Menolak Frekuensi

“Kamu tahu kenapa relasi ibu-anak bisa sangat-sangat kuat?”, tanya laki-laki itu sambil bersedekap, menyudahi santap siangnya.

“Hem?”, balasku sekenanya, agak sebal karena sesendok nasi goreng harus berhenti tepat di depan mulut, “emang kenapa?”, jawabku.

“Secara metafisika, manusia itu terdiri atas atom-atom”, kalimatnya tak selesai – matanya mengawang, mencoba merevisi apa yang baru saja ia katakan, “baiklah. Aku ulangi”, ia memperbaiki posisi duduknya – menegakkan badan, melemaskan kedua tangannya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangnya dariku.

Refleks, aku juga melakukan hal yang sama. Memperbaiki posisi dudukku untuk lebih mudah menghadapnya. Meletakkan sendok kosong yang sebelumnya menyorongkan nasi goreng ke perut.
Mendorong piring sedikit menjauh dari hadapanku dan menggantinya dengan segelas besar es cokelat yang baru sedikit kuminum. Lalu kembali kutatap matanya.

“Manusia terdiri atas organ. Organ terdiri atas jaringan. Kamu pasti tahu lah”, memberi penekanan tanpa harus kujawab, “jaringan terdiri atas sel. Sel terdiri atas atom.”

Aku mengangguk.

“Nah, atom-atom ini saling berbenturan untuk saling berhubungan. Membentuk sel-sel tadi”, jelasnya sambil memukul-mukulkan kedua tangannya yang mengepal, “benturan itu membuat frekuensi. Frekuensi anak dan ibu sama. Maka mereka selalu punya relasi yang kuat. Ibu selalu punya feeling tentang anaknya, dan sebaliknya.”

“Aaaaaaaa…..”, jawabku takjub tanpa memikirkan kalau mungkin ekspresiku terlihat seperti anak 5 tahun yang pertama kali ke toko mainan.

“Bahkan, ketika keduanya berjauhan.”

“Serius?”

“Ya. Ia tak terbatas pada medium. Kapan pun dan dimana pun”, ia menghela nafas,“jadi secara metafisika, intuisi, feeling, telepati dan lainnya bisa dijelaskan.”, katanya menutup penjelasan.

“Sebentar. Ini juga berlaku untuk pasangan hidup kah?”

Ia tersenyum.

“Jadi sebenarnya selama ini kita mencari orang dengan frekuensi yang mendekati dengan kita. Atau kalau beruntung, yang sama dengan kita?”, tanyaku bersemangat.

“Exactly.”, ia tersenyum puas.

Mataku menyipit, terdorong oleh pipi yang juga disunggi bibir – tersenyum.

Jadi selama ini kita menolak frekuensi.

“Ya… Jadi selama ini kita menolak frekuensi.”, ia tersenyum sambil mencodongkan badannya ke arahku.

Tawaku pecah.

 

 

Juli 2015.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *