O

Judulnya O, karya Eka Kurniawan. Singkat, padat dan mengundang tanya. Terlebih, ketika mengintip sampul belakang dan menemukan blurb: tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut. Bagi sebagian orang, blurb semacam itu mungkin hanya akan mengundang kernyit di dahi. Sebagian lain yang belum mengenal penulis ini, barangkali juga sekedar bergumam “Ooo…” sambil lalu. Tetapi untungnya, saya mengikuti karya-karya Mas Eka ini. Jadi ketika O diumumkan terbit, saya histeris dan bertanya-tanya kejutan apa yang akan diberikan lewat karyanya yang satu ini.

**

O adalah nama seekor monyet betina yang tinggal di Rawa Kalong. Suatu ketika ia dikhawatirkan oleh tingkah calon suaminya, Entang Kosasih, yang tampak tak mempersiapkan apapun untuk pernikahan mereka. O selalu curiga akan kesungguhan cinta kekasihnya itu. Sebaliknya Entang Kosasih yang tak bisa membuktikan banyak, terus berjanji akan menikahinya di bulan kesepuluh. Mereka tentu saja sempat bertengkar habis-habisan. Tetapi rasa cinta lebih kuat dari amarah sesaat, mereka pada akhirnya selalu berdamai dan kembali menjadi sepasang monyet yang mesra. Bagaimana pun O tetap mempercayai janji kekasihnya. Namun O kembali dibikin khawatir, ketika suatu hari Entang Kosasih datang padanya dan menyampaikan berita yang sudah lama ia takutkan. Entang Kosasih ingin mengikuti jejak Armo Gundul – untuk menjadi manusia.

Sebuah cerita turun-temurun menjadi bagian hidup monyet di Rawa Kalong. Bahwa masa lalu mereka adalah ikan, dan masa depan mereka adalah menjadi manusia. Walaupun sudah digariskan demikian, untuk monyet berubah
menjadi manusia bukan hal mudah. Pun ketika menjadi manusia, mereka akan lupa masa lalunya sebagai monyet. Itu lah yang membuat O khawatir dengan masa depannya bersama sang belahan jiwa.

Singkat cerita, Entang Kosasih hilang. Tepat setelah seorang polisi menembaknya. O percaya, calon suaminya telah berubah menjadi manusia. Dan pada saat itulah O akhirnya menempuh jalan untuk menjadi manusia.

Premis yang sebenarnya cukup sederhana dan menarik. Namun begitu, pembaca akan dikejutkan dengan bagaimana cara Eka menyampaikan ceritanya dengan cukup rumit, tetapi tetap rapi dan indah.

Novel ini tidak hanya bercerita tentang O dan kekasihnya. Tetapi juga tentang tokoh-tokoh yang saling terkait secara tidak langsung dengan O. Setiap tokoh memiliki kisah masing-masing yang berusaha diangkat oleh Eka. Kisah yang sedikit banyak menggambarkan potret sosial yang ada di masyarakat: percintaan, religiusitas, cita-cita dan kebetulan-kebetulan dalam hidup. Sedangkan masalah alur, seperti karya-karya sebelumnya, diceritakan dengan maju-mundur. Namun karena tokoh yang dihadirkan begitu banyak, cerita dalam buku ini tampak seperti sebuah puzzle yang menunggu untuk dipecahkan. Puzzle yang cukup rumit, seolah semuanya sudah diukur dengan presisi, hampir tanpa celah.

O sempat disandingkan dengan Animal Farm karya George Orwell, karena sama-sama mengambil bentuk alegori. Namun, jangan harap anda menemukan kesamaan pada gaya dua penulis ini.

Animal Farm bagi saya adalah kritik sosial yang lugas, dengan alur maju dan cerita yang cenderung mudah ditebak. Muncul sebagai sebuah kritik atas model kepemimpinan otoriter pada era Perang Dunia I. Tak ayal, narasi yang dihadirkan sebatas menceritakan realitas pada jamannya dengan sindiran di sana-sini. Sedangkan untuk menikmati O, anda butuh lebih banyak waktu merenung. Karena secara implisit, ada banyak hal yang berusaha disoroti. Akan
tetapi, jika boleh mencari kesamaan dari kedua penulis pastilah kekuatan mereka untuk menciptakan akhir cerita yang mengundang anda untuk mengernyitkan dahi-tersenyum simpul- dan mengawang juga merenungkan inti cerita.

O dan Pertanyaan tentang Eksistensi

Selepas mengkhatamkan buku setebal 470 halaman ini, saya dibuat lama termenung. O mengajak untuk kembali mempertanyakan hal yang lama dipinggirkan, dilupakan dan tenggelam dalam hiruk pikuk dunia modern.

“Jadi, apa sesungguhnya tujuan hidup kita di dunia ini?” halaman 147.

Soal siapa manusia dan apa tujuan hidupnya di dunia, sudah lama dibahas. Walaupun begitu, tetap saja tidak pernah ada kata sepakat untuk menjawabnya. Setiap orang punya versinya sendiri, dan barangkali itulah yang membuat tafsir dunia menjadi begitu ruwet.

Tanpa menjawab pertanyaan utama, Sartre mengatakan: manusia dikutuk karena kebebasannya. Pernyataan yang berusaha merangkum jawaban panjang, tentang mengapa pertanyaan itu tak lekas bisa dijawab.

Manusia dikutuk karena kebebasannya. Bebas di sini, bukan diartikan sebagai kondisi tanpa batas. Manusia tetap terikat pada asal-usulnya, kondisi yang tak bisa diubah. Tetapi, ia bebas untuk melangkah keluar dari hal-hal yang tak bisa di ubah tadi. Dan di situlah kutukan yang dimaksud termanifestasi.

Begitu banyak pilihan untuk menandai eksistensi diri: cita-cita, cinta dan pilihan remeh yang dibuat tiap harinya. Pilihan-pilihan yang mau tak mau, ikut mendefinisikan diri kita. Saking banyak pilihan yang ada, membuat seseorang tak jarang merasa resah, bingung bahkan marah. Sesederhana, karena pilihan-pilihan itu tak menjanjikan apapun, semua tetap menjadi hal yang tak pasti.

Kebingungan memilih jurusan untuk pendidikan tingkat lanjut. Bimbang untuk melanjutkan atau menyudahi hubungan. Untuk bekerja atau S2 dulu. Dan sebagainya.

Lalu muncullah orang-orang yang berusaha menghilangkan keresahan itu: motivator, buku self-help, konseling dan seabrek yang lain.

Kebanyakan dari kita percaya apa yang mereka katakan. Pertimbangan orang untuk memilih menjadi semakin serupa
seiring waktu. Orang-orang semakin serupa. Gaya berpakaian, selera makan, preferensi musik, buku yang dibaca, cara melihat permasalahan hingga berpendapat. Sama dari bangun sampai tidur.

Menjadi semakin sulit untuk berbeda. Karena perbedaan hanya akan membuat seseorang merasa resah dan bingung, mempertanyakan sikapnya yang tak sama dengan lainnya.

“… Menurutku, jika kau memiliki cinta dan keyakinanmu begitu kuat terhadap cinta, kau akan berakhir bahagia seperti mereka. Masalah hidup manusia sering kali karena kita tak memiliki cinta, atau tak  memiliki cukup keyakinan terhadap cinta.” Halaman 206

Pada titik itulah, bagi saya, novel ini semacam ingin menyindir keterpakuan manusia untuk menuruti resep-resep kaya, sukses dan bahagia. Kenyamanan manusia untuk menghidupi pilihan yang tak sepenuhnya mereka pilih. Ketika sesungguhnya mereka memiliki kendali sepenuhnya terhadap apa yang dipilih.

Walaupun muncul dalam bingkai cinta yang banal, saya merasa bagian cerita di atas sanggup digunakan dalam konteks apapun. Itulah mengapa ketika berbicara eksistensi manusia, kita harus bicara tentang manusia yang
berkesadaran – bertanggung jawab dan sadar atas konsekuensi dari pilihan-pilihan yang diambil.

Nilai: 4/5

Judul: O

Penulis: Eka Kurniawan

Penerbit: PT. Gramedia PustakaUtama

ISBN: 978-602-03-2559-0

Cetakan: Pertama, Maret 2016

Jumlah halaman: 470

Harga: Rp 99.000 (Pre-Order dari PengenBuku.net)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *