Amba: Pertautan antara yang Hidup dan Mati

Ada jarak yang tak terbantahkan antara teks sejarah dan manusia. Sejarah, ia adalah ‘langkah raksasa yang tak punya hati’: menerjang tak ada henti. Di sisi lain, manusia begitu kerdil. Ia kurcaci yang selalu kagum pada apa yang baru dilalui. Lalu sastra lah yang berusaha menautkan keduanya.

Amba barangkali perempuan sempurna. Ia cantik: ‘matanya kucing dan kenari, bahunya kokoh, lehernya panjang, tulang-tulang pipinya tirus dan tajam, sementara seluruh kekuatannya terletak di mulutnya yang indah’ (hal 86). Walaupun kecantikannya masih kalah dengan ibu yang mantan kembang desa dan adik kembarnya – Ambika dan Ambalika. Tak hanya cantik, Amba cerdas dan punya kedalaman karakter. Itu semua didapatkannya dari kegemaran membaca kitab-kitab lama dan buku-buku Pramoedya, Pablo Neruda, Paul Eluard, Dostoyevsky, Turgenev dan lainnya. Lalu di usianya yang belum menginjak 20, ia sudah dijodohkan dengan Salwa. Lelaki idaman semua mertua: berpendidikan, santun, tenang dan mengayomi. Namun begitu, ada yang kosong dalam jiwa Amba. Hubungan mereka terlalu lurus, penuh basa-basi, formalitas, dan rencana. Amba merasa tak bahagia.

Maka dari itu, Amba menunda pernikahannya di tengah carut marut politik 1960-an. Ia berusaha mencari jawaban dan memutuskan pergi ke Kediri, mencoba peruntungan sebagai penerjemah di sebuah rumah sakit. Di sana ia bekerja untuk Dr. Bhisma Rashad, seorang dokter lulusan Jerman Timur. Tak disangka, Bhisma berhasil menarik hati Amba sejak pertama kali bertemu. Bukan hanya karena si dokter sangat tampan, tetapi juga sedikit banyak karena kemisteriusan dirinya. Singkat cerita, mereka berdua jatuh cinta. Kisah cinta tidak biasa yang diriwayatkan dalam Mahabarata: sejati tapi tragis.

Cinta mereka tak berjalan mulus, itu sudah jadi kepastian. Pengkhianatan Amba ke Salwa menjadi salah satu sebab. Yang lain, karena kedekatan Bhisma dengan ‘orang-orang komunis’. Kedekatan yang membuat mereka berdua terpisah untuk selamanya. Karena Bhisma ditangkap, tak lama setelah ia dan Amba menghadiri penghormatan terakhir Untarto di Universitas Res Publica Yogyakarta. Bhisma dibuang ke Buru, bersama ribuan tahanan politik pasca G30S PKI.

Hilangnya Bhisma menggariskan jalan hidup lain bagi Amba. Di tengah situasi politik yang kacau, perempuan itu dihadapkan pada kenyataan bahwa ia tak bisa lagi bertemu keluarganya. Tentu saja ia tak punya muka setelah mengkhianati calon suami yang begitu disayangi orang tuanya. Ditambah kini ia mengandung bayi Bhisma. Satu-satunya bagian dari Bhisma yang tertinggal, setelah ia menghilang tiba-tiba. Demi menyelamatkan hidupnya, Amba menikah dengan orang yang tak ia cintai, Adalhard Eilers. Sambil terus dibayangi masa lalu, ia mencoba hidup. Setidaknya untuk bayi yang dikandungnya.

40 tahun berlalu. Setelah kematian suaminya Amba mendapat surel yang mengatakan Bhisma telah meninggal. Surel itulah yang menuntunnya mencari kebenaran di Pulau Buru.

Sejarah: Sebuah Pertautan

Amba adalah salah satu novel yang bisa mengawinkan teks sejarah dengan manusia. Ia membuat sejarah tak lagi linear dan menjemukan. Juga, membikin kisah manusia hanya sekedar emosi yang percuma.

Kisah Amba tidak dibangun dengan mencomot satu momen sejarah, lantas memberikannya sentuhan emosi manusia. Novel ini dibangun melalui momen-momen sejarah yang berbeda: sastra Jawa kuno, memori pasca-kemerdekaan dan sejarah dunia. Cara kisah ini dituturkan, seolah menegaskan bahwa Laksmi Pamuntjak ingin mendekonstruksi makna sejarah. Sejarah bukan cerita tanpa emosi. Sejarah bukan pula memori satu generasi yang berdiri sendiri. Justru sejarah adalah sebuah sebab-akibat yang menautkan manusia: yang hidup dengan yang tlah mati.

Elemen sastra Jawa dihadirkan dalam kisah cinta Amba, Bhisma dan Salwa. Kisah yang semula terdapat dalam Mahabarata. Di mana Salwa harus menyerahkan kekasihnya, Dewi Amba, pada Bhisma setelah ia kalah dalam peperangan. Diliputi rasa bersalah, Dewi Amba memohon pada Bhisma untuk kembali ke Salwa. Namun, Salwa menolak karena cintanya tak lebih besar dari harga dirinya. Dewi Amba lalu kembali pada Bhisma, dan menemukan dirinya ditolak untuk kedua kali. Karena Bhisma telah bersumpah untuk tidak menikah.

Premis cerita yang diadopsi dari kisah lama, menurut saya sangat menarik. Setidaknya, ia berusaha mengenalkan kisah Mahabarata dengan konteks modern. Dan bagi saya itu merupakan sebuah pancingan untuk mengenal kembali kisah-kisah dalam epos Jawa.

Lalu, memori pasca-kemerdekaan ditampilkan sebagai latar dominan dalam cerita. Baik waktu dan tempat digambarkan dengan konsisten dan membaur bersama cerita. Sehingga sulit untuk mengatakan pada bagian mana novel terasa sangat ‘65’. Bisa dikatakan begitu, karena Laksmi seperti lebih memilih untuk menempatkan latar tidak dalam deskripsi yang detil. Deskripsi yang beresiko memperpanjang naskahnya. Sebagai gantinya, ia banyak menggunakan nama-nama tempat: Kadipura, Universitas Res Publica Yogyakarta, Kediri, Museum Sonobudoyo, dan lainnya. Nama-nama tempat bukan fiktif, yang memberikan pengalaman yang lebih nyata pada pembaca yang mengenalnya.

Ketiga, sejarah dunia lebih banyak digambarkan melalui cerita-cerita Bhisma ketika berkuliah di Jerman Timur. Baik lewat cerita tentang Festival Pemuda Sedunia, kemapanan di Berlin, diskusi-diskusi di Leipzig hingga menghindar dari kejaran Stasi. Sejarah dunia juga terselip lewat pembicaraan mengenai tokoh dunia seperti Rosa Luxemberg, Pablo Neruda dan Stalin. Ditambah referensi-referensi bacaan yang disebutkan di berbagai bagian cerita seperti karya John Reed, Ten Days That Shook the World, sebuah karya tentang Revolusi Oktober 1917 di Rusia.

Sejarah lagi-lagi adalah pertautan yang hidup dan mati; yang lalu dan yang kini. Dan itu ditunjukkan Laksmi dengan menggabungkan tiga momen sejarah berbeda dalam sebuah paragraf yang sederhana nan menarik.

Setelah Bung Karno mengumandangkan Demokrasi Terpimpin, pada tahun 1957, Bhisma mulai skeptis. Kekagumannya berangur-angsur terkikis. Ia terusik oleh retorika anti-Barat yang mewarnai kebijakan-kebijakan dan pidato-pidato sang presiden. Apa bedanya retorika Bung Karno dengan patriotisme sosial yang melanda Jerman menjelang Perang Dunia Pertama, pikirnya. (hal. 233)

 

Sejarah lintas generasi dan kisah manusia dan terjalin rapi hingga akhir tak lantas menghilangkan tanya. Di akhir anda akan dibingungkan oleh posisi novel ini: kisah cinta berlatar sejarah atau sejarah berlatar cerita cinta. Namun ini tak jadi soal. Bagi saya, novel ini merupakan pembuktian bahwa cerita yang kuat dibangun dari riset sejarah yang tidak separuh-separuh.

Nilai: 4/5

Judul: Amba
Penulis: Laksmi Pamuntjak
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-9984-7
Cetakan: Kelima, Juni 2015
Jumlah halaman: 577
Harga: Rp 98.000 (Toko Buku Gramedia)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *