Mencicipi Kehidupan Komunis ala Orwell

Kini, komunisme sayup-sayup terdengar. Ia tak pernah dengan lantang diucapkan, bahkan di ruang-ruang kelas. Ia menjadi topik pinggiran yang tak umum dibicarakan. Ia juga digambarkan lamat-lamat, ibarat sketsa yang tak pernah selesai dikerjakan.

Ketika ditanya tentang komunisme, kebanyakan orang tua bakal menjawab: komunis itu atheis. Sebagian yang cukup toleran akan menjawab, ia tak lebih dari angan-angan tentang kesejahteraan.

Apa boleh dikata, begitulah yang terjadi di Indonesia. Di negeri di mana ia sempat menjadi mimpi buruk pasca kemerdekaan. Ia digambarkan sebagai musuh oleh yang membenci. Sebagai cita-cita bagi orang yang mengagumi. Dan dianggap alternatif untuk mereka lebih nyaman berdiri di antara keduanya.

Komunisme dalam Pikiran Orwell

Tafsiran komunisme yang lentur disambut George Orwell dengan menampilkan versinya sendiri. Orwell mewujudkan tafsirannya tersebut dalam novel setebal 388 halaman dengan judul 1984. Novel ini mengisahkan lelaki usia 30-an bernama Winston yang berusaha menjadi warga negara yang baik di Oceania, sebuah negara yang menerapkan sistem totalitarianism sekaligus komunisme. Winston berusaha menaati segala aturan Partai, termasuk untuk
menjaga pikirannya dari niat menyempal. Padahal, jauh di dalam hati dan pikirannya Winston sangat antipati terhadap kediktatoran yang negaranya terapkan. Selama bertahun-tahun, Winston menyimpan pikirannya sendiri.
Hingga akhirnya, ia menemukan Julia. Seorang gadis enam belas tahun, tokoh Liga Muda Antiseks, seorang fanatik yang menyimpan perasaan padanya. Tidak disangka, ternyata Julia juga memendam rasa antipati yang sama terhadap Partai. Pertemuan keduanya mengawali usaha mereka berdua untuk bekhianat, membuka akses terhadap kelompok separatis rahasia – Persaudaraan.

Novel ini dibuka Orwell dengan teramat sederhana:

Hari yang cerah dan dingin pada April, dan jam-jam dinding berdentang tiga belas kali. Winston Smith, dagunya dibenamkan ke dada dalam usaha menghindari angin buruk, menyelinap cepat lewat pintu-pintu kaca Victory Mansions meski tak cukup cepat untuk mencegah segulung debu masuk bersamanya. (Halaman 1)

Namun, dengan begitulah Orwell berusaha mempertegas ide dan alur cerita yang memang sederhana. Orwell berusaha menggambarkan kehidupan orang-orang di negara komunis. Bayangan yang mungkin juga samar didapatkan masyarakat Barat pada eranya.

Alur ceritanya bisa dikatakan sederhana, selain karena mudah ditebak juga tidak terlalu banyak konflik yang dimunculkan. Jika dibandingkan dengan Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang begitu dinamis, novel Orwell terasa datar-datar saja. Hal ini mungkin saja karena Orwell banyak mengangkat pergulatan pikiran dan hati si tokoh utama. Sedangkan Minke, si tokoh utama Bumi Manusia tidak lagi hanya mengalami konflik batin tetapi juga fisik dan pikiran.

Walaupun begitu, justru kepiawaiaan Orwell dalam bercerita justru semakin jelas. Memilih alur yang biasa-biasa saja, Orwell seperti memilih fokus pada detil yang mendukung cerita. Ia mereka penyebutan waktu, teknologi pengintai, bahasa resmi hingga mekanisme kerja Partai. Detil seperti inilah yang bisa jadi membuat anda terkejut dan berdecak kagum selama membaca.

Di negeri yang dibayangkan Orwell, penyebutan waktu pun diatur. Seperti paragraf yang sebelumnya dicuplik, waktu disebut dalam rentang 24 jam. Tidak ada jam 1 siang, yang ada jam 13. Di sepanjang buku ini, kita juga akan akrab dengan teknologi semacam televisi yang tidak hanya bisa menyiarkan informasi, tetapi juga menerima informasi. Dibayangan saya, teknologi mirip televisi yang juga cctv.

Orwell juga sedikit menyinggung bahasa resmi Oceania – Newspeak. Bahasa ini sangat aneh, alih-alih menambah kosa kata bahasanya secara berkala, Newspeak justru berusaha mengurangi kosa kata bahasa. Kebanyakan yang dikurangi berupa kata kerja, dan digantikan dengan kata benda. Newspeak berusaha menghilangkan kontradiksi, dengan hanya memakai satu kata sifat secara konsisten. Tidak ada baik dan buruk, yang ada baik dan tidak baik. Kata yang merujuk pada kondisi lebih atau ekstrim juga dihapus, sehingga untuk merujuk pada suatu kondisi lebih baik kata yang digunakan adalah pluscold (sangat dingin) atau doublepluscold (amat sangat dingin). Bahasa Newspeak diterapkan Partai untuk menyempitkan lingkup pemikiran, hingga pada akhirnya niatan untuk berkhianat hilang. Karena tak ada kata yang bisa mengungkapkannya. Detil terbaik yang digambarkan Orwell, tentu saja adalah mekanisme cara kerja Partai. Gambaran Orwell sangat sistematis dan di luar bayangan. Bagian ini tentunya harus anda baca sendiri.

Melalui detil-detil yang ia gambarkan, terlihat ketidaksukaan Orwell pada totalitarianisme. Walaupun rasa tidak suka Orwell begitu berjarak, dan tidak membabi buta. Ia lebih banyak mewujudkan ketidaksukaanya pada pertanyaan-pertanyaan di benak Winston. Dan dengan begitu, pembaca berusaha ditempatkan sebagai pihak yang netral dan ikut terus mempertanyakan.

Selain memanjakan pembaca dengan detil-detil yang tidak terduga, Orwell juga membuktikan keahliannya dalam ilmu sosial politik dengan menyertakan konsep-konsep politik secara tidak langsung. Orwell sempat menyebut
tradisi berpikir sosialisme paling awal yaitu sosialime utopis. Sosialisme ini menekankan pada pentingnya ide atau pikiran manusia dibandingkan dengan hal yang di luar (material).

Realitas itu letaknya di dalam batok kepala. (Halaman 327)

Di bagian lain, Orwell menyinggung konsep anomie Emile Durkheim.

“Mustahil membangun peradaban dengan dasar ketakutan dan kebencian dan kekejaman. Itu tidak akan bertahan.”
“Mengapa tidak?”
“Itu tidak akan punya daya hidup. Akan terjadi disintegrasi. Masyarakat seperti itu akan bunuh diri.” (Halaman 332)

Yang lebih penting, melalui buku ini Orwell mengajak pembaca kembali ke persoalan politik yang ada di sekitar kita. Ia menekankan bahwa persoalan politik pada dasarnya bersumber dari kelas sosial dalam negara. Sangat sedikit yang diakibatkan oleh persoalan di luar negara.

Buku ini bisa dikatakan merupakan deskripsi komunisme yang menarik untuk dibaca. Tentu karena detil dan konsep-konsep yang tersebar di sepanjang cerita, membuatnya bukan sekedar gambaran yang didasarkan atas kebencian.

Buku ini cocok bagi anda yang baru berkenalan dengan terma komunisme, dan ingin tahu lebih banyak tentangnya. Tentu buku ini hanya akan cocok sebagai pengantar, dan perlu diingat buku ini tak lepas dari kepentingan Barat pada masanya.

Apresiasi patut diberikan pada Landung Simatupang, yang telah menerjemahkan 1984. Harus diakui, menerjemahkan novel ini bukan hal yang mudah. Karena banyak kosa kata yang kontradiktif, dan tidak umum digunakan dalam
Bahasa Indonesia.

Nilai: 4/5
Judul : 1984
Penulis : George Orwell
Penerjemah: Landung Simatupang
Penerbit: PT. Bentang Pustaka
ISBN: 978-602-291-003-9
Cetakan: Kedua, Mei 2014
Jumlah halaman: 390
Harga: Rp 54.400 (Mizan Bookstore)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *