biteLIVING

Minum Kopi Sambil Menyelamatkan Hutan: Bagaimana Caranya?

Kopi hitam itu pahit. Kalau nggak, kenapa ada saja yang menambahkan sesendok gula atau lebih ke cangkirnya? Jadi ya, dari awal kenal istilah kopi, aku percaya kopi itu pahit.

Sampai suatu ketika, tepatnya ketika kerja sambilan semasa kuliah, aku dikenalkan dengan kopi oleh bossku. 

👨: Imas, ngopi ya?

👧: Eh…. Em…. 

👨: Udaah, coba dulu aja. Aku pesenin.

👧: Emm… Iya deh. Coba dulu, Mas…. 

👨: Oke.

(Pendek cerita, kopinya datang.)

👧: *nyeruput*

Baru sececap yang kurasakan, tapi sel-sel di kepala rasanya aktif seketika. Mirip ketika kamu menyalakan beberapa saklar lampu bersamaan ketika sore tiba.

kopi dan kalita

Di lidah, rasa asam jeruk nipis mendominasi di awal. Disusul rasa gurih khas kacang tanah. Lalu, sekilas sengatan rasa pedas dan pahitnya rasa cokelat yang tertinggal di pangkal lidah.

Tiap kali diseruput, kombinasi rasanya berubah. Kadang masam jeruknya makin kuat. Kadang rasa kacangnya yang mendominasi. Di lain waktu, rasa pahit cokelat memenuhi rongga mulut.

Setelah obrolan yang cukup panjang dengan Pak Boss dan barista, aku baru tahu kalau sensasi rasa unik itulah yang dicari dan dinikmati para pecinta kopi. 

Konon, setiap jenis kopi memiliki keunikannya masing-masing. Tergantung di mana pohon kopi itu ditanam dan tanaman lain apa yang ada di sekitarnya.

Menariknya lagi, satu jenis kopi juga bisa diseduh dengan 19 cara yang berbeda. Tiap-tiap cara seduh bisa dimodifikasi untuk mengeluarkan rasa khas yang diinginkan. 

Dari situlah aku mulai menyukai kopi. Tiap cangkir kopi punya cerita dan sensasi yang menarik. Itu mengapa minum kopi adalah sebuah pengalaman yang selalu membuat rasa penasaranku tak ada habisnya.

Apalagi kopi punya banyak sekali manfaat untuk tubuh. Jadi, aku tambah punya alasan yang kuat untuk mengeksplor berbagai kopi dari Indonesia dan luar negeri. 

Seiring perjalanan cicip-cicip itulah, aku jadi semakin kenal kopi. Bukan cuma rasa dan manfaatnya saja. Tapi juga bagaimana perjalanan kopi dari masih di hutan, tumbuh, dipanen, diproses, sampai dengan tersaji di warung dan cafe.

Dari proses kenalan, aku sadar, ternyata segelas kopi yang kunikmati itu berhubungan erat dengan asalnya. Dengan kelestarian hutan di mana ia tumbuh. Begitu juga dengan kesejahteraan petani yang merawat pohon kopi.

3 Alasanku Menyukai Kopi
1. Punya rasa yang unik;
2. Punya banyak manfaat untuk tubuh;
3. Punya pengaruh langsung ke kelestarian lingkungan.

 

Sebagai negara dengan hasil kopi ekspor terbesar ke-4 di dunia, ada banyak hal menarik soal kopi yang belum umum diketahui. Makanya, di artikel ini, aku pengen membahas beberapa hal soal kopi yang perlu diketahui orang.

Terutama soal manfaat kopi untuk tubuh, hubungan kopi dengan lingkungan, dan kopi macam apa yang baiknya dikonsumsi untuk menyelamatkan lingkungan.

5+ Manfaat Minum Kopi, Kata Penelitian

cangkir cappucino

Masih banyak orang menghindari kopi karena takut maag dan insomnia. Padahal, makanan dari hutan ini punya banyak manfaat. Di bawah ini adalah daftar 5+ manfaat kopi menurut penelitian.

1. Meningkatkan energi dan kerja otak

Kopi terkenal memiliki zat bernama kafein. Ketika dikonsumsi, zat ini akan meningkat hormon norepinefrin dan dopamin. Hasilnya, kamu akan merasa lebih bertenaga dan tak mudah capek.

Bukan cuma itu saja. Kafein juga membantu otak bekerja lebih aktif. Mood, ingatan, dan tingkat konsentrasi jadi jauh lebih baik.

2. Membantu meningkatkan performa fisik

Meminum kopi juga terbukti mempersiapkan stamina fisik. Kafein di dalam kopi membantu meningkatkan adrenalin yang mendukung aktivitas fisik yang berat. 

Kafein ini jugalah yang bertugas memecah lemak menjadi sumber tenaga. Jadi, kalau kamu mau berolahraga, “makanan” dari hutan ini bisa jadi doping bagus untuk tubuhmu.

3. Membantu diet

Kafein bisa memecah lemak jadi tenaga. Buat kamu yang sedang diet, ini sama artinya sambil menyelam minum air. Di satu sisi, kamu jadi lebih bertenaga ketika beraktivitas. Di sisi lain, lemak bandel di tubuh pada luntur.

Kandungan kafein di kopi juga bisa memperbaiki metabolisme tubuh. Semakin bagus metabolisme tubuhmu, semakin kecil kemungkinan kamu menimbun lemak. Ini artinya, kamu bisa sedikit rileks dan tak terlalu mengkhawatirkan berat badan ketika makan.

Baca juga: 15 Istilah Gaya Hidup Ramah Lingkungan yang Perlu Kamu Tahu

4. Mengurangi risiko penyakit berbahaya

Selain memperbaiki kondisi fisik dan mental, kopi juga terbukti mengurangi risiko penyakit berbahaya. Beberapa di antaranya adalah penyakit diabetes tipe-2, Alzheimer (demensia), Parkinson, sirosis, stroke, kanker hati, dan kanker usus besar.

5. Membantu melawan depresi dan risiko bunuh diri

Kopi membantu tubuh melepas hormon dopamin. Hormon dopamin inilah yang memicu perasaan bahagia. Jadi, kalau kamu minum kopi, risiko untuk terkena depresi jauh lebih kecil.

Omongan di atas bukan cuma asumsi lho. Sebuah penelitian selama 10 tahun mengungkap orang yang minum kafein dalam jumlah lebih banyak, punya risiko lebih kecil terkena depresi. 

Penelitian yang hampir mirip juga menemukan peminum kopi punya risiko 53% lebih kecil untuk melakukan bunuh diri.

6. Mengandung nutrisi dan antioksidan

Selain kafein, kopi ternyata mengandung nutrisi dan antioksidan yang baik untuk tubuh. Misalnya, vitamin B2, B3, B5, magnesium, dan potassium. Kandungan inilah yang membuatmu nggak gampang sakit.

Di negara-negara dengan konsumsi kopi yang tinggi, “makanan” dari hutan ini justru jadi sumber antioksidan nomer satu. Banyak orang justru mendapatkan antioksidan dari tanaman hutan ini dibandingkan dengan sayur atau buah lainnya.

Bagaimana? Ternyata banyak juga kan manfaat kopi? 

Setelah tahu banyak manfaat kopi untuk tubuh, saatnya kita bahas manfaat kopi untuk lingkungan sekitarnya. Secara, biji kopi terbaik akan tumbuh di lingkungan yang terawat. 

Jadi, kalau kita minum kopi dari sumber yang baik, tentu saja kita secara nggak langsung ikut melestarikan lingkungan. Kok bisa? Jawabannya ada di bawah.

Baca juga: 3 Rekomendasi Pasta Gigi Ramah Lingkungan

3 Alasan Kenapa Minum Kopi Ikut Menyelamatkan Hutan

menyeduh kopi v60

Kopi bukanlah mobil atau minyak yang banyak dijual-belikan. Malahan, menurut data selama 2013-2017, kopi menempati posisi 500-an untuk produk yang banyak dijual-belikan secara global.

Meski posisinya tak tinggi, angka ekspor kopi masih di angka $30 miliar atau Rp410 triliun. Indonesia sebagai eksportir kopi terbesar ke-4, mendapatkan penghasilan setidaknya $1,3 miliar atau Rp17 triliun. Itu baru angka ekspor saja. Belum lagi penjualan dalam negeri.

Dengan angka penjualan sebegitu besarnya, kok rasanya nggak mungkin kalau nggak ada dampaknya ke lingkungan. Makanya, di sini aku pengen cerita apa hubungan kopi dengan kelestarian lingkungan.

1. Kopi itu barometer kelestarian lingkungan

Yup! Kamu nggak salah baca. Kopi itu adalah salah satu barometer kelestarian lingkungan. Soalnya, ketika pemanasan global terjadi, kopi adalah salah satu tanaman yang terdampak. 

Kenaikan suhu 2-2,5℃ dalam beberapa dekade ke depan, akan sangat berpengaruh ke produksi kopi Arabica. Menurut penelitian, pemanasan global tidak hanya akan mengurangi produksi kopi. Melainkan juga menurunkan kualitas kopi, meningkatkan risiko hama, dan penyakit tanaman.

Kalau sampai pemanasan global terjadi, Indonesia jelas akan merasakan pengaruhnya. Diprediksi lahan kopi Indonesia bisa menyusut sampai 37%.

2. Kopi berhubungan langsung dengan keanekaragaman hayati

Pohon kopi sangat mendukung keanekaragaman hayati di hutan. Asalkan, pohon kopi itu ditanam dengan metode agroforestri alias ditanam bersama pohon-pohon lain alias bukan perkebunan

Istilah komersilnya, shade-grown coffee. Bukan, sun-cultivated coffee.

Pohon kopi yang tumbuh liar di hutan memungkinkan banyak pohon yang lebih besar untuk menaunginya. Pohon-pohon besar inilah yang akan jadi habitat untuk burung, serangga, dan binatang hutan lainnya. 

Di saat yang sama, pohon-pohon ini jugalah yang menghindarkan hutan dari erosi dan kehilangan zat hara. Dengan kata lain, kalau kopimu dipanen dari hutan, kopimu jugalah yang mendukung hutan agar tetap alami.

Coba bandingkan dengan kopi dari perkebunan. Tempat tumbuhnya tak bisa dijadikan habitat hewan, risiko erosi lebih tinggi, pupuk kimia kerap dipakai, belum lagi risiko hama dan penyakit tanaman juga tinggi.

Baca juga: Hal-Hal Soal Gaya Hidup Minimalis yang Belum Banyak Dibahas

3. Pilih-pilih minum kopi justru mengurangi deforestasi

Produksi kopi di dunia meningkat 2% tiap tahun sejak 1989. Ucapkan terima kasih pada kemajuan teknologi dan sistem pertanian yang lebih efisien. 

Namun, tak bisa dipungkiri, peningkatan produksi juga disebabkan oleh deforestasi. Setidaknya 100.000 hektar hutan atau seluas 140.000 lapangan sepak bola dibuka untuk perkebunan kopi. 

Kalau saja kita lebih peduli pada asal biji kopi yang kita minum, kita bisa setidaknya mengurangi kemungkinan untuk meminum biji kopi dari perkebunan yang tidak ramah lingkungan.

Yak! Kopi yang kita minum sehari-hari ternyata mempengaruhi kelestarian lingkungan, kan? Kalau sudah begitu, tentu kamu perlu pilih-pilih ketika minum kopi. Jangan sampai kopi yang kamu minum malah memperburuk kondisi bumi.

Nah, pertanyaan selanjutnya: bagaimana caranya membedakan kopi yang eco-friendly dengan yang tidak? Jawabannya ada di bawah.

Bagaimana Memastikan Kopimu Ramah Lingkungan?

Ada banyaaaak sekali hal yang menentukan kopi itu ramah lingkungan atau tidak. Mulai dari di mana pohon itu ditanam, metode apa yang dipakai untuk mengolah biji kopi, cara seduh, sampai cara penyajian.

Dari sekian banyak hal itu, tentu sangat sulit menemukan satu jenis kopi yang betul-betul ramah lingkungan. Namun, setidaknya, kita berusaha untuk mencari jenis kopi yang paling tidak berdampak buruk ke lingkungan.

Ketika kamu ingin minum kopi, coba untuk sebisa mungkin lakukan hal-hal di bawah:

1. Hindari kemasan sekali pakai

Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk habiskan segelas kopi? Lima menit? Setengah jam? Atau malah lebih?

Selambat-lambatnya kamu minum kopi, berani taruhan, kamu takkan membiarkan kopimu lebih dari sehari. 

Namun, faktanya, 1 miliar gelas kopi sekali pakai dibuang. Kalau dikira-kira, jumlah ini sama dengan 60 ton sampah setahun. Setahun! 

Angka sebesar itu baru terjadi di Australia. Belum di tempat yang lain. Bayangkan berapa kira-kira sampah kemasan kopi yang ada di dunia.

Lagi, butuh 30 tahun supaya kemasan kopi terurai. Itu perkiraan paling cepat. Kalau kamu beli kopi dengan kemasan plastik, bisa jadi waktu terurainya lebih lama.

Jadi, tak usah ditanya lagi. Selalu hindari kemasan sekali pakai. Entah itu gelas plastik, gelas kertas, ataupun kemasan sekali pakai lainnya.

Sebagai gantinya, gunakan gelas, tumbler, atau tempat minum lainnya.

2. Pilih biji kopi yang tepat

Secara garis besar, ada tiga metode pemrosesan biji kopi. Ketiganya, yaitu washed (cuci), natural (alami/dikeringkan), dan honey (campuran).

Kalau kamu menganggap “efisien energi” sebagai salah satu cara menentukan ramah lingkungan atau tidak, kamu perlu memperhatikan lebih jeli jenis biji kopi yang kamu pilih.

  • Washed ━ buah kopi dicuci bersih dan dipisahkan dari bijinya. Metode ini memerlukan banyak air tapi bisa menghasilkan rasa kopi yang khas. Tak heran kalau metode ini sering dipakai untuk menghasilkan kopi dengan skor 90+.
  • Natural ━ buah kopi dipisahkan dari bijinya dengan cara dikeringkan. Metode ini lebih hemat tenaga karena biasanya mengandalkan panas sinar matahari. Akan tetapi, rasa kopi yang dihasilkan kurang seragam.
  • Honeybuah kopi dicuci lebih dulu kemudian dikeringkan. Metode ini cenderung membutuhkan waktu yang lama untuk dilakukan. Banyak petani kopi yang menggunakan metode ini untuk meningkatkan kualitas dan harga jual produknya.

Jika menurut standar “efisien energi”, kopi paling eco-friendly akan jatuh pada biji yang diproses secara natural.

Tapi tentu saja aturan ini tidak saklek. Toh, mulai banyak inisiatif untuk membuat proses washed lebih ramah lingkungan. Meski, pada kenyataannya, belum ada jumlah pasti berapa banyak kopi yang dihasilkan dengan cara itu.

Baca juga: 5+ Perempuan Berbagi Review Menstrual Cup

3. Pilih metode penyeduhan kopi yang efisien

Ketika hemat energi dimasukkan dalam hitung-hitungan ramah lingkungan, metode seduh jadi perlu kamu pikirkan. 

Logika sederhananya: semakin sedikit energi yang dipakai, semakin baik untuk lingkungan.

Kalau kamu sepakat dengan pikiran macam itu, bersiaplah untuk kembali ke metode seduh yang lebih sederhana. Misalnya, kopi tubruk, kopi filter, dan metode manual brewing lainnya.

Bandingkan dengan metode seduh dengan mesin, terutama mesin-mesin berkapasitas besar. Di mana butuh banyak tenaga hanya sekedar untuk memanaskan airnya saja.

Namun, lagi-lagi, jangan saklek menerapkan panduan ini. Sebab, tentu saja, ada beberapa pengecualian.

Metode seduh manual pun bisa saja kurang ramah lingkungan. Terutama kalau energi yang dipakai tidak efisien. Contohnya, air terlalu banyak terbuang, terlalu lama memasak air, serbuk kopi terbuang, dan sebagainya. 

Pengecualian lain, misalnya, kopi kapsul ternyata juga ramah lingkungan. Apalagi kopi kapsul yang dibuat dengan kemasan alumunium.

Alih-alih memakai rumus kaku untuk membedakan mana yang eco-friendly dan tidak, baiknya kamu memastikan kalau cara seduh kopimu tetap hemat energi.

4. Pilih kafe yang punya semangat “specialty”

Cara lain untuk memastikan kopimu eco-friendly, ialah minum di kedai yang punya semangat “specialty”. Kedai macam ini biasanya takkan sembarang menjual biji kopi. Dengan kata lain, kopi yang dijual pastinya berkualitas dan sumbernya pun jelas.

Jika memungkinkan, pilih biji kopi yang direct source. Artinya, kopi yang dimaksud dibeli langsung dari petani. Dengan begitu, petani mendapat harga jual yang lebih layak daripada metode penjualan lainnya.

Akan lebih bagus lagi, kalau kamu membeli kopi yang punya sertifikat. Sertifikat ini memudahkanmu untuk mengecek apakah benar kopi yang kamu minum betul-betul ramah lingkungan. Nanti, kamu akan menemukan penjelasan lebih lengkapnya.

Dengan seabrek nilai di atas, kedai kopi specialty jelas beda dengan kedai-kedai pada umumnya. Terutama kalau bicara kopi di gerai fast-food. Kopi di sana umumnya memakai kopi kualitas rendah. Praktis, dari mana sumber kopi dan bagaimana ia ditanam agak sulit untuk dilacak.

5. Beli kopi yang punya sertifikasi

Seperti yang sudah dibilang sebelumnya, membeli kopi tersertifikasi adalah cara termudah memastikan kopi yang ramah lingkungan. Berikut adalah macam-macam sertifikasi internasional untuk kopi:

Sertifikasi Kopi  Indikator Sertifikasi
Rainforest Alliances
  • Konservasi keanekaragaman hayati
  • Kesejahteraan masyarakat sekitar
  • Konservasi sumber daya alam
  • Perencanaan dan sistem manajemen pertanian yang efektif
4C Memuat 27 prinsip yang menyangkut aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Fairtrade Memuat 10 prinsip yang fokus ke sisi kesejahteraan petani kopi dan masyarakat sekitarnya.
Organic Standar sertifikasi yang memastikan produk tidak memakai pestisida, herbisida, maupun bahan kimia lainnya.
UTZ Standar sertifikasi untuk manajemen pertanian, perlindungan lingkungan, kondisi kerja yang ramah dan aman, dan menghilangkan praktik kerja anak.

 

Kelima sertifikasi di atas akan memudahkan kamu memilih kopi eco-friendly. Namun, jangan serta merta terjebak pada label saja.

Sebab, pasti lebih banyak kopi yang tidak tersertifikasi daripada yang iya. Selain menilik label, ada baiknya untuk membeli kopi lokal dan direct source.

Intinya, pastikan kamu tahu sumber kopi yang kamu minum. Dengan begitu, kamu bisa memastikan sendiri apakah kopi tersebut termasuk ramah lingkungan atau tidak.

Minum Kopi Sambil Menyelamatkan Lingkungan, Kenapa Enggak?

Ada banyak hal yang terjadi di balik segelas kopi. Jadi, rasanya tidak berlebihan untuk bilang:

minum kopi = menyelamatkan lingkungan

Semakin banyak tahu tentang kopi, semakin kamu bisa memilih produk mana yang baik. Sebuah langkah kecil untuk ikut menyelamatkan lingkungan.

Tentu saja, langkah yang disebut di atas tidak cukup. Secara, ada banyak sekali pekerjaan rumah yang perlu dilakukan. Terutama oleh pemerintah dan pemain di industri kopi. 

Mulai dari memastikan regulasi yang mendukung petani, memastikan sistem harga yang transparan, mendorong sertifikasi kopi agar menguntungkan petani, dan sebagainya.

Namun, dari langkah kecil lah semua dimulai. Sambil semua pekerjaan besar itu dilakukan, kita sendirilah yang memulai kesadaran untuk mengonsumsi kopi ramah lingkungan.

 

Artikel ini diikutsertakan dalam kompetisi Forest Cuisine Blog Competition atas kerja sama WALHI dan Blogger Perempuan.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *