki-laki dapatkan. Namun demikian, hal tersebut tak serta merta melepaskan perempuan dari tindak kekerasan.

Salah satu contoh kekerasan terhadap perempuan di era kini, terjadi akhir November lalu. Saat di mana masyarakat digital (netizen) berbondong-bondong mengkritik kelakuan anak muda yang merusak kebun bunga Amarillys di daerah Pathuk, Gunung Kidul, Yogyakarta. Kelakuan merusak tersebut terjadi lantaran, anak muda dalam jumlah ribuan menyerbu tempat tersebut untuk berfoto selfie. Apa yang tidak diperhatikan oleh banyak orang adalah kritikan tersebut terkadang bernada kebencian dan merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan.

“Ini dia muka-muka perempuan yang doyan n******”, komentar salah satu netizen terhadap foto selfie pasangan di kebun bunga.

“Saat minggu depan saya dan keluarga berencana ke taman bunga Brambangan yang tak bgitu jauh dari rumah, yang hanya bermekaran sekitar tiga minggu di awal musim hujan, yawwoohhhh….ternyata telah dibabak-belurin oleh cabe-cabean jomblo gumunan yang celakanya berjilbab, pastilah muslimah, dan boleh jadi ke mana-mana selalu neriakin mengucapkan selamat Natal itu haram mati-matian dan khilafah adalah tuntunan Islam…Hal paling efektif untuk memberikan cabe-cabean ini kemaluan pada jilbabnya ialah kampanye JANGAN NIKAHI MEREKA! Ben jomblo terus, anyep terus, kisut seumur hidup hanya tuk pipis.”, salah satu petikan catatan yang ditulis salah satu netizen untuk mengomentari empat perempuan mengenakan jilbab yang duduk di atas bunga.

“Mbaknya mau nggak dibayar 5000 terus diinjak-injak?”, komentar yang ditulis untuk mengkritik pendapat perempuan yang mengatakan kerusakan itu wajar, apalagi di sana mereka sudah membayar.

Kekerasan tersebut seolah dibenarkan bahkan diselebrasikan, hanya karena ditujukan kepada pengrusak kebun bunga.

Antara Nyata dan Ilusi: Selebrasi Kekerasan di Media Sosial

Selama proses penulisan esai ini, penulis terbentur dengan komentar-komentar yang menilai fenomena di atas kurang penting. Sudah menjadi common sense bahwa media sosial adalah tempat untuk bersantai, jadi apa yang terjadi di dalamnya tak perlu direspon dengan serius. Pihak lain mengatakan apa yang disebut sebagai kekerasan di media sosial, dampaknya tidak nyata. Tidak seperti kekerasan yang memang terjadi di kehidupan sehari-hari. Maka, fenomena tersebut tidak perlu jadi sorotan.

Sebaliknya, penulis merasa fenomena di atas merupakan hal yang penting untuk dibahas. Berbeda dengan komunikasi langsung yang membutuhkan banyak usaha karena menyangkut non-verbal, komunikasi virtual tidak menuntut keterlibatan non-verbal yang besar. (Margalit 2014) Dengan demikian, apa yang disampaikan cenderung jujur dan menunjukkan realitas sesungguhnya yang tersamarkan di dunia nyata.

Fakta di atas seharusnya ditangkap sebagai hal yang serius. Karena fakta tersebut memberikan pencerahan bahwasanya perjuangan melawan kekerasan terhadap perempuan belum selesai. Kemandirian, baik yang dimaksud Kartini, Beavouir dan feminis lainnya, belum berhasil menjauhkan perempuan dari kekerasan. Semandiri apapun perempuan, kekerasan terhadapnya masih bisa terjadi selama persepsi yang menempel terhadapnya masih bersifat misoginis dan menempatkan perempuan sebagai objek.
Sayangnya persepsi itulah yang diterima, bahkan diselebrasikan pada kasus pengrusakan kebun bunga di Pathuk. Ditunjukkan dengan bagaimana catatan Jangan Nikahi Mereka yang dibagikan di Facebook disukai 230 netizen dan dibagikan kembali oleh 3157 netizen. Jadi bisa dilihat, bahwa kasus kekerasan di dunia digital adalah masalah yang nyata dan bukan ilusi semata.

Perempuan dalam Dunia Digital

Kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di media digital tidak bisa dilepaskan dari bagaimana perempuan dipersepi. Lagi-lagi ini menjadi masalah, karena perempuan tidak memiliki kuasa untuk mempersepsi dirinya sendiri. Secara lengkap, Beavouir menyebutnya sebagai ketidakbebasan untuk membentuk femininitasnya sendiri. (Beauvoir 1949) Hal itulah yang disebut-sebut sebagai penyebab utama permasalahan gender.

Iklan lah yang memegang kendali untuk mendefinisikan siapa itu perempuan dan bagaimana sebaiknya ia bertingkah laku. Iklan mencuci pikiran perempuan melalui imaji-imaji perempuan cantik dan seksi, yang secara psikologis membuat perempuan merasa lebih buruk dari imaji yang ditampilkan. Sebagai hasilnya perempuan berlomba-lomba memperbaiki penampilannya, dengan polesan gincu dan bedak yang ditabur merata di wajah. Mereka mengaku apa yang dilakukan untuk menyenangkan diri sendiri, tetapi jelas itu merupakan absurditas (Beauvoir 1949). Pada kondisi ini, perempuan pun menjadi objek.
Tidak hanya melalui iklan, pengobjekan perempuan juga terjadi melalui imaji-imaji yang sengaja ditampilkan untuk menarik perhatian. Dalam media digital, imaji tersebut bisa dengan mudah ditemukan dalam situs-situs berita dan artikel yang mengejar audiens. Imaji yang ditampilkan pun khas: perempuan berkulit putih, senyum manis, hidung mancung, dan bagian tubuh yang menonjol. Lagi, kita menemukan perempuan diposisikan sebagai objek.

Begitu juga yang terjadi dalam kasus kekerasan terhadap perempuan di media digital yang telah dijelaskan sebelumnya. Komentar-komentar yang disampaikan oleh netizen laki-laki terhadap tersangka perusakan taman bunga adalah komentar yang berisfat kasar, merendahkan dan menekankan poin-poin peran seksual perempuan. Secara singkat, laki-laki memposisikan perempuan sebagi objek yang lebih rendah. Realitas yang disebut sebagai hegemonic masculinity olehR.W Connell (Donaldson 1993). Di mana laki-laki menempati posisi sosial utama, dan perempuan menempati posisi subordinan. Perempuan adalah arena validasi seksual bagi laki-laki. Maka dari itu, komentar-komentar yang disampaikan di media sosial adalah alat bagi laki-laki untuk mempertahankan posisi sosialnya yang dominan.

Melawan Kekerasan di Media Digital

Jaman membuktikan, kemandirian secara materi tidak cukup untuk menghindarkan perempuan dari kekerasan. Kekerasan hanya bisa dihentikan dengan pengubahan persepsi terhadap perempuan. Perempuan harus diberikan kebebasan untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Dengan begitu, perempuan tidak lagi ditempatkan sebagai objek.

Namun sebelum sampai ke tahap tersebut, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memberikan literasi bahwa komentar-komentar bernada kebencian yang dianggap biasa di atas adalah suatu budaya yang salah. Karena saya yakin, komentar yang disampaikan netizen dan diselebrasikan oleh netizen lainnya adalah bentuk ketidaktahuan. Sebelum perempuan bebas mendefinisikan dirinya, akan lebih efektif apabila masyarakat bisa mengubah pola pikirnya dulu. Sehingga upaya pemberantasan kekerasan terhadap perempuan bisa berjalan dengan efektif karena menyangkut pemahaman tentang perempuan.

Sebenarnya upaya yang sama pernah dilakukan oleh berbagai gerakan di media digital. Gerakan-gerakan tersebut melakukan kampanye di media sosial dengan gambar-gambar menarik. Salah satunya gerakan yang bertujuan melepaskan stereotip terhadap perempuan. Perempuan-perempuan berfoto dengan membawa tulisan yang intinya menyampaikan ketidakinginan mereka dinilai dari apa yang mereka kenakan. Kampanye lain berusaha mengulik keberagaman perempuan mulai dari nenek, ibu, anak sekolah, pekerja seks dan lainnya. Keberagaman yang ada dibingkai dalam dua gambar bersampingan yang menyampaikan steoreotip dan yang lain menyampaikan bahwa mereka juga manusia.

Untuk memberantas kekerasan di dunia digital, kampanye untuk meningkatkan kesadaran terhadapnya perlu dilakukan di dunia digital itu sendiri. Kampanye yang penulis maksud bisa mengadopsi apa yang telah dilakukan dua contoh kampanye sebelumnya. Kampanye yang dimaksud akan menitikberatkan pada pemahaman bahwa komentar-komentar bernada kekerasan adalah sikap yang salah. Berbeda dengan dua kampanye sebelumnya, kampanye yang penulis bayangkan juga memuat fakta-fakta yang mendukung pemahaman bahwa fenomena yang dimaksud merupakan budaya yang merugikan dan perlu diubah. Penerjemahan konsep-konsep gender secara ringan kepada netizen perlu dilakukan demi suksesnya kampanye ini.

Pada akhirnya, kampanye pemberatasan kekerasan di media digital bisa berjalan dengan efektif. Tentu dengan dukungan jaringan berbagi informasi dari netizen satu ke netizen lainnya. Kampanye yang dimaksud akan mempertemukan pelaku dan korban kekerasan dalam medium yang aman. Membawa keduanya saling berkomunikasi baik langsung maupun tidak dan perlahan mengubah persepsi dan juga perlakuan terhadap perempuan (Force 2014).

Esai ini diikutsertakan dalam Call for Essay Organization of Humanity, FISIPOL, UGM “Youth and Gender-based Violence”

Refererensi

Beauvoir, Simon de. The Second Sex. New York: Vintage Books, 1949.
Donaldson, Mike. “What Is Hegemonic Masculinity?” Theory and Society, 1993: 643-657.
Force, Prevention and Education Committee of the Task. “A Best Practice: Using Social Media for Sexual Violence Prevention.” Minnesota Department of Education. Minnesota: Minnesota Department of Education, 2014. 1-23.
Kartini, R. A. Habis Gelap Terbitlah Terang. Djakarta: P.N. Balai Pustaka, 1963.
Margalit, Liraz. “The Psychology Behind Social Media Interactions.” Pschology Today. August 29, 2014. https://www.psychologytoday.com/blog/behind-online-behavior/201408/the-psychology-behind-social-media-interactions (accessed December 14, 2015).

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *