Sesuatu tentang Bunga

“Jadi, kamu lebih suka bunga plastik? Aneh.”

Bagiku, tidak ada yang salah dengan bunga plastik.

Setidaknya, ia tak meminta seorang ibu tua terjaga di pagi buta, mendaki bukit terjal untuk memetiknya. Ia tak memburu-buru ibu tua mengantarkannya ke pasar terdekat, untuk dirangkai bersama secarik rayuan cinta. Diberikan pada yang tersayang hanya untuk dipirsa sementara. Dan yang terpenting, kembang plastik takkan mengkhianati usaha keras ibu tua dengan mati hanya dalam beberapa hari. Ia abadi, dan sempurna walau dimakan masa.

Sempurna? Selamanya?

Jeda panjang dan mataku mulai mengawang. Lelaki di depanku sadar, aku sendiri mulai terusik dengan jawaban yang kuberikan.

***

Aku suka bunga plastik karena dengan begitu orang tak perlu meminta orang bersusah payah membahagiakanku. Aku tak perlu meminta si ibu tua menghabiskan hari demi hari untuk terbangun di pagi buta; mendaki bukit terjal dan terburu-buru ke pasar. Demi bunga.

Tapi aku terus mengawang. Kaki kananku sedari tadi terus bergerak tak nyaman. Tanda ia tak sepaham, walaupun jawaban mengapa belum ditemukan.

“Kenapa?”, tanya akhirnya keluar. Setelah sekian lamamenungguku yang terdiam, terbawa lamunan.

Aku masih saja bungkam.

Entah mengapa, sempurna dan selamanya bukan lah kombinasi yang pas. Keduanya dijadikan satu, terasa sangat jemawa. Seolah ingin mengalahkan kodrat dunia yang fana.

Sempurna dan selamanya itu tak masuk akal.

Gambaran tentang seorang ibu tua yang terjaga di pagi buta; terburu mengantar hasil petikannya ke pasar untuk seorang kekasih yang mabuk cinta, menjadi jauh lebih romantis dari yang kukira. Bukan perkara senyum manis
pujaan hati, bukan juga soal peluk hangat yang didapat. Tapi bagimana si bunga menjalani perannya.

Ia muncul sebagai kuncup, mekar, dipetik, dikagumi, layu dan akhirnya mati. Lalu diganti oleh kuncup-kuncup lainnya, berjalan dalam siklus yang sama. Tanpa protes. Tanpa keluh.

Layu lalu mati, pada akhirnya soal nanti. Yang terpenting saat ini, ia meninggalkan bekas di hati.

“Bagaimana?”, tanya lelaki itu lagi.

“Aku berubah pikiran”, jawabku memulai pembicaraan,”secantik dan sesempurna apapun kembang plastik, ia tetap plastik. Artifisial.”

“Nah…”, ucapnya seperti menyudahi penantian panjang. Punggungnya kini bersandar pada sofa.

“Dan apapun yang artifisal, bagiku, adalah kepura-puraan yang menyedihkan”, tambahku.

“Hmm…”, tangannya yang kekar meraih bungkusan hitam, mengeluarkan lintingan tembakau. Dengan kenes, ia meletakkannya di antara bibir dan berkata, “entahlah soal itu. Tapi bagiku bunga selalu membawa kehidupan.
Untuk pemetik bunga, untuk penjual bunga, juga untuk yang beli. Uang di sisi satu, ungkapan kasih di sisi lain.”

Denting logam mempersilakan api merayapi ujung tembakau, dan seketika asap mulai menari di udara.

“Tapi kamu tahu apa yang lebih penting dari itu?”

“Ya?”

“Bunga mengajarkan kita: tak perlu menjadi sempurna selamanya untuk bahagia. Pun, tak perlu berpura-pura sempurna karena itu sia-sia.”

Sekali lagi senyum mengembang di pipiku. Kuraih bungkusan hitam yang isinya tinggal sebatang, dan kusulut dengan api yang temaram. Lagi, asap keabuan menari-nari di udara.

“Ya… Karena semua ada waktunya.”

 

Selamat Ulang Tahun.

5 Mei 2016

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *