Yang Bertahan dan Binasa Perlahan, Okky Madasari

Ini adalah serangkaian kisah tentang pertarungan dan daya tahan manusia. Ada yang melawan dan bertahan, ada yang lari dan menyembunyikan diri. Ada yang tak punya pilihan selain binasa perlahan.

Cerita-cerita dalam buku ini hanya satu upaya kecil untuk menghayati makna kita sebagai manusia.

***

Pekat malam tak mampu menyembunyikan ketakutannya. Di ujung geladak, ia berdiri – melempar pandang bergantian pada kerlip bintang dan kapal-kapal nelayan yang merayap perlahan. Selebihnya hanya ada ruang gelap, hamparan air yang koyak, dan dingin malam tak lagi ia pedulikan. Rasa perih di kulit membuatnya yakin, ia tak sedang bermimpi.

Ini kali pertama Bandiman, nama lelaki itu, meninggalkan kampungnya. Sebuah desa terpencil di balik Gunung Lawu, di mana padi tak bisa tumbuh. Tempat di mana gubuk bambu beratap daun kelapa menjadi naungan sebagian besar warganya. Sedangkan yang kaya, tinggal dalam rumah bata yang hangat dengan nasi memenuhi perut mereka.

Di sanalah Bandiman dibesarkan dengan amarah orang tuanya. Lebih-lebih, setelah ia ditemukan warga di hutan pada suatu malam. Bandiman, yang belum genap 20 tahun, sedang asik masuk dengan seorang gadis. Dari si gadislah ia akhirnya memiliki tiga orang anak. Meski begitu, amarah orang tuanya tak juga luntur. Ia tetaplah aib keluarga. Jadilah, pelarian ke pulau seberang sebagai satu-satunya cara mengembalikan harga diri Bandiman.

 

“Yang Bertahan dan Binasa Perlahan” membuka kumpulan cerpen karya Okky Madasari dengan memoar sebuah orde. Cerita sepanjang 50 halaman itu mengajak pembaca menemani Bandiman, seorang transmigran, dalam sebuah perjalanan panjang ke pulau seberang. Bukan untuk bersenang-senang, melainkan memulai kehidupan dari awal berikut dengan segala ketidakpastian. Setiap lembarnya, pembaca dibiarkan merunut masa lalu Bandiman. Lantas memahami bagaimana perasaan eksil muncul dari tanah kelahirannya itu. Dalam lamunan Bandiman, kita pun ikut bertanya: apakah benar pulau seberang akan membebaskannya dari kemelaratan? Bagaimana kalau ia sendiri tak betah? Bagaimana kalau semua yang dijanjikan petugas pemerintah itu bohong?

Okky Madasari menawarkan sudut pandang yang tak umum dalam memaknai hidup. Bukan saja karena cerita-ceritanya agak mangkir dari tema romansa, tetapi karena ditulis dari sudut pandang mereka yang terpinggirkan. Dengan intim Okky memotret kegelisahan mereka, hingga pembaca dibuat sama gelisahnya.

Begitu juga yang ditunjukkan dalam “Laki-Laki di Televisi” dan “Dua Pengantin”. Kedua cerpen tersebut sama-sama menawarkan bahasan iman. Yang pertama mengisahkan penyangkalan seorang ibu setelah anak lelaki satu-satunya dikabarkan menjadi teroris. Keyakinan teguh Sang Ibu seolah tak ada artinya dibandingkan dengan riuh pemberitaan televisi dan bagaimana egoisnya mereka mengarang cerita sendiri. Sedangkan “Dua Pengantin” memberi kesempatan pembaca untuk menyaksikan detik-detik terakhir ‘pengantin’ yang hendak dijemput ‘bidadari surga’. Fragmen tersebut menampakkan sisi paling manusiawi dari ‘si pengantin’. Badrun yang tak sepenuhnya ingin dijemput bidadari, begitu merindukan anak dan istrinya. Sedangkan Rozi, sudah begitu mantap dengan keputusannya, (atau justru tak peduli lagi?) terobsesi untuk membuktikan bahwa dirinyalah yang bisa membahagiakan ibunya di surga kelak. Apalagi kalau bukan imbalan dari mati syahid.

Tak lupa, Okky juga membicarakan persoalan gender. Lewat “Perempuan Pertama” ia membuat tafsir tandingan kehidupan manusia-manusia pertama di surga. Apa jadinya kalau Hawa dan Adam turun ke bumi atas pilihannya sendiri, dan bukan karena keduanya dihukum oleh Tuhan? Satu lagi yang mengangkat tema gender adalah “Saat Ribuan Manusia Berbaris di Kotaku”. Cerpen penutup buku dengan begitu apik menyuguhkan konflik keluarga yang begitu dekat dengan pembaca. Dimulai saat televisi mulai menayangkan berita demonstrasi besar-besaran menyoal penistaan agama. Di mana sang ayah – yang sudah lama mengidap stroke pun sebenarnya tak religius, mulai mengomentari kejadian di televisi dan mempertanyakan iman anak-anaknya. Di sinilah, pembaca dipaksa berpihak pada salah satu aktor dan memimikkan emosi mereka. Pembaca dibuat mengumpat kesal karena tak mampu urun suara dalam cerita. Atau setidaknya, mengumpat karena itulah yang terjadi pada diri mereka.

 

Bagi saya, karya Okky Madasari adalah sebuah tawaran untuk melihat kembali kehidupan. Tema-tema yang diangkat begitu dekat, tetapi sering luput dari perhatian. “Yang Bertahan dan Binasa Perlahan” membuat kita paham bahwa memulai hidup baru di tanah asing tidak pernah mudah. Entah itu berpindah kota, pulau, atau negara. Entah sukarela atau terpaksa, semua tetap penuh ketidakpastian. Kisah ini memberi gambaran sulitnya kehidupan bagi transmigran, imigran dan pengungsi.

“Laki-Laki di Televisi” dan “Dua Pengantin” menyindir keganasan kita dalam mendakwa orang lain. Tanpa tahu faktanya, kita seringkali menyuruk mereka dalam stigma. Lupa bahwa jangan-jangan kita juga ikut andil membuat mereka masuk dalam segala hal yang kita labeli sebagai ‘menyimpang’, ‘jahat’, dan ‘radikal’.

“Perempuan Pertama” dan “Saat Ribuan Manusia Berbaris di Kotaku” menangkap fenomena partiarkal yang ada di sekitar kita. Dalam kedua cerpen itu, Okky mengajak kita bertanya: kenapa perempuan tak boleh independen? Kenapa kita tak boleh punya suara sendiri? Kenapa, terlepas dari segala prestasi dan pencapaian, ujung-ujungnya perempuan hanya ditanya kapan menikah dan punya anak?

Bersama keempat belas cerpen lainnya, Okky Madasari berhasil mempertanyakan sisi kemanusiaan kita masing-masing. Adakah hidup ini sudah kita jalani dengan sepatutnya? Atau (barangkali) hidup nyaman yang kita rasa ini menggilas orang lain?

Ketika banyak fiksi yang menyuguhkan pelarian dari dunia, karya Okky Madasari justru menghilangkan jarak dari apa yang luput dari perhatian kita. Karya ini bukan saja membantu kita membaca realitas sosial kekinian, tetapi menyadarkan kita pada satu hal: pada akhirnya kita akan bertahan atau binasa perlahan.

 

  • Nilai: 4/5
  • Judul: Yang Bertahan dan Binasa Perlahan
  • Penulis: Okky Madasari
  • Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
  • ISBN: 9786020361215
  • Cetakan: Pertama
  • Jumlah halaman: 196 + 20 halaman
  • Harga: Rp 55.000,-

You may also like

2 Comments

Leave a Reply to Nadia K. Putri Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *