Larung – Ayu Utami

Diantara banyak hal yang patut dipuji dari buku ini, saya pilih kepiawaian penulisnya dalam mengekploitasi detil suasana. Ada kengerian yang membuat saya hampir tak bisa membedakan antara nyata dan khayal.

“Tapi mulutnya seperti ubur-ubur, mengembang dan mengatup dalam gelombang pelan, menyimpan racun. Lalu aku melihat, kata-kata kotor muntah dari perutnya, dari hatinya yang telah mati dijalari sirosis, seperti cairan jorok yang penuh gumpalan bekas makanan dan gelembung gas bau, menyemburi seragam bersih perawat itu sehingga ia terjengat satu ubin ke belakang, hampir terjerembab…………..Lihatlah kaki-kaki kurus gadis itu gemetar, seperti menahan kencing, seperti merasakan hawa neraka dari suhu badan perempuan tuaku yang luka dan perkasa. Lalu, ketika amarahnya dari rasa sakit yang panjang itu telah selesai, di lantai tersisa air liur yang asam dan lekat seperti ampas persetubuhan.” – halaman 11.

 

*notabene, yang pojok atas itu cuma properti pinjam dari @afrizalzulkarnain.

Continue Reading

Saman – Ayu Utami

Sebagian cerita layak tak memiliki akhir. Bukan semata ingin membelot dari pakemnya. Tapi bukankah dunia memang tempat cerita-cerita berseliweran: saling berbalas, melengkapi, atau malah berbantahan? Maka, cerita paling realis baiknya tak memiliki akhir. Ia adalah refleksi dari dunia yang begitu riuh, tak beraturan – anarkis – dengan cerita.

Sejauh ini, Saman lah yang bisa mewakili persepsi saya tentang cerita yang ideal. Ayu Utami menyusun plotnya dengan kompleks, tak kalah dengan karakter yang ia ciptakan. Dua unsur itu saling berkelindan, dan berpusat pada Saman, seorang mantan pastur yang kemudian menjadi aktivis perkebunan. Tapi di luar cerita menarik Saman, ada banyak tokoh dengan kompleksitas jalan pikir dan masalahnya masing-masing. Mereka membagi ceritanya, saling berbalas, mengomentari dan berbantahan. Yang justru membuat ruang yang cukup bagi pembaca untuk menyelesaikan teka-teki cerita.

Sepintas saya takjub karena buku setipis ini, bicara begitu banyak hal: kekuasaan, perlawanan, hak asasi, agama, gender dan seks. Topik yang diusung pun seolah tak kadaluwarsa walaupun dibaca hampir dua dekade selanjutnya. Dan yang tak kalah membuat takjub, semua itu disampaikan tanpa abai dengan hal-hal teknis. Tanpa menggurui. Begitu rapi. Selalu ada kejutan sampai akhir.

Continue Reading

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Yusi Avianto Pareanom mengajak kita menemani Raden Mandasia, Sungu Lembu dan Loki Tua bertualang menuju Kerajaan Gerbang Agung. Menjalankan misi gila: mencegah pecah perang dua kerajaan besar di dua belahan dunia yang berbeda. Mereka mengisi jarak dengan hal-hal gila, dan menjalankan misi dengan lebih gila lagi. Hanya dalam 450 halaman, perasaan pembaca dibuat teraduk-aduk. Sedih dan marah. Senang dan geli. Penasaran, takjub dan jijik di satu waktu. Itu semua karena ada terlalu banyak adegan menarik dalam satu buku. Semuanya dijahit begitu rapi, tanpa ada benang putus. Tak ada adegan yang sia-sia atau tokoh yang tinggal lalu. Pun tak ada satu bagian yang lebih menonjol antara satu dengan yang lain. Semuanya terjalin sebagai kesatuan.

Lagi, buku tipis ini banyak menyinggung soal yang tak jauh dari kehidupan kita. Soal budaya baca-tulis; kekuasaan; perang atau damai; dan yang tak boleh terlupa…soal perut dan bawahnya. Semua disinggung tanpa ada ego si penulis untuk tampil. Seolah penulis tidak pernah ada, dan si tokoh menulis kisahnya sendiri. Dan layaknya sebuah dongeng tentang perjalanan. Buku ini tak sekedar soal memperpendek jarak hingga sampai ke suatu tempat. Tapi juga soal bagaimana jarak mengubah manusia dari satu pemahaman ke sebuah kesadaran baru.

Continue Reading

Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

“Kalau sebagian dari diriku sudah menjauhi teman-temanku dulu karena tidak ada satu pun dari mereka yang sepaham denganku, aku masih coba untuk menemani diriku sendiri. Aku meminta diriku untuk mempercayai sesuatu. Diriku bilang segalanya palsu – bahkan sahabat, bahkan kekasih, bahkan keluarga. Lantas, apa aku masih bisa mempercayai sesuatu? Apa diriku bisa mempercayainya – atau aku hanya akan terus gagal meyakinkan diriku sendiri bahwa ada aku yang bisa dipercayai sepenuhnya oleh diriku?

Aku bisa berbicara dengan orang lain. Namun aku bahkan tidak mampu berbicara dengan diriku sendiri. Diriku yang begitu kaku, bersembunyi di pojok, dan tidak pernah mau mendengarkan kata-kataku.

Aku tidak tahu sejak kapan diriku terbagi menjadi dua bagian. Atau mungkin lebih. Namun, aku sungguh membenci bagian dari diriku yang tidak pernah mau bersahabat denganku.

Sebagian dari diriku tidak memiliki seorang pun sahabat, menolak setiap yang datang dan mengsusir yang singgah.

Meski aku berpikir aku mampu bersahabat dengan diriku yang pemilih itu, tetapi tidak pernah bisa bagian dari diriku itu menyambut tali persahabatan yang kuulurkan. Padahal kami tinggal dalam satu tubuh, berbagi napas yang sama, tetapi separuh bagian diriku tidak pernah mampu menerima kehadiranku. Bahkan ketika aku menangis, sesuatu dalam diriku bekerja semakin keras untuk membuat tangisku tersampaikan semakin laung.” – halaman 214-215.

Continue Reading