Categories
THOUGHT

Mencari Ujung Benang Kusut Pendidikan di Indonesia

Apa solusi paling mungkin diterapkan di Indonesia? Ini mungkin salah satu jawabannya.

Bicara masalah pendidikan di Indonesia itu seolah tidak ada habisnya. 

Bukan karena ingin sok tahu lho ya. Justru karena sudah belasan tahun duduk di kelas, kita tahu persis bagaimana sekolah itu tempat yang kelewat bermasalah. 

Entah dari sistemnya, cara mengajar, metode penilaian, materi yang diajarkan, kompetensi guru, dan mungkin banyak lagi. 

Setelah lulus kita pun sadar, sekolah tak membuat kehidupan nyata mudah seperti yang dijanjikan.  Kita sebenarnya tak pernah disiapkan untuk menghadapi dunia di luar sana.

Ya… Jadinya wajar kalau terbesit tanya, “Terus buat apa selama ini aku sekolah?”

Iya, nggak? 🙂

Meneropong Kondisi Pendidikan di Indonesia

Ya, memang sudah bukan rahasia lagi. Sistem pendidikan Indonesia punya segudang pe-er yang mesti digarap. 

Ini bukan cuma pendapat orang yang sakit hati dan kecewa ya. Nyatanya, ada banyak data yang mengatakan hal serupa. 

Menurut World Bank, 55 persen anak usia 15 tahun di Indonesia tergolong memiliki kualitas literasi yang rendah. Mereka bisa membaca teks, tapi kesulitan untuk memahami isi teks tersebut. 

Boro-boro disuruh menjelaskan ulang isi teks, menjawab pertanyaan pun mungkin mereka kesulitan. Padahal, ini merupakan skill yang tidak bisa ditawar untuk sukses di dunia kerja.

Soal urusan literasi ini, kita bahkan tertinggal jauh dari Vietnam. Untuk kasus yang sama, Negeri Naga Biru ini bisa menekan angkanya sampai 14 persen. 

Bahkan, lebih rendah dari rata-rata kasus negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang sampai 20 persen.

Yah… Kamu mungkin menganggap ini masalah remeh. Sekadar soal baca-membaca saja. Tapi lihat saja akibatnya. 

Baca juga: Belajar Sastra, Melestarikan Kearifan Lokal

Menurut Badan Pusat Statistik, 5,67 persen atau sekitar 730 ribu lulusan universitas di Indonesia itu menganggur. Mau tak mau, literasi yang rendah jadi alasan kenapa ini bisa terjadi.

Dan.… jangan salah! Ini angka yang besar lho! Soalnya, tidak sampai 10 persen dari total populasi Indonesia itu lulusan universitas. 

Nah! Apa yang kamu baca barusan ini, baru cuplikan masalah yang cukup penting. Masih ada sederet masalah yang tak melulu bisa dijelaskan dengan angka. 

Dunia Online yang (Sebenarnya) Bisa Jadi Solusi

Dengan garis start yang jauh di belakang, sebenarnya kita tidak bisa berharap banyak apalagi cepat agar kondisi pendidikan di Indonesia ini berubah.

Apalagi dengan situasi pandemi di tahun 2020 ini. 

Hal-hal yang awalnya sudah jadi momok, makin terasa merepotkan di masa-masa seperti ini. 

Kamu pun mungkin tak asing dengan berbagai berita yang membahas keluhan anak sekolahan di masa pandemi.

Mulai dari jumlah tugas yang tidak realistis, media pembelajaran yang tidak efektif, dan guru yang masih gagap teknologi.

Kondisi macam ini sebenarnya lucu tapi juga miris. Karena di sisi lain, selama 5 tahun belakangan, puluhan startup pendidikan tumbuh subur di Indonesia

Dibanding sekolah konvensional, startup edutech ini sudah lebih dulu mengadaptasi sistem pembelajaran online. 

Tidak sedikit pula yang menyajikannya lewat konten interaktif, video on-demand, sampai online live tutoring.

Dengan inovasi macam ini, diprediksi perkembangan industri pendidikan semakin pesat. 

Potensi pasarnya kira-kira sampai dengan US$112 juta atau Rp1,6 triliun. Ke depan, diramalkan pertumbuhan industri pendidikan bisa sampai 25 persen.

Nah, dari data ini boleh dong kalau kita curiga?

Bukannya tidak bisa berbenah dan menyesuaikan diri dengan tantangan ke depan. Sekolah atau sistem pendidikan di Indonesia pada umumnya, sudah terlalu besar dan nyaman untuk berubah.

Kalau mau benar-benar paham maksudnya, baiknya kamu lihat video bikinan Prince Ea ini:

Baca juga: Festival Bahasa Daerah, Melestarikan Bahasa Sekaligus Menciptakan Lingkungan Toleran

Kalau Aku Jadi Pemimpin: Mencari Ujung Benang Kusut Pendidikan di Indonesia

Kondisi pendidikan kita memang sudah kepalang ruwet. Tapi, bukan berarti tidak bisa diurai.

Nah, di sinilah kreativitas dan peran generasi muda seperti kita ini diuji.

Jika aku jadi pemimpin, ingin sekali rasanya aku mengubah cara penyampaian materi di sekolah.

Kenapa? Karena umumnya, materi belajar itu bahasanya susah dimengerti. Ujung-ujungnya, banyak anak yang sekadar menghafal buku teks untuk ujian. 

Perkara paham atau tidak, bodo amat. Paling juga pas selesai ujian, materi yang dihafal mati-matian itu menguap. Ya nggak?

Oke. Kembali ke topik. 

Bagaimana caranya mengubah materi itu jadi lebih mudah dipahami?

Jawabannya, dengan memanfaatkan search engine optimization atau SEO.

SEO adalah trik yang dilakukan agar website atau blog masuk halaman #1 Google. Trik ini mementingkan kualitas dan manfaat konten bagi pembacanya.

Dengan menuliskan materi belajar sesuai standar Google, kita berusaha mengubah materi belajar jadi seringan dan sesimpel mungkin.

Sudah begitu ya, materi belajar ini akan mudah ditemukan siswa lewat Google. Gratis!

Cara yang sederhana ini bisa membantu jutaan siswa di luar sana yang kesulitan memahami materi belajar di sekolah. Kerennya lagi, siswa tak perlu merogoh kocek untuk ikut bimbingan belajar.


Solusi ini mungkin saja kamu anggap remeh. Tapi percayalah, ini adalah solusi yang paling mungkin dilakukan sekarang.

Kalau tidak, mana mungkin ada begitu banyak website pendidikan yang muncul hanya untuk meraup traffic yang bisa diuangkan?

Nah, bayangkan kalau solusi ini dilakukan dengan serius oleh pemimpin a.k.a pemerintah. Pastinya, hasilnya akan lebih maksimal.

Hitung-hitung, sambil pelan-pelan mengubah wajah pendidikan di Indonesia. Ya, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *