Hal-hal yang Perlu Lebih Banyak Dibahas Orang (di Blog)

Pernah nggak sih kamu merasa muak dengan tayangan tv di Indonesia? Aku sih pasti, setiap kali nonton. :))

Kalau nggak gara-gara ngekos, yang bikin aku jarang nonton tv, barangkali keningku udah keriput. Saking seringnya mengernyit protes.

Acara tv di Indonesia, kalau diperhatikan, masih lekat dengan elemen drama. Ada aja bagian-bagian yang sengaja memicu kita marah atau sedih berlebihan. Mulai dari acara siraman rohani, infotainment, acara musik, reality show, bahkan sampai program berita.

Kalau nggak drama, ada aja isu yang dibikin blunder dan dibahas berlebihan. Hmm… Kira-kira padatahu nggak stasiun tv apa yang kumaksud? :))

Padahal ya, ada banyak hal penting yang perlu kita perhatikan dan bahas. Semakin sering hal-hal penting ini dibicarakan, semakin besar peluang masalah itu terselesaikan.

Kok bisa?

Karena semakin sering dan banyak orang membicarakan, berarti semakin penting topik itu. Ketika semakin penting, maka orang-orang yang berhubungan langsung dengan topik itu merasa perlu melakukan sesuatu.

Untungnya nih, untungnya, tv bukan satu-satunya media untuk membicarakan isu-isu penting tadi. Dengan internet dan media sosial, isu-isu yang penting bisa kita bahas panjang lebar.

Media Sosial, My Luv

Terima kasih, mediasosial. Kau membantuku lepas  drama-drama irelevan di tv. Tak ada lagi terpaksa menonton sambil mengumpat dalam hati.

Ya memang sih, media sosial tak sepenuhnya lepas dari drama. Masih ada hal-hal absurd dan war yang tersempil di lini masa. Pun banyaknya karena logika tv dan drama buka cabang di media sosial.

Namun, setidaknya kontrol ada di tangan kita. Nggak suka? Tinggal skip. Males terlalu berisik? Tinggal mute. Gatel pengen komentar? Tinggal nulis.

Kita tak lagi jadi objek pasif. Kita adalah aktor aktif.

Awali dengan Membahas, Selesaikan dengan Mengubah

Kembali ke bahasan utama. Nyatanya, ada banyak contoh bagaimana bahasan media sosial bisa berdampak di dunia nyata.

Contoh jauh bisa diambil dari tagar #BringBackOurGirls. Tagar itu dipakai oleh teman-teman di Nigeria untuk memprotes pemerintahnya. Sebab, pemerintah dinilai lamban dalam membebaskan lebih dari 250 orang siswi yang diculik Boko Haram dari sekolahnya.

Setelah didesak oleh warganya sendiri, masyarakat internasional, dan tokoh-tokoh dunia — pemerintahNigeria akhirnya berkomitmen untuk membebaskan sandera. Padahal sebelumny amereka bungkam hingga dua minggu lamanya.

Saking masifnya gerakan ini, mereka bisa memobilisasi massa untuk memilih presiden baru yang lebih berkomitmen menyelesaikan kasus penculikan.

Kalau contoh itu terlalu jauh, kita juga bisa lihat gerakan lokal di Indonesia. Salah satunya gerakan cinta lingkungan berprinsip zero waste.

Kesadaran mengurangi plastik mendorong kita untuk mengubah kebiasaan hidup. Sedikit diantaranya adalah dengan membawa kantong belanja sendiri dan berhenti memakai sedotan plastik. Gaya hidup ini kemudian dijadikan peluang bisnis dengan totebag lucu dan sedotan stainless-nya.

Dua contoh kasus di atas membawa kita pada satu kutipan tahun 90-an yang masih relevan sampai sekarang.

Don’t hate the media, become the media – Jello Biafra

Ketika digunakan dengan tepat, media bisa memantik kita untuk berbenah dan berubah. Lagi, itu akan tercapai dengan bahasan-bahasan di media sosial.

Setelah paham dengan pentingnya bahasan di media sosial, kita merujuk pada pertanyaan penting selanjutnya:

Apa yang Perlu Lebih Banyak Dibahas?

Drama kehidupan memang lebih menarik untuk diulik. Namun, sudah saatnya memberikan porsi besaruntuk membahas persoalan yang memang penting.

Topik-topik penting memang terasa overwhelm awalnya. Bayangan soal kemiskinan, pengangguran, kerusakan lingkungan…rasanya terlalu berat untuk dibahas. Apalagi di blog.

Maka, kita bisa memecah topik-topik raksasa itu dalam bahasan remeh keseharian. Karena sejatinya masalah besar itu adalah puncak dari apa yang terjadi sehari-hari. Yang membuatnya rumit tak lain karena setiap masalah berkelindan dengan yang lainnya.

Jadi menurutku ada empat hal yang perlu lebih banyak kita bahas di media sosial:

Sustainable lifestyle

Gaya hidup ramah lingkungan sudah seharusnya kita adopsi.

Photo by Sylvie Tittel on Unsplash

Hanya saja, kita perlu ingat bahwa kebiasaan membawa totebag dan sedotan stainless hanya satu diantara sekian cara menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Selain itu, kita perlu mulai untuk kritis dengan banyak hal di sekitar kita.

Misalnya, memastikan untuk mengonsumsi produk-produk yang tidak melakukan tes terhadap binatang. Membeli produk yang tidak menggunakan minyak sawit kotor. Memilih produk yang menjanjikan pengembalian kemasan kosong.

Memastikan kopi/sayur/bahan pangan yang kita konsumsi tidak dibeli dari petani yang dibayar sangat murah. Sebisa mungkin mengonsumsi produk yang organik.

Kenapa? Karena pilihanmu itu berdampak besar terhadap kehidupan.

Ketik akamu membeli produk yang against animal-testing, kamu menyelamatkan hidup binatang-binatang yang terancam terluka dan mati sia-sia. Ketika kamu tidak membeli produk dengan minyak sawit kotor, kamu tidak ikut menyiksa orang utan, tidak membiarkan masyarakat di sekitar perkebunan dibayar murah, hingga tidak membiarkan anak-anak putus sekolah karena menjadi buruh petik.

Ketika kamu bisa mengembalikan kemasan kosong skincare, kosmetik, atau makananmu — kamu tidak ikut mengotori lingkungan dengan sampah.

Photo by Nandhu Kumar on Unsplash

Ketika kamu tak membeli produk hasil jerih payah yang dibayar rendah, kamu tak bertanggung jawab atas kemiskinan saudara-saudara petani. Ketika kamu mengonsumsi produk organik, kamu membantu petani kita menjaga lingkungan tetap alami.

Ada begitu banyak cara mengubah dunia, yang perlu kita lakukan adalah memberitahukan ke sebanyak mungkin orang di luar sana.

Review produk

Masih berhubungan dengan topik sebelumnya. Salah satu kunci gaya hidup ramah lingkungan adalah mengurangi konsumsi barang sekali pakai dan hal-hal yang sudah disebutkan sebelumnya.

Makanya, review produk menjadi hal yang perlu banyak kita bahas. Bukan review produk sponsor yang dibagus-bagusin lho ya.

Kita butuh review produk yang jujur. Review yang benar-benar bisa mengevaluasi kekurangan dan kelebihan suatu produk. Begitu, kita bisa terhindarkan dari salah beli dan kecewa.

Jangan sampai, kejadian salah beli membuat kita impulsif beli barang baru. Atau jangan-jangan membuat kita membuang produknya.

Kalau begitu kan, sama artinya kita nyampah 🙁

Sebetulnya ada begitu banyak topik menarik yang penting dan perlu dibahas. Hanya saja dua hal di atas rasanya masih belum banyak diangkat, terutama di Indonesia.

Kalau kamu tertarik nggak dengan bahasan gaya hidup ramah lingkungan? Apa langkah yang dirimu lakukan untuk menjaga lingkungan?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *