Kesalahan Fatal yang Kulakukan Selama Skripsi

so many books so little time

Temanmu satu per satu mulai meninggalkan kampus. Keluargamu mulai sering menanyakan kapan lulus. Kamu sadar, skripsi jadi obsesi semua orang yang harus dirimu tebus.


Panik kurasakan. Ketika satu satu per satu temanku mengunggah foto sehabis sidang pendadaran. Pertanyaan ‘gimana skripsi?’ juga semakin sering dilontarkan. Entah untuk melihat progres teman atau sekedar untuk mengisi ruang bicara.

Bukannya tak suka. Hanya saja, ada rasa tertekan dan ragu yang sulit diabaikan. Apalagi ketika kamu ada di lingkungan yang ambisius dan kompetitif. Pertanyaan semacam: Apa bisa aku menyelesaikannya? Bagaimana kalau topik skripsiku tidak penting? Bagaimana kalau tulisanku ditertawakan dosen? Bagaimana kalau aku jadi yang terakhir lulus di angkatan? Terus-menerus berulang.

If you continuously compete with others, you become bitter. But if you continuously compete with yourself, you become better.”

Karena lelah terus ditanyai dan merasa terbebani, menyelesaikan skripsi menjadi suatu obsesi.

Sayangnya, obsesi sering kali mencelakakan. Alih-alih menikmati segala prosesnya, aku begitu terburu-buru mengerjakan. Lalu, ketika tak berhasil memenuhi target pribadi – aku mengalami mental breakdown. Kalau sudah begitu, berkubanglah diriku ke dalam lingkaran: makan berlebih-menonton tv series tak berhenti-menangis-dan tidur.

Baru setelah 8 bulan proses mencari topik dan mematangkannya, aku mengajukan judul skripsiku ke dosen. 19 Juni 2017, namaku bersama judul skripsi dibubuhi tanda tangan dosen pembimbing. Selanjutnya, butuh dua bulan untuk memperbaiki proposal penelitianku. Saking lamanya tak melaporkan progres, aku sempat dilupakan oleh pembimbing. Dalam sebuah percakapan makan siang:

Dosen   : Imas, angkatan berapa?
Aku       : Angkatan 2013, Mas.
Dosen   : Oh, sudah lulus?
(hening panjang. Dosen-dosen lain dan teman-teman saling berpandangan)
Aku       : Saya… dibimbing njenengan, Mas.
Dosen   : Oh iya?
(semua tertawa terbahak-bahak)

Bulan Agustus 2017, diriku baru bisa sidang proposal. Long story, short. Di bulan Desember 2017, aku menghadapi sidang pendadaran. Yeay!

Berhadapan dengan skripsi selama 14 bulan, membuat cara pandangku soal skripsi berubah. Skripsi tak lagi sekedar sesuatu yang harus diselesaikan. Akan tetapi, jadi proses untuk mengenali dan memahami diriku sendiri. Trial and error yang kulakukan membuatku sadar mana hal yang mendorongku produktif dan mana yang tidak.

Di antara banyak hal yang kupelajari, ada 4 kesalahan fatal yang kuharap tak kulakukan:

Berhenti melakukan apa yang kusuka

Sejak Oktober 2016, aku berikrar untuk mengurangi segala kesenangan yang bisa menghambat skripsi. Mulai dari baca novel, menulis resensi, sampai merajut.

Itu karena aku sangat percaya pada prinsip, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Prinsip yang kuanggap sukses membawaku ke bangku kuliah. Jadi, tak ada salahnya kalau prinsip itu harus kuterapkan sekali lagi demi gelar sarjana, pikirku.

Nyatanya, tidak begitu.

Karena tak bisa melakukan hal yang kusuka, aku hampir selalu mengerjakan skripsi dalam keadaan tegang dan stres. Padahal kondisi itu terbukti mematikan kreativitas. Alhasil, aku sulit mengembangkan ide skripsiku dan progres berjalan sangat lambat.

Hingga pada satu titik, aku kembali membaca beberapa novel. Tujuanku murni untuk refreshing. Hasilnya, justru aku bisa menulis resensi tanpa mengabaikan skripsi. In fact, blog ini juga jadi pelarianku ketika buntu skripsian. Pelarian yang kemudian membuatku lebih produktif.

Tahu begitu kan, nggak perlu puasa baca novel atau merajut.

Berhenti bertemu teman-teman

Selama mengerjakan skripsi, aku memotong porsi bertemu dengan teman-teman. Alasannya dua: ingin fokus skripsi dan paranoid kalau ditanyai progresnya.

Kesalahan ini baru kusadari ketika menginjak bagian analisis. Waktu itu aku merasa begitu suntuk. Dosen mengharuskan aku revisi, tetapi aku tak betul-betul paham bagaimana aku merevisinya. Di titik itu, aku bertemu dengan teman-teman lama. Kebanyakan dari mereka sudah lulus dan bekerja.

having conversation with friends lead to happiness
Ngobrol dengan teman ternyata bisa mengurangi stres.

Tak seperti yang kubayangkan. Obrolan terasa begitu hangat. Pertanyaan soal skripsi hanya terdengar sekali dan tak muncul lagi setelah kujawab, “Ya begitulah. Doakan saja.” Sisanya, obrolan mengalir lepas. Dari kabar masing-masing ke hal-hal yang lebih spesifik. Seperti optimasi web, berbagi rekomendasi content creator favorit, dan isu-isu terkini.

Selepas bertemu teman-teman, aku merasa sangat bersemangat. Ada banyak hal menarik yang kudapatkan yang membuatku termotivasi untuk segera keluar dari yang ‘itu-itu saja’. Selepas pertemuan, saya membuka laptop dan melanjutkan revisi skripsi. Anehnya, kebuntuanku hilang dan aku menemukan perspektif baru untuk menggarap skripsi.

Meremehkan sinyal-sinyal tubuh

Obsesi menyelesaikan skripsi membuat saya betah berhadapan dengan laptop hingga berjam-jam. Bukan saja mata jadi terasa perih. Aku juga jadi punya masalah dengan bagian bahu dan tulang belakang. Baru kemudian kutahu, kalau itu semua karena efek duduk terlalu lama. 

beverages beside laptop prevent deyhdration

Selain itu, aku juga sempat meremehkan perkara minum air putih dan makan teratur. Padahal kalau sudah dehidrasi, efeknya uring-uringan, pusing, demotivated sampai kulit dan rambut super kering. Belum lagi soal makan nggak teratur yang bikin maag. Ini agak kacau. Karena sejak ketahuan punya sakit maag, aku menggendut dengan cepat. Sebentar-sebentar harus makan, kan?

Kemudian, aku mencoba melakukan kebiasaan-kebiasaan kecil: mondar-mandir kamar atau beberes barang setelah duduk agak lama; memastikan gelas air putih atau the selalu terisi di samping laptop; dan melatih diri agar tidak gampang lapar.

Hasilnya, aku jarang sakit. Karena setiap kali tubuh memberi sinyal, aku langsung meresponsnya. Tak perlu menunggu sakit parah untuk diobati. Bahkan, aku sudah tak pernah minum obat maag akibat membiasakan ‘makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang’. Plus, berat badanku turun 1,5kg dalam sebulan~

Menganggap semuanya akan sesuai rencana

Pertama kali konsultasi skripsi, aku diminta dosen untuk membuat tenggat pribadi yang ditempel di tembok kamar. Supaya aku punya target dan tidak terlalu lama mengerjakan. Apalagi, aku menargetkan diwisuda bulan November yang mana itu mepet banget.

Kususun tenggat dengan ketat. Untuk pengambilan data dan pengolahan, kutargetkan selesai dalam seminggu. Sekarang kalau lihat kertas target itu cuma bisa nyengir. Malu. Kalau dipikir, mana ada pengambilan data dan pengolahannya dalam waktu seminggu?

planning with bullet journal

Betul saja. Ketika mengerjakan, aku baru tahu kalau ada kebijakan baru yang membatasi pengambilan data berkaitan dengan skripsiku. Bisa ambil data, tapi prosesnya manual dan memakan waktu lama. Itu yang mengacaukan tenggat-tenggatku ke belakang. Untuk pengambilan data saja, aku butuh waktu dua bulan. Sebulan sisanya aku fokuskan untuk mengolah dan menganalisis data.

Dari situ aku belajar, tidak ada yang salah dengan mulai lebih awal dalam mengerjakan apapun. Karena kita nggak akan pernah tahu, distraksi yang menghadang di depan. Bisa jadi soal pengambilan data, dosen yang sibuk, mental breakdown, musibah atau yang lainnya.

 

Empat kesalahan selama skripsi tadi, jadi satu pelajaran berharga buatku. Tuntutan (apapun bentuknya) jangan sampai membuatku lupa untuk tetap menyayangi diri sendiri. Hal-hal kecil yang bikin bahagia, jangan sampai dilewatkan. Toh, itu demi kelancaran dan hasil yang memuaskan pula. Intinya, hidup memang harus seimbang ya.

Buat dirimu yang masih berjuang, semangat! Take your time. Semua akan selesai pada waktunya. 😉

You may also like

18 Comments

  1. I feel you and still. Masih berkutat mengerjakan tugas akhir. Rasanya berat banget buat keluar dari perguruan tinggi ini dengan gelar sarjana. Sekarang sudah di masa-masa akhir dan malah jadi ragu…. btw, congratssss udah lulus!

    1. Makasiiih intan 😀 The tricky part is when it’s almost done, emang. I feel you. Tetep semangat, Intan! Jangan kasih kendor. Kebebasan di depan mata~

  2. anggap aja skripsi itu jadi pintu kamu ke dunia profesional setelah kmu lulus dan mulai kerja, karena skripsi itu cuma bagian kecil dari permasalahan kehidupan setelahnya. good luck ke depannya ya imas! 🙂

  3. Oh my, baper. I mean, keinget skripsi aja. Saya juga angkatan 2013, mau pendadaran juga. Dan, tiba-tiba pendadaran diundur. Ugh, sakit banget.

  4. kalau ane dulu nyusun di omelan mulu sama dosennya, karena katanya masih belum direvisi juga, padahal udah begadang revisinye, tapi akhirnya selesai juga dengan penuh perjuangan

  5. Dan semua masalah yang ditulis, terjadi padaku juga. Apa semua mahasiswa. Skripsian harus gitu ya kak?
    Takut topik yang kita teliti itu gak penting2 banget dan membuat teori kita gak kuat. Haduuhhh

    1. Hai Alfha! Nggak harus kaya gitu sih. Cuma ngeliat pengalaman teman-teman yang lain, kurang lebih memang mirip. Tapi nggak perlu overthinking lah. Kadang yang bikin berat itu karena sudah menganggap diri sendiri nggak mampu. Padahal, pasti bisa kok. Dinikmati aja prosesnya. Semangat! Semoga lancar ya Alfha 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *