Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Yusi Avianto Pareanom mengajak kita menemani Raden Mandasia, Sungu Lembu dan Loki Tua bertualang menuju Kerajaan Gerbang Agung. Menjalankan misi gila: mencegah pecah perang dua kerajaan besar di dua belahan dunia yang berbeda. Mereka mengisi jarak dengan hal-hal gila, dan menjalankan misi dengan lebih gila lagi. Hanya dalam 450 halaman, perasaan pembaca dibuat teraduk-aduk. Sedih dan marah. Senang dan geli. Penasaran, takjub dan jijik di satu waktu. Itu semua karena ada terlalu banyak adegan menarik dalam satu buku. Semuanya dijahit begitu rapi, tanpa ada benang putus. Tak ada adegan yang sia-sia atau tokoh yang tinggal lalu. Pun tak ada satu bagian yang lebih menonjol antara satu dengan yang lain. Semuanya terjalin sebagai kesatuan.

Lagi, buku tipis ini banyak menyinggung soal yang tak jauh dari kehidupan kita. Soal budaya baca-tulis; kekuasaan; perang atau damai; dan yang tak boleh terlupa…soal perut dan bawahnya. Semua disinggung tanpa ada ego si penulis untuk tampil. Seolah penulis tidak pernah ada, dan si tokoh menulis kisahnya sendiri. Dan layaknya sebuah dongeng tentang perjalanan. Buku ini tak sekedar soal memperpendek jarak hingga sampai ke suatu tempat. Tapi juga soal bagaimana jarak mengubah manusia dari satu pemahaman ke sebuah kesadaran baru.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *