Categories
BOOK THOUGHT

[Review] Story of Dinda, Cerita Kita Menemukan Bahagia

Ketika kebahagiaan itu di depan mata, beranikah kamu meraihnya?

Dinda tak lagi bisa menutupi air mukanya. Ia bergegas ke pojok ruangan, satu-satunya tempat di mana di ruangan yang tak luas itu, ia bisa berlindung sejenak. Mengambil nafas untuk sejurus kemudian meluapkan emosinya. 

Ia tak mengerti mengapa ajakan Pram untuk memulai hidup bersama membuatnya  benar-benar limbung. Bagaimana kata sependek, “Ya”, jika ia ucapkan bisa menjungkirbalikkan dunianya. Mengganti semua yang ada di hadapannya kesempatan baru yang tak terbayangkan sebelumnya.

Kalut, marah, sedih, bingung jadi satu. Dinda tak tahu degup jantungnya tanda genderang perang atau sambutan selamat datang. Yang pasti, Dinda tahu ia tak lagi bisa berlari. Diam-diam inilah momen yang ia nanti.


Dinda (Aurélie Moeremans), seorang produser muda, menemukan dirinya memutar kembali kaset rusak. Selepas dari toxic relationship-nya dengan Argo (Arya Saloka), ia menemukan kekasihnya –Kale (Ardhito Pramono)– menjelma jadi sosok yang sama.

Bedanya, yang ia hadapi kini bukan teriakan, sumpah serapah, ancaman, atau bantingan kursi dan segala macamnya. Kale yang pernah menyelamatkan Dinda dari Argo, terobsesi menjadikan Dinda miliknya seorang. 

Rasanya cemburu yang awalnya kelihatan tak berbahaya, pelan-pelan menggerogoti Kale. Menjadikan Dinda sasaran kemarahan tiap kekasihnya itu berhubungan dengan Nina (Cantika Abigail), adik Argo yang juga sahabat Dinda sejak kecil.

Bukan rasa aman yang Dinda dapat, tapi sesak dan jarak yang makin kentara di antara keduanya. Tak jarang, Dinda mencari-cari alasan hanya demi bisa bernapas dan merasakan kebebasan.

Di situlah, kemudian Dinda mengenal Pram (Abimana Aryasatya). Sosok lelaki dewasa dengan segala masalah yang jauh dari nalar Dinda. Sikap dan ketenangan lelaki itulah yang membuat Dinda kagum dan terus-menerus mencari cara untuk menemui Pram.

Sekilas, film ini nampak seperti kisah klasik yang sudah entah berapa kali diceritakan ulang. Tentang seorang perempuan yang dipaksa memilih satu di antara lelaki yang mengejarnya.

Tapi justru karena cerita yang familiar inilah, kisah Dinda ini terasa sangat dekat. Jika tidak mengalaminya sendiri, minimal penonton pasti tahu satu-dua cerita orang terdekat yang mengalami. 

Meski begitu, ini bukan jadi alasan untuk film Story of Dinda: Second Chance of Happiness ini menggarap cerita seadanya. Tak seperti kebanyakan film dengan embel-embel “terinspirasi dari kisah nyata”, film ini sengaja tak memberikan celah penonton untuk menambal lubang-lubang cerita. 

Penokohan Dinda dan Pram terasa sangat kuat. Dinda yang begitu muda, naif, rendah diri, dan menganggap tak pernah ada pilihan untuk dirinya. Sedangkan Pram, yang jauh lebih dewasa sangat kontras dengan Dinda: tenang, berprinsip, dan selalu melihat kesempatan di balik setiap masalah.

Sisi yang berlainan ini tak cuma diperlihatkan dari aspek visual saja. Tapi juga dari dialog dan chemistry tokohnya. Percakapan yang terbangun begitu natural, antara seorang perempuan yang mengagumi lelaki yang jauh lebih dewasa. Dan, lelaki yang ingin mengenalkan kesempatan dan dunia yang lebih luas daripada pikiran si perempuan muda.

Saking naturalnya, tak sekali-dua kali saya cekikian. Mendengar dialog Pram yang terasa begitu dewasa, gombal, sekaligus cringey di saat bersamaan. Begitu juga rasa gemas, setiap Dinda dengan naifnya menampik tuduhan-tuduhan orang atas sisi toxic Kale.

Tapi justru karena reaksi di sepanjang menonton film itulah, saya yakin Ginanti Rosa dan tim telah mengerjakan semua PR-nya. Hingga akhirnya jadilah film yang mengangkat topik cukup pelik dalam durasi 60 menitan saja. Tetap ringan ditonton, tapi pesannya kuat.

Oh ya, meski premis film ini cukup sederhana. Jangan pikir film ini selesai dengan Dinda memilih “pangeran berkuda putihnya”. 

Alih-alih memilih opsi yang ada, Dinda menciptakan kesempatan bahagianya sendiri. Dan… dari akhir cerita itulah saya bisa bernapas lega.

Akhir kata, film ini cocok ditonton siapa saja. Terutama untuk Dinda-Dinda lain di luar sana yang sedang mencari jawaban dan kesempatan bahagianya sendiri.


Film Story of Dinda: Second Chance of Happiness tayang mulai 29 Oktober 2021, bisa ditonton di Bioskop Online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *