Categories
BOOK THOUGHT

[Review] Story of Dinda, Cerita Kita Menemukan Bahagia

Dinda tak lagi bisa menutupi air mukanya. Ia bergegas ke pojok ruangan, satu-satunya tempat di mana di ruangan yang tak luas itu, ia bisa berlindung sejenak. Mengambil nafas untuk sejurus kemudian meluapkan emosinya. 

Ia tak mengerti mengapa ajakan Pram untuk memulai hidup bersama membuatnya  benar-benar limbung. Bagaimana kata sependek, “Ya”, jika ia ucapkan bisa menjungkirbalikkan dunianya. Mengganti semua yang ada di hadapannya kesempatan baru yang tak terbayangkan sebelumnya.

Kalut, marah, sedih, bingung jadi satu. Dinda tak tahu degup jantungnya tanda genderang perang atau sambutan selamat datang. Yang pasti, Dinda tahu ia tak lagi bisa berlari. Diam-diam inilah momen yang ia nanti.


Dinda (Aurélie Moeremans), seorang produser muda, menemukan dirinya memutar kembali kaset rusak. Selepas dari toxic relationship-nya dengan Argo (Arya Saloka), ia menemukan kekasihnya –Kale (Ardhito Pramono)– menjelma jadi sosok yang sama.

Bedanya, yang ia hadapi kini bukan teriakan, sumpah serapah, ancaman, atau bantingan kursi dan segala macamnya. Kale yang pernah menyelamatkan Dinda dari Argo, terobsesi menjadikan Dinda miliknya seorang. 

Rasanya cemburu yang awalnya kelihatan tak berbahaya, pelan-pelan menggerogoti Kale. Menjadikan Dinda sasaran kemarahan tiap kekasihnya itu berhubungan dengan Nina (Cantika Abigail), adik Argo yang juga sahabat Dinda sejak kecil.

Bukan rasa aman yang Dinda dapat, tapi sesak dan jarak yang makin kentara di antara keduanya. Tak jarang, Dinda mencari-cari alasan hanya demi bisa bernapas dan merasakan kebebasan.

Di situlah, kemudian Dinda mengenal Pram (Abimana Aryasatya). Sosok lelaki dewasa dengan segala masalah yang jauh dari nalar Dinda. Sikap dan ketenangan lelaki itulah yang membuat Dinda kagum dan terus-menerus mencari cara untuk menemui Pram.

Sekilas, film ini nampak seperti kisah klasik yang sudah entah berapa kali diceritakan ulang. Tentang seorang perempuan yang dipaksa memilih satu di antara lelaki yang mengejarnya.

Tapi justru karena cerita yang familiar inilah, kisah Dinda ini terasa sangat dekat. Jika tidak mengalaminya sendiri, minimal penonton pasti tahu satu-dua cerita orang terdekat yang mengalami. 

Meski begitu, ini bukan jadi alasan untuk film Story of Dinda: Second Chance of Happiness ini menggarap cerita seadanya. Tak seperti kebanyakan film dengan embel-embel “terinspirasi dari kisah nyata”, film ini sengaja tak memberikan celah penonton untuk menambal lubang-lubang cerita. 

Penokohan Dinda dan Pram terasa sangat kuat. Dinda yang begitu muda, naif, rendah diri, dan menganggap tak pernah ada pilihan untuk dirinya. Sedangkan Pram, yang jauh lebih dewasa sangat kontras dengan Dinda: tenang, berprinsip, dan selalu melihat kesempatan di balik setiap masalah.

Sisi yang berlainan ini tak cuma diperlihatkan dari aspek visual saja. Tapi juga dari dialog dan chemistry tokohnya. Percakapan yang terbangun begitu natural, antara seorang perempuan yang mengagumi lelaki yang jauh lebih dewasa. Dan, lelaki yang ingin mengenalkan kesempatan dan dunia yang lebih luas daripada pikiran si perempuan muda.

Saking naturalnya, tak sekali-dua kali saya cekikian. Mendengar dialog Pram yang terasa begitu dewasa, gombal, sekaligus cringey di saat bersamaan. Begitu juga rasa gemas, setiap Dinda dengan naifnya menampik tuduhan-tuduhan orang atas sisi toxic Kale.

Tapi justru karena reaksi di sepanjang menonton film itulah, saya yakin Ginanti Rosa dan tim telah mengerjakan semua PR-nya. Hingga akhirnya jadilah film yang mengangkat topik cukup pelik dalam durasi 60 menitan saja. Tetap ringan ditonton, tapi pesannya kuat.

Oh ya, meski premis film ini cukup sederhana. Jangan pikir film ini selesai dengan Dinda memilih “pangeran berkuda putihnya”. 

Alih-alih memilih opsi yang ada, Dinda menciptakan kesempatan bahagianya sendiri. Dan… dari akhir cerita itulah saya bisa bernapas lega.

Akhir kata, film ini cocok ditonton siapa saja. Terutama untuk Dinda-Dinda lain di luar sana yang sedang mencari jawaban dan kesempatan bahagianya sendiri.


Film Story of Dinda: Second Chance of Happiness tayang mulai 29 Oktober 2021, bisa ditonton di Bioskop Online.

Categories
BOOK

Ebook vs Buku Cetak, Mana yang Lebih Enak Dibaca?

Ebook vs buku cetak. Bagiku pertanyaan adu domba macam itu sebetulnya kurang perlu dijawab. Toh, mau ebook atau cetak, keduanya sama-sama buku. Cuma beda tempat aja. Satu di kertas, satu lagi di layar.

Cuma gimana ya. Nyatanya, banyak orang yang memang penasaran: lebih baik ebook atau buku? 

***

Sebagai orang yang nggak bisa lepas dari keduanya ─ aku sudah setahun lebih baca ebook tapi masih sering baca buku cetak ─ aku pengen ikut nyumbang suara soal bahasan ebook vs buku cetak ini. 

Soalnya, kebanyakan artikel yang kubaca masih bahas topik ini setengah-setengah. Mereka sebatas cerita perbedaan buku dan ebook. Lalu, di akhir menyerahkan keputusan ke pembaca. 

Yaaa… emang nggak salah sih. Pada akhirnya, pembaca juga yang kudu menyimpulkan mana yang paling disukai. Cuma kan, kalau yang diulik cuma apa perbedaan buku cetak dengan buku digital, mana bisa dapat jawaban yang memuaskan? 

Makanya, aku mau berbagi sedikit pengalamanku soal baca ebook dan buku cetak. Biar lebih valid gitu lho jawabannya. 

Nah, biar nggak lama-lama, kita mulai dulu dari kelebihan buku cetak dan ebook. Baru setelah dapat gambaran umumnya, aku bakal lanjut cerita pengalaman baca buku dari dua format berbeda.

5 Kelebihan Buku Cetak

Buku cetak boleh dibilang barang lawas tapi bukan berarti ia tak punya kelebihan. Inilah lima hal yang jadi kelebihan buku cetak.

  1. Terasa personal dan spesial. Buku cetak, terutama yang baru, bisa kamu cium baunya dan bolak-balik halamannya. Suatu sensasi yang takkan didapat dari ebook. Buku cetak juga jadi lebih spesial ketika didapat dari hadiah. Tak heran kalau sebagian orang suka sekali mengoleksi buku dan sangat sulit merelakan koleksinya.
  2. Nyaman di mata. Asal posisi bacamu benar dan cahaya sekitar cukup, buku cetak takkan membuat matamu lelah. Buku cetak tak punya pancaran sinar biru ─ penyebab mata lelah dan insomnia ─ yang dimiliki banyak gawai dan barang elektronik lainnya.
  3. Bisa dipinjam atau didonasikan. Karena bentuk fisiknya, buku cetak lebih gampang dipinjamkan atau didonasikan. Kamu tinggal bawa bukunya dan serahkan ke siapapun yang membutuhkan. Beda halnya dengan ebook (terutama yang berbayar) yang tak bisa dihibahkan ke orang lain.
  4. Murah. Kalau dibandingkan harga ebook reader yang jutaan, buku cetak tentu lebih murah. Dengan jumlah uang yang sama, kamu bisa borong belasan sampai puluhan buku.
  5. Kelihatan estetis dan instagramable. Buku cetak itu bagus banget buat jadi objek foto. Nggak heran sih kalau postingan #bookstagram, #bookworm, atau #booklover dipenuhi dengan foto-foto buku cetak.

5+ Kelebihan Ebook

Bentuk anyar dari lembaran kertas ini juga punya sejumlah kelebihan. Ini dia tujuh kelebihan ebook yang setidaknya akan kamu rasakan.

  1. Praktis. Berbekal satu ebook reader atau gadget, kamu bisa bawa berapapun buku yang kamu mau. Semisal ingin ganti bacaan di tengah jalan, tak jadi masalah.
  2. Banyak pilihan buku. Tak cuma sumber berbayar seperti Google Play atau Amazon Books, kamu juga bisa dapat ebooks gratis dari perpustakaan online dan sumber lainnya.
  3. Lebih murah. Kalau kamu doyan baca buku impor, ebook reader bakalan jauh lebih murah dibanding buku cetak. Soalnya, harga lima buku impor bisa dipakai buat beli ebook reader khusus. Dengan modal segitu, kamu bisa punya akses ke ribuan buku yang kamu mau.
  4. Bikin catatan lebih gampang. Ebook reader punya fitur bawaan untuk bikin catatan di buku. Kamu bisa stabilo warna-warni dan kasih komentar di buku. 
  5. Semua catatan bisa dilihat dalam 1-klik. Tak cuma gampang corat-coret aja, semua catatan yang kamu bikin juga gampang dilihat dan dibaca ulang. Tinggal pilih ikon dokumen di ebook, otomatis semua catatanmu langsung muncul.
  6. Tampilan buku bisa disesuaikan. Nggak suka sama font buku? Ganti aja. Pengen ganti kertasnya biar keliatan kaya bookpaper? Oh, bisa! Kamu juga bisa ganti margin “kertas” dan line spacing ebook yang kamu baca.
  7. Gampang dibaca sambil gelap + tiduran. Enaknya pakai ebook reader, kamu bisa baca sambil gogoleran dan gelap-gelapan. Soalnya kan, ebook reader itu sendiri ngeluarin cahaya supaya kita bisa baca. Biar ketika baca juga nyaman, kamu bisa pilih opsi dark mode dan kurangi sinar biru pakai fitur Blue shade.
  8. Ada kamus, fitur cari, dan browser bawaan. Aplikasi apapun yang kamu butuhkan tersedia di ebook reader. Tinggal tap dua kali dan pilih aplikasi yang ingin kamu gunakan.

Lebih Baik Ebook atau Buku Cetak?

Buat jawab pertanyaan ebook vs buku cetak, aku izin mendongeng dulu ya. Hehe.

***

Awalnya, aku memang suka banget beli buku cetak. Terutama pas sekolah sampai awal kuliah. Ya gimana ya. Zaman segitu internet belum secanggih sekarang. Jadi, kalau mau bacaan bermutu ya harus beli buku.

Lama-kelamaan, buku di rumah makin banyak. Sayangnya, aku kurang punya tempat proper buat nyimpan buku. Almari yang kupakai buat taruh buku nggak ada kacanya. Praktis, lembaran kertas di buku malah jadi tempat nyimpan debu. Terus buku yang kupunya jadi kotor, kuning, kadang lembab pula. Dari situ, aku mulai tuh mengurangi beli buku baru. 

Ditambah lagi ketika aku memutuskan buat ngekos. Jelas jumlah buku langsung berkurang karena nggak tau mau naruh buku di mana. Yak, ini zaman-zaman kenal gaya hidup minimalis lah.

Baca juga: Hal-Hal Soal Gaya Hidup Minimalis yang Belum Banyak Dibahas

Sialnya bagiku, mengurangi beli buku itu sama dengan mengurangi kebiasaan baca. Perpustakaan bukan opsi yang oke juga waktu itu. Soalnya, koleksi buku fiksi di kampus nggak banyak. Pun, kalau mau ke perpus kota, waktu pinjamnya singkat banget.

Jadi lah itu masa-masa kegelapan dalam hidup. Jarang baca, cupet, gampang marah. Mana terus skripsi pula. Penderitaan makin bertambah. Bukanya semangat, malah rasanya terintimidasi ketika buka buku.

Baca juga: Kesalahan Fatal yang Kulakukan Selama Skripsi

Setelah drama skripsi kulewati, persoalan baca buku ini menemukan babak baru. Kini, soalnya bukan ada di harus beli buku atau tidak demi baca. Justru, kalaupun bisa beli buku yang dicari nggak ada. Buku yang kucari rata-rata impor dan mihil. Bikin jebol kantong kalau terus-terusan belanja.

Di titik itulah kemudian aku terpikir buat beli ebook reader. Kebetulan, dulu Mas Pacar punya Kindle. Sempat kucoba dan memang nyaman dipakainya. Layarnya emang agak sedikit glaring atau glossy, tapi udah ada sensor yang menyesuaikan terang layar otomatis. Jauh lebih nyaman lah dibanding baca ebook di hape.

Jadi tambah penasaran, kan? Ebook vs buku cetak, mana yang paling bagus? Hehe. Kita bahas ebook reader lebih lengkap dulu ya.

Kenalan Sama Ebook Reader Bernama Kindle

Singkat cerita jatuhlah pilihanku pada Kindle Fire HD 8. Tablet keluaran Amazon ini punya spesifikasi yang nggak neko-neko.

  • Layar 8 inch ─ praktis tapi masih nyaman buat baca buku, ukuran layar sedikit lebih kecil dari kertas A5;
  • Processor Quad Core bisa dipakai buat buka beberapa aplikasi sekaligus;
  • Memori internal 16 GB memori sudah cukup besar buat nyimpan ratusan sampai ribuan buku;
  • Slot micro SD sampai dengan 400GB ─ bisa banget buat nyimpan koleksi segede perpustakaan daerah dalam satu tablet;
  • Kamera depan-belakanglumayan buat jepret sana-sini dan dokumentasi;
  • Stereo Dolby Audiokalau lagi malas baca, kamu bisa dengerin podcast, Audible, lagu, dan streaming video dengan kualitas suara yang empuk.

Sekilas semua nampak sempurna. Sampai kamu sadar kalau Kindle punya sistem operasi sendiri, Fire OS. Sistem operasi ini sebetulnya berbasis Android, tapi aplikasi yang ditawarkan terbatas banget. Ditambah sistemnya Amazon melarang pengguna di luar Amerika Serikat buat dapat layanan Kindle secara penuh.

Jadi, ya, agak sayang sih. Layanan premium buat dapat buku, majalah, dan audiobook di Kindle Unlimited nggak bisa kamu rasain. Untungnya, layanan lain seperti Bookstore dan Audible masih bisa kamu akses. Ya, terbatas memang. Cuma mayan lah daripada enggak sama sekali.

Terus, Kindle Fire HD 8 ini ternyata bisa diinstall APK Android. Artinya, kamu bisa pakai Android persis tablet pada umumnya. Kamu bisa tambahkan aplikasi semaumu di Kindle. Kalau aku sih, jadi install Netflix, Spotify, Google Drive, dan Twitter di Kindle-ku. 

***

Itu baru soal spesifikasi teknis, aplikasi, dan layanan ya. Sekarang giliran aku cerita soal fitur ebook dan pengalaman baca pakai Kindle.

Kindle punya aplikasi bawaan yang namanya Books. Aplikasi ini otomatis mengumpulkan semua ebook berekstensi .mobi yang kamu punya di Kindle. Lewat app ini juga kamu bakal baca ebook.

Ketika kamu buka ebook, aplikasi ini bakal menunjukkan beberapa fitur bawaan. Ada opsi untuk mengatur tampilan ebook. Lengkap dari ukuran tulisan, jenis font, margin, spasi, sampai warna “kertas” buat ebook.

Lalu, kamu juga bisa kasih stabilo berbagai warna dan ngasih catatan di buku. Baik stabilo maupun catatanmu bakal tersimpan. Tinggal klik ikon dokumen, otomatis kamu bisa lihat mana aja bagian yang sudah kamu “corat-coret”. 

Selain itu, Books juga punya fitur Flashcard Decks (semacam kartu pengingat), bookmark, kamus otomatis, dan browser.

***

Dengan semua fitur yang ada di Kindle, jelas dong rasanya kaya dimanja. Baca buku rasanya gampang banget. Semisal ada kata-kata yang nggak paham, tinggal double tap terus kamus langsung nunjukin artinya. Butuh corat-coret tinggal juga sama, tap aja bagian teks yang pengen dikasih warna atau ditambahi komentar.

Beda rasanya ketika baca buku cetak. Semuanya serba manual. Mau corat-coret ya harus pakai stabilo, sticky notes, dan pulpen sendiri. Tahu sendiri lah, agak ribet. 

Belum lagi, kalau butuh baca-baca ulang teks dan catatan. Kamu perlu bolak-balik halaman secara manual. Nggak kaya di ebook reader yang tinggal klik dan scroll aja.

Oh ya satu lagi! Menurutku baca buku lewat Kindle, terutama di tempat terbuka, itu lebih nyaman dan aman. Orang nggak akan kepo kamu lagi ngapain sama tabletmu. Jadi, ketika kamu baca ya rasanya nggak ada yang ganggu aja.

Beda lho sama baca buku cetak. Sejauh pengalamanku, baca buku cetak itu selalu mendorong orang yang lihat buat tanya-tanya. Minimal mereka bakal tanya gini: 

“Lagi baca apa?”

“Siapa penulisnya?”

“Bagus nggak bukunya?” 

“Kasih rekomendasi buku bagus dooong~”

Pada akhirnya, susah banget buat baca buku cetak di tempat umum. Maksud hati ingin menyendiri, apa daya malah ditanya-tanyai. Ini sejauh pengalamanku lho ya. 

Ebook vs Buku: Jadi Pilih Buku atau Ebook?

Meski doyan baca ebook lewat Kindle, aku nggak anti juga sih sama buku cetak. Mau gimana juga, banyak buku cetak terbitan Indonesia yang belum ada versi ebook-nya. 

Daripada adu domba ebook vs buku cetak lalu diminta pilih salah satu, aku tetap pakai keduanya. Tinggal bagi tugas aja. 

Aku lebih suka baca ebook untuk non-fiksi, buku terbitan lawas, dan novel yang tersedia di Perpusnas. Untuk buku cetak, biasanya aku baca novel-novel terbitan baru dan buku non-fiksi dari perpustakaan kantor. 

Terus perlu beli ebook reader macam Kindle nggak? 

Perlu kalau kamu mahasiswa, kutu buku, dan orang yang perlu baca banyak (pake banget). Soalnya Kindle bisa simpan semua bacaanmu dalam satu tempat. Udah begitu, banyak fitur yang memudahkanmu buat baca dan menyimpan catatan. Worth it banget lah buat investasi jangka panjang!


Nah, kamu tertarik buat punya Kindle Fire HD 8-mu sendiri? Kalau iya, kamu bisa pakai klik tombol di bawah:

Lewat link itu, kamu  bantu aku buat terus bikin artikel-artikel baru di blog ini.

So… makasih banget yak! 🙂

Categories
BOOK

Resensi: Tiba Sebelum Berangkat, Faisal Oddang

Kenangan selalu hadir saat tak diundang. Ketika lamun sedang khusyuk atau sepi sedang menusuk. Ia hadir tanpa mengetuk. Tahu-tahu bulir air mata siap jatuh dari pelupuk. 

Kapan tepatnya kenangan bisa merisak dengan kurang ajarnya? 

Ketika yang kau miliki direnggut, tanpa bisa dilawan. Pasrah, diam, mensyukuri apa yang telah (atau mengamini pahit yang sudah?) dalam potong-potong ingatan.

Itu pula yang dialami Mapata. Ketika penisnya ditindih kaki kursi, ingatan soal bapak tirinya hadir. 

Lalu, ketika sembilu siap melepas lidah Mapata antara tarikan pangkal kerongkongannya dengan jepitan tang. Ia terbayang Batari ━ istri yang ia coba cintai sepenuh hati.

Lidah Mapata, sumber kebahagiaan Batari. Ketika sembilu menjadikannya sekadar onggokan daging, bukan saja kebahagiaan istri dan dirinya yang hilang. Kekebalan Mapata pula. 

Tanpa lidahnya, ia tak bisa lagi merapal mantra. Ia tak lagi bisa tersenyum tiap kepalanya dihempaskan ke lantai, atau ketika tulang-tulang jarinya dipatahkan, atau juga ketika badannya diberondong peluru. Semua itu takkan lagi terasa seperti gigitan nyamuk, gelitikan, atau pijatan.

Baca juga: [Resensi] Yang Bertahan dan Binasa Perlahan, Okky Madasari

Kesombongannya hilang, begitupun ilmunya, bersama potongan lidah yang entah dibuang kemana. Fisiknya mulai habis dan siapapun tahu, tinggal menunggu waktu sampai mentalnya menemui akhir serupa.

Tak jelas apa salah Mapata. Dirinya disebut mengancam hidup berbangsa dan beragama. Bagaimana? Entah. Tapi dari sinilah cerita bergulir dan satu per satu pertanyaan terjawab.

***

Mari sepakat. Paragraf pertama adalah kunci sebuah cerita. Ia membuka gerbang dunia khayal dan memberi sekat pada dunia yang sedang berjalan. 

Maka untuk saya, sudah sepatutnya paragraf dibuka dengan sentakan. Karena dari situlah, saya menentukan: akankah buku dibaca menggebu, diselingi kegiatan ini-itu, atau membiarkannya jadi hiasan rak buku.

Sentakan itulah yang langsung dihadirkan Faisal Oddang. Lengkap dengan rasa takut, panik, ngilu, dan kelebat ingatan personal. Dari awal saja, saya sudah diajak berbagi pilu dan luka batin dengan tokoh utama.

Untungnya, adegan ini bukan cuma umpan. Bukan cara untuk menarik perhatian lalu ditinggal dengan potongan adegan yang tak langsung berhubungan.

Faisal Oddang menjadikan awalan ceritanya sebagai pondasi. Dari sanalah ia membangun keping demi keping adegan. Termasuk menentukan cara ia menceritakan tokoh dan membuat tokohnya bercerita. 

Baca juga: [Resensi] Lelaki Harimau – Eka Kurniawan

Tanpa lidah, hanya lewat tulisan lah Mapata menjawab berondongan pertanyan penculiknya. Lewat tulisan juga Oddang memamerkan kepiawaiannya menokohkan Mapata.

Ragam emosi Mapata nampak jelas dalam coretan kalimat. Ketika harga dirinya diinjak, ia justru banyak membubuhi suratnya dengan panggilan Tuan untuk si penculik. Kadang kalimatnya begitu panjang. Tanpa titik, tanpa koma, hanya berputar-putar. 

Mapata sedang menghina si penculik. Persetan yang dihina tahu atau tidak. Ia melakukannya untuk dirinya sendiri. Penting untuknya mengelus ego selagi masih ada. 

Mapata hanya diam, dia memang tak bisa melawan, tetapi meringis atau kesakitan atau menampakkan kekesalan adalah kalah tanpa bertaruh. Dan diam? Diam adalah satu-satunya cara untuk melawan….

halaman 35.

Di waktu diminta bercerita soal politik dan sejarah, tulisan Mapata berubah menjadi kaku dan serius. Lalu, melunak, hangat, dan luwes, ketika disuruh menceritakan masa lalunya. Termasuk kenangan bersama Batari dan anak perempuannya.

Di antara surat demi surat, isi pikiran Mapata yang berjejal. Kadang ia menceritakan apa yang dilihat, dirasa, dan dipikirkan. Kadang ia memutar ingatan yang sudah-sudah. Lain kali, ia dibantu narator untuk lebih jelas menerangkan apa yang tak bisa dijangkau Mapata.

Lapisan cerita membuat kisah Tiba Sebelum Berangkat tidak membosankan. Tetapi, tidak juga membingungkan.

Pergantian kisah dan cara bercerita membuat saya larut. Sampai-sampai, lupa kalau yang sedang saya baca adalah cerita dalam cerita. Mapata bercerita soal kisah orang lain. Tapi rasanya begitu nyata dan detail.

Baca juga: [Resensi] Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari

Lama saya berpikir. Coba mencari analogi yang tepat. Lalu saya sadar kalau lapisan cerita yang disusun Oddang mirip seperti kue klepon. 

Parutan kelapa, beras ketan, dan gula merah yang manis. Ketika dikunyah, lapisan kue memang lebur jadi satu. Tapi saya masih tahu: mana gurih parutan kelapa, lembutnya beras ketan, dan lelehan manis gula merah.

Beda halnya dengan penulis lain yang sembarang menumpuk-numpuk cerita seperti lapis legit. Memang berlapis, tapi saya tak betul-betul tahu apa yang membedakan lapisan satu dengan yang lain.

Detail cerita yang Faisal Oddang perhatikan betul, membuat kisah Tiba Sebelum Berangkat menjadi begitu kuat.

***

Tiba Sebelum Berangkat adalah lakon yang intens. Dan kalau boleh jujur, bagian-bagian awal memang sangat menyiksa buat saya. 

Meski tergolong novel tipis, butuh sebulan lebih untuk menyelesaikannya. Bukan karena tak cukup bagus. Malah, kemampuan novel ini menguras emosi lah yang membuat saya begitu.

Serasa masuk dalam cerita. Saya menyaksikan segala detail peristiwa dan mendengarkan keluhan tokoh utama. Tanpa bisa urun suara. Barangkali perasaan dibungkam itulah yang benar-benar dibagi Mapata pada pembaca.

Untungnya, itu semua tak bertahan lama. Kalau kamu cukup kuat bertahan, kamu akan berterima kasih pada penulis yang baik hati membagikan kisah kasmaran Mapata dan Batari.

Saya masih ingat respons heboh saya ketika membaca bagian-bagian itu. Rasanya gemas karena Mapata tak peka (atau pura-pura bodoh?) dan Batari yang kelewat agresif.

Bagi saya, kisah ini jadi sebuah pengingat: berapa pun umur kita, kita selalu dihadapkan hal baru ketika menjalin hubungan asmara. Tak ada rumus, tak ada patokan. Dan sering kali, kebahagiaan pasangan tak melulu turut standar umumnya. Begitu pun yang dipercayai Mapata dan Batari.

Baca juga: [Resensi] Entrok, Okky Madasari

Setelah kisah cinta, kamu akan lagi temukan lapisan-lapisan cerita lainnya. Ada cerita masa kecil Mapata, cerita ia mengabdi menjadi toboto untuk seorang bissu, penjelasan soal konsep lima gender di Bugis, sejarah dan intrik politik, juga cerita muram lain.

Di antara semua lapisan cerita itu, ada satu adegan yang sangat membekas. Entah mengapa mengingatkan saya pada Hunger karya Knut Hamsun dan Vegetarian-nya Han Kang. Sesuatu yang tak pernah bisa Anda bayangkan sebelumnya.

Namun, sama dengan Hunger atau Vegetarian, usai adegan itulah Anda bisa temui titik terang. Siapa yang menculik Mapata? Mengapa ia diculik? Bagaimana kelanjutan kisahnya dengan Batari?

“Saya belajar banyak hal dari kehilangan. Salah satunya, kini saya mengerti bahwa satu per satu dari kita akan hilang perlahan, dan satu-satunya yang bisa kita jadikan alasan untuk kuat menghadapinya hanya satu kenyataan bahwa kita memang tidak pernah memiliki apa-apa –bahkan ketika bercermin, seorang di dalam cermin itu juga bukan milik kita.”

halaman 77.
  • Nilai: 5/5
  • Judul: Tiba Sebelum Berangkat
  • Penulis: Faisal Oddang
  • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
  • ISBN: 9786024243517
  • Cetakan: Pertama, April 2018
  • Jumlah halaman: vi + 216 halaman

Categories
BOOK

Yang Bertahan dan Binasa Perlahan, Okky Madasari

Ini adalah serangkaian kisah tentang pertarungan dan daya tahan manusia. Ada yang melawan dan bertahan, ada yang lari dan menyembunyikan diri. Ada yang tak punya pilihan selain binasa perlahan.

Cerita-cerita dalam buku ini hanya satu upaya kecil untuk menghayati makna kita sebagai manusia.

Categories
BOOK

Entrok, Okky Madasari

Marni bergegas pergi dari rumah Paklik dan Buliknya. Tak sanggup lagi ia menahan bulir air mata dan perih tenggorokan yang mencekiknya. Bukan karena ia gagal membujuk Paklik membelikan entrok, membuatnya begitu. Melainkan cara Bulik menepis keinginannya, “Kalau mau punya, ya minta sama Bapakmu sana.”

Categories
BOOK

Rumah Kopi Singa Tertawa, Yusi Avianto Pareanom

Melalui kedelapan belas cerpennya, Yusi membawa kita masuk dalam kebetulan-kebetulan yang selama ini hanya terbayang di layar kaca. Menemani tokoh-tokoh yang seenaknya dipermainkan hidup.

Dalam “Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih” misalnya, kita dibuat kasihan dengan protagonis malang, si Anwar Sadat, yang hidupnya berakhir nahas di hari pertama ia memijak Jakarta – dikeroyok setelah dikira copet. Padahal tangannya cuma tak sengaja mampir ke dada dan pinggang seorang perempuan. Ketika ia berusaha menyeimbangkan diri saat tergelincir sehabis turun dari metromini. Sewaktu kita mengira cerita hanya akan sampai disitu, penulis membawa kita lebih jauh. Kita digiring untuk memahami perempuan yang tak langsung mengantarkan Anwar Sadat ke ajalnya. Pada akhirnya kita mau tak mau dibuat maklum dan kagum, bagaimana kebetulan saling menghukum hidup antara keduanya. Tapi sialnya ketika pembaca sudah terlanjur percaya pada cerita, muncul fragmen-fragmen yang membuat kita tak bisa menghindari pernyataan: ‘ini nyata apa nggak sih?’

Categories
BOOK

Catcher in the Rye – J.D. Salinger

Kukira, mereka yang tak tumbuh bersama rasa benci adalah yang paling beruntung. Mereka tak usah mengeluhkan ketidakberuntungan dan takdir yang tak bisa diubah. Tak perlu juga diam-diam mengutuk banyak hal. Mereka tak mendendam pada yang meremehkan. Lagi, tak merasa perlu meniatkan semua hal untuk pembuktian.

Akan tetapi, siapa yang tak tumbuh bersama rasa benci?