minimalist work desk in bedroom

Hal-Hal Soal Gaya Hidup Minimalis yang Belum Banyak Dibahas

Ini merupakan artikel pertama dari serial mengenai gaya hidup minimalis.

Gaya hidup minimalis mulai diminati di Indonesia. Jumlah pengikutnya tak bisa dibuktikan statistik, memang. Tapi banyaknya artikel yang membahas gaya hidup ini kira-kira bisa dijadikan gambaran.

Bukti konkret banyaknya peminat minimalisme ─ sebutan lain untuk gaya hidup minimalis ─ amat kentara ketika Tirto mengeluarkan artikel Tidying Up with Marie Kondo: Kapitalis Jepang Perampok Duit Pemalas.

Artikel tersebut menyebut Marie Kondo sebagai perampok dan pengikutnya sebagai pemalas. Tak butuh waktu lama untuk Tirto dikritik habis-habisan oleh warga net.

Banyak yang menganggap artikel itu penuh pretensi dan cacat logika. Alih-alih menulis dengan sudut pandang berimbang, misal soal pengaruh ajaran Shinto pada metode Konmari, Tirto hanya memilih fakta-fakta berkonotasi negatif.

Namun, terlepas dari kontennya yang problematik, artikel Tirto membuatku ikut bertanya-tanya: sebenarnya apa itu minimalisme?

Sebagai seorang minimalis yang picky dalam belanja, ada kalanya aku merasa minimalisme justru amat mewah. Latar serba putih, lantai kayu, dan furnitur ciamik ─ lebih sering mengundang orang membeli barang-barang untuk mempercantik ruangannya.

wooden table with white lamp and table
Photo by Atilla Taskiran

Tentunya, gambaran gaya hidup minimalis yang estetis itu bukan hal yang murah. Selain juga, gambaran minimalisme macam ini justru jauh dari tujuan awal, mental “cukup” itu sendiri.

Karenanya, aku mencoba mencari lebih jauh tentang minimalisme. Serial artikel ini adalah rangkuman pencarianku soal gaya hidup minimalis. Di artikel yang pertama, aku akan membahas asal usul tren minimalis dan macam-macam penganutnya.

Asal Usul Tren Minimalis

Gaya hidup minimalis mulai populer di Amerika Serikat (AS) setelah krisis ekonomi global di tahun 2008. Di mana lebih dari 5,5 juta penduduk AS kehilangan pekerjaan dan rata-rata kepala keluarga (KK) kehilangan pemasukan hingga $5.800.

Jadi, tak aneh kalau banyak orang mempraktikkan minimalisme untuk bertahan hidup. Orang-orang di AS mulai mengurangi belanja, menggunakan barang yang sudah ada (re-use), melakukan Do-It-Yourself (DIY) dan bahkan menyewa atau saling meminjam barang.

Namun, alih-alih dianggap sebagai solusi, praktik minimalisme diromantisasi oleh buku-buku self-help. Ia dianggap tak lebih dari sekedar hobi pada umumnya.

Minimalisme “hanyalah” cara memenuhi aktualisasi diri seseorang. Seolah-olah praktik minimalis dan krisis ekonomi tak ada hubungannya.

Itu mengapa, kata Dopierala (2017), agak sulit melacak asal-usul gaya hidup ini secara objektif. Sebagai gantinya, kita hanya bisa mengenal minimalisme dari testimoni-testimoni para penganutnya.

Misalnya, testimoni dari Joshua Fields Millburn dan Ryan Nicodemus. Dua tokoh sentral dalam dokumenter Minimalism: A Documentary About the Important Things.

joshua millburn and ryan nicodemus speaking
Joshua Fields Millburn (kiri) dan Ryan Nicodemus (kanan).

“Minimalism is a tool that can assist you in finding freedom. Freedom from fear. Freedom from worry. Freedom from overwhelm. Freedom from guilt. Freedom from depression. Freedom from the trappings of the consumer culture we’ve built our lives around. Real freedom.”

Joshua menemukan minimalisme setelah ibunya meninggal dan ia diceraikan istrinya di bulan yang sama. Setelah itu, Joshua bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya penting dalam hidup. Minimalisme berhasil menjawab pertanyaan itu. Ia akhirnya menyimpulkan, dengan kutipan yang khas, “Love people and use things, because the opposite never works.”

Partner Joshua, Ryan, pun punya cerita yang mirip. Setelah menjabat posisi tertinggi di perusahaan, ia tak lekas menemukan kebahagiaan yang ia inginkan. Ryan merasa lelah dengan hidup sebagai korporat dan kultur konsumerisme yang meliputinya.

Tanda-tanda krisis ekonomi juga menyadarkan ia kalau semua hal ia miliki bisa hilang dalam sekejap. Ketika itu terjadi, apa lagi yang penting? Di saat itulah ia mengiyakan ajakan Joshua untuk mempraktikkan gaya hidup minimalis.

Tanpa obsesi pada barang, mereka dan pengikut minimalisme lainnya, bisa fokus ke hal-hal yang benar-benar penting. Mereka bisa menghargai pengalaman baru dari kulineran, traveling, kursus, dan sebagainya. Minimalis juga bisa menghargai komunikasi dengan orang-orang terdekat.

Cerita serupa juga dimiliki Joshua Becker, seorang penulis dan penggagas gerakan Becoming Minimalist.

Di pertengahan 2008, Joshua berbincang dengan tetangganya saat tengah membereskan rumah. Lewat percakapan itu, Joshua menyadari bahwa dirinya memiliki terlalu banyak barang tanpa benar-benar menggunakannya.

Dari situ, Joshua mengurangi barang-barangnya dan mulai mempraktikkan minimalism. Setelahnya, ia mengaku hidupnya menjadi jauh lebih bermakna.

“…we discovered more money, more time, more energy, more freedom, less stress, and more opportunity to pursue our greatest passions: faith, family, friends….”

joshua becker
Joshua Becker

Ingin berbagi manfaat, Joshua Becker pun menulis enam buah buku soal gaya hidup yang dipraktikannya. Ia terus berkampanye soal  gaya hidup minimalis. Karenanya, Joshua dinobatkan sebagai sepuluh besar pemilik website self development terpopuler di tahun 2015.

Di Indonesia sendiri, minimalisme dikenal karena Marie Kondo. Ide bersih-bersih ala Kondo atau Konmari pertama dikenalkan lewat buku Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang yang diterbitkan Bentang Pustaka pada Agustus 2016.

Namun, menurut Ubersuggest dan Google Trends, kepopuleran gaya hidup minimalis baru melonjak sejak November 2018. Jauh sebelumnya, gaya hidup minimalis masih diasosiasikan dengan desain rumah, penataan ruang, dan tren musik serta seni di dekade 50 sampai 60-an.

Macam-macam Penganut Minimalis

Karena tak ada asal-usul yang objektif, kita hanya bisa memahami minimalisme dari mereka yang mempraktikannya. Padahal, pemaknaan satu orang dengan yang lainnya jelas bisa berbeda. Tanpa asal-usul yang jelas pula, minimalisme bisa saja menyimpang dari tujuan awalnya.

Untungnya, Dopierala tertarik untuk mengetahui bagaimana saja minimalisme dimaknai. Ia mengelompokkan macam-macam pemaknaan soal gaya hidup minimalis.

Ia menemukan ada tiga cara memaknai minimalisme: minimalis sebagai bentuk anti-konsumerisme, minimalis sebagai gaya konsumsi, dan minimalisme sebagai mindset konsumsi.

Anti-konsumerisme

Bagi sebagian orang, minimalisme adalah solusi dari sistem ekonomi saat ini tidak efektif. Ada terlalu banyak barang yang diproduksi dan terlalu banyak sampah yang mengikutinya.

Hal ini diperparah dengan iklan dan promosi yang membuat orang semakin impulsif dan tak rasional dalam membeli barang. Mereka membeli barang tanpa perhitungan dan membuangnya dengan cepat. Entah karena alasan ketinggalan tren, barang yang dibeli mudah rusak, atau sekedar karena bosan.

people roaming at black friday
Orang-orang berjejalan ketika belanja di momen Black Friday.

Penganut minimalis yang anti-konsumerisme biasanya ingin membedakan diri dari golongan orang-orang yang “gila” diskon.

Mereka menggambarkan penggila diskon sebagai orang yang barbar dan tidak rasional. Penggila diskon siap menerjang lautan manusia, berebut jalan dan bahkan menginap di depan toko, demi mendapatkan barang dengan setengah harga.

Sebaliknya, penganut minimalisme digambarkan sebagai orang yang rasional. Mereka tahu berjejal demi barang diskonan takkan membuat mereka bahagia. Mereka merasa cukup dengan apa yang mereka punya.

Gaya konsumsi

Berbeda dengan sebelumnya, penganut minimalisme yang ini tak menolak sistem ekonomi. Minimalisme justru menganggap sistem ekonomi memberikan opsi untuk mengonsumsi barang yang lebih berkualitas, fungsional, dan estetis (jelas dengan harga yang lebih mahal).

Selain membeli barang, cara konsumsi pun turut berubah. Penganut minimalisme juga lebih menghargai hal-hal yang bukan barang, seperti traveling, wisata, seni, dan lainnya.

Mindset konsumsi

Aliran minimalis yang ini selalu menghindari kepemilikan barang yang berlebih. Mereka melakukan banyak hal untuk mengurangi barang yang tak berguna atau jarang dipakai. Beberapa cara yang dilakukan contohnya, menyumbangkan barang, menjualnya, menukarnya, memperbaiki, dan lainnya.

Sebelum membeli sebuah barang, pengikut minimalis ini juga selalu bertanya, “Apakah aku benar-benar membutuhkan barang ini?”

Kalau kamu kira-kira masuk tipe minimalis yang mana?

Mungkin agak sulit ya, untuk memutuskan. Karena kalau dipikir, ketiga kelompok minimalis ini memang tak punya sekat yang jelas. Seorang minimalis bisa memahami minimalisme dengan beberapa cara sekaligus.

Kesimpulan

Gaya hidup minimalis ternyata punya asal-usul yang cukup unik. Alih-alih punya sejarah yang objektif, gaya hidup ini didefinisikan dari pemahaman para pengikutnya.

Di artikel berikutnya, kita akan mengulas kekurangan dari gaya hidup ini.

Spoiler: kritik soal minimalisme ini masih ada hubungannya dengan macam-macam pemaknaan di atas. Penasaran, kan? Tunggu artikel berikutnya ya!

Bacaan dan materi lainnya:

Renata Dopierala. Minimalism ─  A New Mode of Consumption? http://cejsh.icm.edu.pl/cejsh/element/bwmeta1.element.desklight-7c20a1b2-6de6-43d8-a678-5914cbc6f3f3/c/04_Dopierala.pdf

16 comments on “Hal-Hal Soal Gaya Hidup Minimalis yang Belum Banyak Dibahas

  • Wilingga , Direct link to comment

    Saya juga kelak membayangkan ingin hidup minimalis saja. Lebih teratur rasanya. Ini sekarang lagi cari2 referensi buat minimalis. Terimakasih telah menjadi salah satu referensi.

    • imasndra , Direct link to comment

      Wah, ikut seneng deh Mbak kalau minimalisme bisa bikim Mbak ngerasa hidup teratur. Semangat, Mbak! Semoga ke depan bisa berbagi juga soal gaya hidup minimalis 🙂

  • Amel , Direct link to comment

    Saya sekarang sedang menuju minimalisme, tertular dari suami. Dia punya barang, misalnya jam, cukup 1 saja sampai benar2 tidak fungsional lagi. Sepatu, tas pun begitu. Saya si ‘pemulung’ karena hobi ngumpulin barang dan merasa semua barang ada spark of joy, perlahan2 mulai melepas, sementara baru saya berikan ke orang, nantinya mungkin ada garage sale. Tapi yang paling kentara adalah make up saya yg habis 1 baru beli 1. Ternyata menyenangkan dan menenangkan! Btw, salam kenal, mampir ya ..

    • imasndra , Direct link to comment

      Hi, Mbak Amel! Salam kenal 😀
      Ikut seneng deh kalau Mbak jadi lebih senang dan tenang karena minimalism. Repurchase setelah barang beneran habis itu emang nyenengin dan nggak bikin barang numpuk ya.

  • Dyah , Direct link to comment

    Gaya hidup minimalis memang selalu menarik untuk dibahas. Saya kadang merasa sebagai orang yang hidupnya minimalis, tapi nggak ekstrem. Mungkin lebih ke arah hemat dibandingkan minimalis.

    • imasndra , Direct link to comment

      Gaya hidup minimalis nggak perlu ekstrim kok, Mbak. Mengurangi barang yang kurang perlu dan pikir panjang sebelum belanja udah termasuk mental minimalis kook 😀

  • Soviana Maulida , Direct link to comment

    Artikel itu emang sempet bikin rame, termasuk saya yang agak mengernyitkan dahi saat membacanya. Tapi untuk nerapin gaya hidup minimalis memang ndak mudah sih. Hiks..

    • imasndra , Direct link to comment

      Semangat, Mbak! Ndak perlu memaksakan diri untuk rombak gaya hidup. Satu per satu pasti nanti jadi kebiasaan 🙂 Kalau ada progres ikut bikin postingan soal gaya hidup minimalis dong, Mbaak.

    • imasndra , Direct link to comment

      Iyaa, Mbak. Ternyata Indonesia ketinggalan lama juga ya. Kayanya banyak tran juga yang kita ketinggalan. Tren podcast yang baru-baru ini, misalnya. Di Amerika udah mulai dari 2004. Telat lebih dari 10 tahun kita 🙁

  • Echa , Direct link to comment

    Aku dulunya bisa dibilang demen beli sesuatu tanpa mikir butuh atau enggaknya. Kayak gampang “lapar mata”, gampang terpengaruh iklan, impulsif saat di pusat perbelanjaan, misalnya untuk benda-benda seperti baju, aksesoris, kosmetik, pernak-pernik dekorasi ruangan, juga alat dapur. Beberapa tahun belakangan, aku mulai nggak nyaman dengan keadaan rumah (terutama kamar tidur) yang semakin penuh barang, kebanyakan bukan barang yang penting kugunakan sehari-hari. Mulai deh lebih hati-hati kalau mau membawa pulang barang ke rumah, hahaha… terima kasih sudah berbagi hasil penelusuranmu tentang gaya hidup minimalis, Mbak 🙂 kutunggu artikel berikutnya!

  • Ghina , Direct link to comment

    Kayaknya saya termasuk yg sedang menerapkan ketiganya meskipun belum total jg. Tp tantangan stlh balik ke Indo yg nomer 1 itu agak susah. Hehe. Salam kenal mba Imas

    • imasndra , Direct link to comment

      Halo, Mbak Ghina. Salam kenal juga. Menerapkan minimalisme belum total juga nggak papa kok, Mbak. Kukira memang sulit kalau harus totalitas. Kecuali kita punya sawah dan apa-apa sendiri, jadi ga perlu belanja. Hehehehe. Terima kasih sudah mampir 😀

  • Roem Widianto , Direct link to comment

    Gak terasa ternyata selama ini saya sudah mempraktikkan gaya hidup minimalis karena punya sifat hemat bin ngirit. Sesuai dengan motto saya “ngirit pangkal kaya”. Hehehe.😂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *