Apa SJW itu? Sebuah Konter Argumen (Bagian 3-Habis)

social justice warrior woman

Tulisan ini adalah seri terakhir dari konter argumen mengenai SJW. Tulisan ini memuat 6 konter argumen dari 12 konter argumen yang penulis tawarkan. 


7. SJW = self-righteous

Sebuah perdebatan di jagad twitter mempertemukan seorang dokter dan awam. Mereka berdebat soal gangguan mental. Si awam berdebat dan mendukung argumen dengan sebuah artikel populer mengenai gangguan mental dan sebuah series Crazy Ex-Girlfriend.

Sayangnya, saya tak berhasil menemukan jejak perdebatan yang dimaksud. Hingga saya tak bisa berkomentar banyak soal itu. Tapi, ada baiknya, untuk tak kelewat mengeneralisir SJW dengan klaim ‘paling benar’. Toh, artikel yang dimaksud sebatas ingin mengenalkan cara lain memahami gangguan mental kepada orang-orang yang terlanjur salah kaprah.

8. Tidak memiliki kemauan yang jelas

Mereka ingin pemerintah menjamin program-program kesejahteraan masyarakat, tapi nggak mau pajak tinggi? Terus duitnya darimana, ny*t?”

Pajak berdasarkan jumlah penghasilan. Pajak dari badan usaha. Atau malah memberi pajak penyedia informasi, yang selama ini mengakali perundangan supaya tidak membayar pajak. Karena mereka sebetulnya beraset besar, mengambil keuntungan dari kita semua, tapi menolak untuk ikut serta dalam membangun sumber daya.

9. Tidak ada aksi

SJW dituduh berkelit, tak mau membalas dengan kekerasan, ketika sebuah ormas fasis mengamuk dan merusak fasilitas umum. Alasannya, SJW tak mau dituduh sama dengan si ormas yang dimaksud. Padahal bagi Hans, kekerasan diperlukan untuk orang yang hanya mengerti ‘bahasa’ kekerasan.

Seketika mendengar argumen itu, saya teringat ucapan Mahatma Gandhi, “An eye for an eye leaves the whole world blind.” Kekerasan yang dibalas dengan kekerasan belum tentu bisa jadi jalan keluar. Yang pasti, ia menciptakan konflik yang lebih rumit dan lebih sulit diurai.

Dengan percaya pada kekerasan untuk penyelesaian masalah, kita abai pada hal lain yang mendasari kekerasan terjadi. Bisa jadi, anggota ormas itu sudah lama merasa tersingkir dari kota. Entah karena latar belakang pendidikan atau ekonomi. Karena merasa tak didengarkan, menjadi bagian dari sebuah ormas membuat mereka merasa lebih kuat dan penting.

Lalu bagaimana mengatasi mereka? Tak ada cara lain selain dialog dan memberi mereka kesempatan untuk hidup lebih baik dengan pendidikan dan akses ekonomi.

10. Mengklaim progresif, padahal cinta status quo

Tak melulu orang yang cinta status quo tidak progresif. Apalagi ketika konteksnya soal pembangunan.

Mencari ikan dengan kapal ‘tradisional’ (saya tak pernah menyukai terma itu), bukan hal yang salah. Ada konteks lokalitas yang barangkali belum kita pahami. Memberi mereka kapal baru, mungkin bisa jadi solusi untuk jangkauan yang lebih luas dan tangkapan yang lebih banyak. Akan tetapi, lagi-lagi, bisa saja tak sesuai dengan konteks lokalitas dan budaya setempat.

abandoned ships in india

Bantuan internasional sering kali menjadi bukti untuk kasus yang terakhir. Bantuan internasional berupa kapal ke India dan Thailand justru menyebabkan konflik antarnelayan. Karena nelayan memiliki kapal masing-masing, mereka berkompetisi untuk mendapatkan tangkapan terbanyak. Tidak ada yang ingin bekerjasama seperti sedia kala.

Toh, kalau dilihat dari sisi lingkungan. Penggunaan kapal tradisional justru memperkecil kemungkinan penangkapan besar-besaran yang tidak ramah lingkungan. Lebih banyak soal ini, tonton film Rayuan Pulau Palsu.

11. Menggonta-ganti isu

SJW dianggap tidak memiliki perhatian pada satu isu spesifik. Ia sering melompat dari satu isu ke isu lainnya sesuai dengan tren. Entah untuk motivasi funding atau sekedar ikut-ikutan.

Jujur, awalnya saya juga berpikir demikian. Namun, dengan berjalannya waktu saya sadar bahwa satu individu pasti bersinggungan dengan banyak aspek sosial dalam hidupnya. Mulai dari makanan (ketahanan pangan, kesejahteraan petani, isu agraria, impor bahan makan), identitas diri (suku, agama, ras, orientasi seksual), kekerasan (perundungan, kekerasan verbal, emosional, seksual), pendidikan (mahalnya harga pendidikan, kecilnya peluang kerja) dan banyak lagi.

Maka dari itu, saya tak melihat ada yang salah dengan bergonta-ganti isu. Ketika satu orang fokus pada isunya sendiri tanpa bersolidaritas dengan isu lainnya, ia tak ubahnya manusia yang berbicara dengan diri sendiri.

Pun, ketika sistem demokrasi dan hitungan angka masih berlaku, solidaritas antarisu masih dibutuhkan. Tentu saja tujuan lebih besarnya untuk menekan pemerintah agar bertindak sesuai ‘kepentingan umum’.

12. Aktivis sejati turun ke lapangan

Ini yang betul-betul membuat saya mengernyit. Mengatakan aktivis sejati adalah mereka yang turun ke lapangan, tak ubahnya mengelu-elukan apel dan menjelek-jelekkan jeruk. Tidak ada hubungannya sama sekali.

Keduanya memiliki tujuan dan tantangannya masing-masing. Akan tetapi tidak ada yang lebih penting. Aktivis lapangan, tentu saja berjasa mengadvokasi masyarakat secara langsung. Di mana, ada banyak risiko dan tantangan yang dihadapi. Mulai dari penolakan, konflik kepentingan di lapangan, dsb.

Di sisi lain, aktivis media sosial berusaha meningkatkan awareness masyarakat urban mengenai hal yang diperjuangkan aktivis lapangan. Tanpa aktivis jenis ini, kita takkan pernah tahu ada upaya advokasi di suatu tempat. Kita tak pernah tahu juga bahwasanya semua orang bisa terlibat dengan berbagai cara untuk membantu advokasi itu. Aktivisme ini tentunya lebih rentan pada skeptimse orang-orang macam Hans David. Namun, skeptisme yang sama takkan mengerdilkan semangat yang dibawa.

 

Itu dia 12 hal yang perlu kita pikirkan ulang soal SJW. Saya takkan mengklaim tulisan ini sepenuhnya benar. Karena toh, ini hanya konter argumen untuk menyeimbangkan cara pandang.

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *