Review Favorinse, Sabun Artisan yang Peduli Lingkungan

review favorinse artisan soap imasndra

Sejak paham kondisi kulitku yang keringnya keterlaluan, diriku mulai mengganti satu per satu produk perawatan kulit yang selama ini kupakai. Sebagai gantinya, diriku harus merogoh kocek agak dalam untuk mencoba produk-produk artisan yang diklaim lebih ampuh dan lebih ramah lingkungan. Setelah mencoba body butter lokal (Baca juga: Evete Naturals Body Butter in Calming Green Tea, Review) kini aku mencoba satu merk sabun artisan, Favorinse.

Perkenalanku dengan Favorinse dimulai dari satu postingan instagram Living Loving, di akhir tahun 2017. Sepenggal kalimat, “…the fact that it is harmless”, menarikku untuk mencari informasi lebih banyak tentang produk ini.

 

 

Setelah upaya kepo yang tak seberapa sulit, diriku menemukan kalau Favorinse bukan sekedar produk artisan biasa. Favorinse diproduksi dalam skala kecil, tanpa bahan kimia, tanpa bahan pengawet, dan tanpa bahan-bahan menyeramkan lainnya.

“…about 60% of chemicals in store bought skincare ending up in the bloodstream or 5 pounds of cosmetics being absorbed by our bodies every year! And it taking 26 seconds to be absorbed into the bloodstream.”

Selain klaimnya sebagai produk yang tidak berbahaya untuk kesehatan, Favorinse ternyata juga punya perhatian ke lingkungan. Favorinse memberikan 100 persen keuntungannya untuk proyek-proyek mandiri dari organisasi sosial lokal untuk menyediakan akses air bersih dan membangun sistem sanitasi yang baik di daerah Indonesia timur. Di samping itu, Favorinse juga fokus membangun ruang-ruang kelas dan toilet yang layak untuk sekolah-sekolah di wilayah yang sama.

Karena tujuan bisnisnya sendiri, aku cucok, dengan riang gembira dan sedikit rasa penasaran yang bergelayut…aku membeli satu body wash dan satu paket sabun batangnya. Ini dia review untuk kedua produk yang kupesan.

 

Favorinse Your Skin Nutrition Body Wash

Satu hal yang sudah pasti kusuka adalah kemasan produknya. Satu-satunya produk body wash dari Favorinse ini datang dengan kemasan botol pastik berwarna coklat tua dengan tutup berbentuk pump. Label produk didesain cukup simple, mengingatkanku pada label obat dari rumah sakit.

Body wash-nya sendiri berwarna kuning-transparan, masih senada dengan kemasannya. Tekstur body wash ini bisa berubah. Kalau udara sedang panas, body wash ini bisa jadi sangat-sangat cair. Sebaliknya, ketika udara sedang dingin, body wash mengental – di lain waktu bisa sampai membeku semacam jelly.

Hal lain yang agak bikin gemas dari produk ini adalah baunya, tidak ada. Kebiasaan mengendus produk perawatan kulit membuat saya refleks membaui body wash ini setelah dibuka. Untuk kemudian kecewa, karena memang tidak ada baunya sama sekali. Lalu merasa konyol karena di label sudah tercetak jelas tulisan – Unscented.

Ingredients: 85% Olive oil, Castor oil, Coconut oil, Vegetable glycerin, Koh, Water

Singkat cerita, setelah tiga bulan memakai Favorinse Body Wash, ada dua hal yang bisa dicatat. Pertama, body wash ini punya kekuatan sakti mengangkat kulit mati. Daki-daki menjijikkan di lipatan siku dan daerah leher luruh dengan air hangat dan gosokan yang tak seberapa keras. Sejujurnya, body wash inilah yang merenggangkan hubunganku dengan cactus brush yang menyakitkan.

Kedua, hal ini tak terlalu menyenangkan. Body wash keluaran Favorinse ini tak cukup ramah dengan kondisi kulitku yang super kering. Meski tak sampai meninggalkan bekas merah di kulit atau ruam, tetap saja kulit terasa menjadi kering. Akibatnya, aku harus mencolek sedikit lebih banyak body butter dan membalurkannya ke kulit. Semua demi memastikan supaya kulitku lebih lembab. Sialnya, ketika yang dibalur tak cukup banyak, di hari yang panas kumendapati garis-garis – sisik ular – di betisku. Bagiku ini lucu dan mengherankan, bagaimana produk dengan kandungan 85 persen minyak zaitun tetap membuat kulitmu kering?

Berkaca dari pengalamanku memakai produk ini, nampaknya body wash ini akan lebih cocok untuk orang-orang dengan kulit berminyak.  Kalau pun dirimu yang berkulit kering ingin mencobanya, kukira akan lebih baik kalau dirimu mengimbanginya dengan memakai sabun lain yang lebih melembabkan. Diriku sendiri hanya memakai body wash ini ketika mandi malam, ketika setelahnya kulit tak terpapar panas matahari. Di pagi hari, diriku memakai sabun lain yang lebih ampuh untuk melembabkan kulit.

Di sisi lain, kamu bisa menggunakan body wash ini tidak hanya untuk tubuh. Sifat body wash yang ‘mengeringkan’ ini juga akan sangat berguna untuk membersihkan brush dan alat make up. Sabun ini benar-benar punya kemampuan untuk mengangkat kotoran, dan membuat peralatanmu tidak lembab – yang menyebabkan bau tak sedap. Aku sendiri menggunakan sabun ini untuk membersihkan exfoliating brush. Hasilnya, brush yang nampak jorok bisa berubah seperti kondisi pertama kali beli.

 

Favorinse Charcoal + Oatmeal Mix Soaps

Sabun batang dari Favorinse hadir dalam sebuah wadah karton kecil berwarna abu terang. Keduanya berukuran separuh dari sabun konvensional. Rasanya sedikit janggal memakai sabun sekecil ini. Akan tetapi, harus kuakui kalau sabun ini pas di genggaman tangan.

review favorinse mix soap imasndra

Oatmeal Ingredients: Olive oil, Castor oil, Palm oil, Lye, Water, Oatmeal, Fragrance oil
Charcoal Ingredients: Olive oil, Castor oil, Palm oil, Lye, Water, Activated Charcoal, Fragrance oil

Selain wangi, diriku tak menemukan perbedaan mencolok dari dua varian sabun batang Favorinse. Varian oatmeal menguarkan wangi creamy dan grainy yang menurutku pas. Menghirup varian ini mengingatkanku pada aroma produk-produk khusus bayi.

Di sisi lain, varian charcoal agak sedikit menganggu. Meski sama-sama menguarkan bau khas produk bayi, varian charcoal terasa lebih pekat. Mungkin bisa begitu karena seharusnya kan activated charcoal tidak berbau. Jadi, agak aneh aja kalau varian ini baunya lebih kuat.

review-favorinse-charcoal-oatmeal_imasndra

Untuk performa membersihkan, sama dengan body wash, sabun batang ini berfungsi dengan sangat baik. Produk ini melunturkan sel kulit mati tanpa membuat kulit ruam. Akan tetapi, sama seperti produk sebelumnya, kondisi terlalu bersih membuat minyak alami di kulit ikut luntur – menyebabkan kulit menjadi super kering.

Perbedaan yang signifikan, nampaknya, hanyalah kemampuan kedua sabun batang ini memproduksi busa. Dibandingkan dengan body wash merek yang sama, sabun batang bisa menghasilkan busa yang jauh lebih. Apalagi ketika memakai shower puff, busa yang dihasilkan kedua varian sabun batang ini melimpah dan lebih creamy.

Sayangnya, dengan begitu sabun batang menjadi begitu boros ketika digunakan. Bahkan sabun ini begitu cepat larut ketika terkena air. Maka dari itu, diriku selalu menyimpannya dalam wadah plastik setelah menggunakannya. Selain itu, perlu dipastikan juga supaya air tidak menggenang dalam wadahnya. Bukan cuma supaya tak boros, tetapi juga memastikan agar sabun tak menjadi sarang kuman.

 

Alasan untuk beli! 😍

– Punya kemampuan exfoliate yang sakti;
– Dibikin dari bahan alami;
– Punya misi sosial untuk lingkungan.

Alasan untuk nggak usah beli 😢

– Sabun batangnya masih pakai palm oil;
– Sabun batangnya agak boros;
– Sabun batangnya berisiko menjadi sarang kuman         kalau tidak disimpan dengan baik;
– Nggak terlalu bagus untuk kulit kering.

Beli lagi?

Yups untuk body wash-nya! Kemasannya oke – reusable; bisa buat exfoliate; bisa buat bersihin brush dan alat make-up. Apa yang kurang coba?

Tapi untuk sabun batangnya, nggak. Meski varian oatmeal wanginya bikin relaks, kemasannya minimalis, dan punya kemampuan membersihkan yang oke – aku masih belum berniat untuk membeli lagi dalam waktu dekat. Hanya saja, kalau semisal ada varian matcha, aku bakal tertarik mencoba.

 

Nah, kalau kamu sudah pernah coba sabun artisan? Menurutmu apa bedanya sabun artisan dengan yang biasa?
Untuk kamu yang belum pernah coba sabun artisan, apakah dirimu tertarik mencoba?

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *