Kekerasan terhadap Perempuan di Media Digital: Lawan!

Ketika ‘dapur, sumur, kasur’ jadi satu-satunya harta, dan pernikahan hanyalah cita-cita yang diperbolehkan, Kartini tahu ada sesuatu yang harus diubah. Namun Kartini sadar, apa yang ingin ia ubah bukanlah sesuatu yang mudah pada jamannya. Untuk bisa mengubah kondisi perempuan pada jamannya, paling tidak perempuan harus terdidik. Setelah itu baru ia bisa bebas dan terbuka matanya (Kartini 1963). Perempuan tidak lagi menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya status yang disandang, tetapi ia bebas untuk bekerja dan menjadi mandiri.

Continue Reading

Festival Bahasa Daerah: Melestarikan Bahasa Daerah Sekaligus Menciptakan Lingkungan yang Toleran

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Kebahasaan dan Kesastraan Balai Bahasa Yogyakarta dan dibukukan dalam Antologi Esai dan Cerpen Festival Cinta.

“Berpikir global, beraksi lokal.” – Rene Dubos, Konferensi Lingkungan Manusia 1972

Kemunculan gerakan berbahasa daerah di Indonesia semakin intens dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari Rebo Nyunda, gerakan berbahasa Sunda dan mengenakan baju kampret, celana pangsi dan totopang yang diinisiasi seniman di Bogor ; gerakan berbahasa dan berpakaian Jawa di Jawa Tengah setiap hari Kamis tanggal 15 dan Kamis Pahing di Kota Yogyakarta ; geliat perfilman indie wilayah Cilacap dengan Bahasa Ngapak, di samping upaya-upaya lain, pemerintah daerah untuk menyelamatkan bahasa daerahnya. Fenomena gerakan berbahasa daerah tersebut setidaknya mengingatkan kita pada dua hal penting.

Continue Reading