Categories
beau LIVING

5+ Perempuan Berbagi Review Menstrual Cup

“Kamu pakai menstrual cup? Gimana rasanya? Sakit nggak?”

Itu pertanyaan yang selalu muncul ketika aku ngaku pakai mens cup. 

Banyak perempuan mulai beralih dari pembalut ke menstrual cup. Jumlahnya tak bisa direkam dalam angka, sih. Tapi, kamu pastinya merasa. Sosmed, blog, dan website mulai memberi ruang review dan bahasan seputar menstrual cup.

Di antara semua konten itu, cara pakai dan testimoni singkat jadi bahasan utama. Masih jarang konten yang memasukkan cerita-cerita personal menggunakan menstrual cup. Padahal kan, cerita macam ini sangat penting.

Apalagi memasukkan “benda asing” ke dalam vagina masih jadi hal tabu dan aneh di Indonesia. Maka tak heran kalau menstrual cup jadi opsi yang tak pernah terpikirkan bagi banyak sekali perempuan. 

Makanya, artikel ini ingin memuat berbagai pengalamanku dan teman-teman ketika memakai menstrual cup. Siapa tahu kamu butuh diyakinkan sebelum mantap beralih ke mens cup. Ya, kan?

Jadi, langsung aja kita lanjut ke bagian review menstrual cup.

Apa itu Menstrual Cup?

Menstrual cup adalah corong penadah darah menstruasi yang terbuat dari silikon medis. Bentuknya persis seperti lonceng terbalik dengan pegangan (stem) di bagian bawah.

Berbeda dari tampon atau pembalut sekali pakai, menstrual cup diciptakan untuk dipakai berulang-ulang. Dengan perawatan yang tepat, corong ini bisa bertahan hingga 10 tahun.

Cara pemakaian mens cup hampir sama dengan tampon, yaitu dengan dimasukkan ke dalam vagina. Karena bentuk mens cup itu agak “besar”, tentunya ada cara khusus yang dipakai biar ia bisa masuk ke vagina.

Ilustrasi diambil dari The Pistachio Project.

Caranya tak lain adalah melipatnya lebih dulu. Sebetulnya, ada banyak banget metode melipat menstrual cup yang bisa dicoba. Tapi setidaknya enam cara di atas lah yang paling umum dilakukan.

Review Menstrual Cup dari 5+ Perempuan

Apa itu menstrual cup dan bagaimana cara pakainya? Kedua hal itu sudah sering sekali dibahas di mana-mana. Kini gilirannya kita cari tahu review menstrual cup dan pengalaman sesama perempuan yang udah pernah nyobain pakai menscup.

Imas, 24 tahun

Walaupun udah riset dan ngerti caranya pakai, tetep aja kaget pas megang menstrual cup-nya langsung. Ternyata bahannya tebel banget! Jujur, sempat agak takut sih pas masukin.

Cuma kan, kata banyak review menstrual cup, harus rileks ketika pakai. Jadi ya… Kucoba untuk rileks dan ternyata ga seseram yang dibayangkan kok. Asalkan ga overthinking, gampang masukinnya.

Menurutku bagian yang menantang bukan soal masukin menstrual cup, tapi memastikan menstrual cup kepasang sempurna. Soalnya ketika nggak pas, bakalan nggak nyaman banget. Rasanya kaya ada yang ngganjel dan kerasa agak keram. Pokoknya aneh banget lah. 

Kalau nggak pas, bisa rembes juga. Walaupun cuma kaya tetesan atau spotting gitu, ga selebay kalau bocor pakai pembalut, tetep aja kan sebel dan was-was.

Setelah beberapa kali pakai, aku notice kalau pasang sambil jongkok malah rawan nggak pas. Jadi, aku pakainya sambil berdiri terus satu kaki memijak ke tempat yang lebih tinggi. Be it bak kamar mandi atau toilet. 

Buat memastikan udah pas pakainya, aku raba bagian bawah cup. Semisal nggak lekukan berarti dah oke. Terus kalau perlu, diputer-puter dan dipencet cupnya. Kalau udah kerasa kaya ada vakumnya gitu, berarti dah aman. Kalo ngerasa kaya ga pake apa-apa juga berarti juga dah bener.

Menariknya, setelah pakai menstrual cup, jadi bener-bener ngerti siklus mens. Kapan lagi deres-deresnya, kapan biasa aja, eh terus tahu-tahu selesai. Personally, siklusku cepet sih. Tiga hari selesai. Tapi proses untuk bener-bener bersih bisa sampai dua hari. Jadi totalnya, lima hari.

Setelah pake menscup, tiga hari dah bener-bener bersih. Muehehehe. 

Baca juga: Pengalaman Cobain Halodoc Buat Konsultasi Ketombe

Melinda, 22 tahun

Aku pakai mens cup setelah bereksperimen dengan banyak alternatif pembalut sekali pakai lainnya, termasuk pembalut kain. Karena jujur awalnya takut ━ selain takut sakit, aku juga takut kebersihan dari cup-nya sendiri nggak terjaga. 

Tapi ternyata, pakai pembalut kain juga gak higienis seperti yang dibayangkan. Gak juga menyelesaikan masalahku soal iritasi kulit. 

Akhirnya aku mengumpulkan teman-teman buat beli barengan. Pas pertama kali, rasanya excited. Aku sampai nunggu-nunggu waktu mens. Haha. Tapi pas kejadian hari pertama, ya, tetep aja kagok ━ padahal udah latihan pakai cup juga sebelum mens.

Pakai mens cup itu gak bisa sekali pakai langsung jago. Aku perlu tiga kali siklus buat sadar cara gimana yang paling pas buatku. Mulai dari cara lipat, cara memasukkan, dan cara mengeluarkan dan mengosongkannya. Itu pun gak selalu mulus, karena di siklus selanjutnya udah lupa lagi pakem-pakem yang diingat pas mens bulan sebelumnya. Jadinya ya meraba-raba lagi. ??

Aku termasuk yang punya siklus yang cukup panjang, 6-7 hari, dengan hari 1-3 banyak banget biasanya. Jadi di hari-hari awal itu, leaking itu sering banget. Tapi ya gak sampai yang bocor merembes kayak kalau pakai pad. Meskipun kadang risih karena harus salin, kurasa lebih mending daripada bocor kalau pakai pad biasa.

Overall, aku senang memakai mens cup. Hal yang paling kusuka adalah iritasiku jadi hilang. Hal lain yang kusuka adalah meskipun sedang mens, rasanya nggak kayak mens karena rasanya “bersih” (ga ada bau anyir darah, dsb). Aku juga lebih nyaman beraktivitas. Terutama untuk olahraga karena lebih bebas bergerak. Dan, mungkin ini feelingku aja, tapi sejak pakai mens cup, kram perutku jadi nggak sehebat dulu? Tapi aku ga mau jinx. Haha.

Baca juga: 3 Rekomendasi Pasta Gigi Ramah Lingkungan

Dhinta, 23 tahun

Aku belum pernah masukin apapun ke vagina. Tapi berniat mencoba menstrual cup karena pake pembalut itu gatel, lembab, pokoknya ga enak. 

Izin mama untuk pakai menstrual cup awalnya gak boleh. Lalu setelah diberi pengertian bahwa jika pun nanti hymen robek karena masukin cup, aku tetap memenuhi definisi perawan karena belom pernah penetrasi penis ke dalam vagina. Akhirnya mama mengizinkan.

Setelah dapet izin, akhirnya aku mencoba. Sebelum masukin cup, aku masukin jari karena belum pernah megang yang di dalem sama sekali. Baru setelah itu memberanikan diri masukin cup. 

Hari pertama mencoba itu bisa sampe sejam gak masuk-masuk sampe keringetan. Mungkin karena gak biasa masukin sesuatu. Terus kupaksa-paksa. Di titik ini aku udah gak peduli hymen robek atau enggak yang penting masuk. 

Saking frustasinya dan makan waktu lama, hari ketiga dan keempat aku pakai pembalut biasa. Habis praktik memaksa masuk itu, mulut vaginaku berasa ga enak dikit. Mungkin lecet, ya? Pokoknya kerasa discomfort gitu lah. Mungkin gara-gara dipaksa, haha. 

Mens selanjutnya aku masih berusaha pakai menstrual cup. Masukin gak sampe 10 menit. Terus aku sadar yang salah waktu pertama kali coba itu arah dorongnya. Kurang diarahin ke bawah, jadi nabrak dan ga mau masuk. Kayaknya sih, kerasanya gitu hehe. 

Aku akhirnya tetep pakai menstrual karena kalo habis pipis gak bikin bocor. Semuanya tetep kering, nggak ada lah itu kerasa lembab nggak nyaman. Enak pokoknya. 

Cuma ga tau kenapa mens hari kedua tu deres banget. Tiga jam aja udah bocor. Apa suction-nya gak berhasil atau gimana, kayaknya sih berhasil-hasil aja karena sejam dua jam awal gak bocor, atau memang simply udah banyak karena pas dibuka itu udah 75% keisi, entahlah. Pokoknya kebanyakan gak sampe 12 jam karena darahku emang extraordinarily banyak. 

Meski gitu, aku akan tetep pakai menstrual cup. Soalnya walaupun bocor, bocornya lebih dikit. Oh, terus kalo pas numpahin darahnya itu satisfying banget hahaha.

Ajeng, 25 tahun

Sebetulnya sudah lama aku penasaran ingin mencoba pakai menstrual cup. Banyak orang-orang di sekitarku yang merekomendasikan. Aku semakin tertarik karena aku mudah iritasi kalau pakai pembalut, apalagi kalau mensnya lama. Sudah lama ingin coba mens cup, tapi belum berani karena takut masukinnya dan harganya agak lumayan. Sampai suatu hari akhirnya beli karena ada promo.

Percobaan pertama surprisingly lumayan berhasil. Tidak butuh waktu lama untuk mengenakannya, paling 10-15 menitan untuk adjusting. Padahal kukira aku akan butuh waktu 1 jam lebih untuk pemakaian pertama haha. Ternyata benar, pemakaian mens cup sangat mudah kalau kita rileks.

Aku mengamini beberapa teman yang bilang tantangan menggunakan mens cup sesungguhnya adalah saat memastikan mens cup terpasang sempurna. Kalau dia mengsle atau masih terlipat sedikit, resikonya adalah darah mens gampang merembes. 

Kalau masangnya juga nggak sesuai dengan bentuk vagina kita, rasanya juga sangat nggak nyaman. Mau duduk, mau jongkok, rasanya kayak ada yang mengganjal. Untuk menyiasati ini, saat siklus mens pertama aku menggunakan mens cup, aku tetap pakai pembalut. Harapannya sih ke depan sudah bisa paham bentuk organ sendiri dan pro masangnya, jadi nggak perlu pake pembalut dan pemakaiannya nyaman.

Bagian terbaik dalam mengenakan mens cup adalah, saat siklus mens lagi banyak-banyaknya, kita nggak perlu bolak balik ganti pembalut dan mencuci pembalutnya. Cukup sehari 3 kali aja mengosongkan mens cupnya lalu dipasang kembali. Praktis banget dan cepat. Namun yang aku masih suka lebay adalah menjaga higienitasnya sih.

Overall, aku merekomendasikan penggunaan mens cup ini untuk teman-temanku. Tentunya dengan mempertimbangkan kebutuhan masing-masing ya.

Baca juga: 15 Istilah Gaya Hidup Ramah Lingkungan yang Perlu Kamu Tahu

Lei, 28 tahun.

Pernah nggak sih, jijik sama darah mens? Aku pernah, dulu waktu pake pembalut sekali pakai. Setelah pake cup, sekarang nggak jijik sama sekali. Kenapa? Karena yg dulu bikin aku jijik adalah baunya.

Ada beberapa penyebab bau darah mens jadi lebih kuat, you can google that, dan salah satunya adalah darah mens yg berdiam lama di pembalut atau tampon.

Setelah pake cup, aku merasa bau itu berkurang. Walaupun mau nggak mau harus bersinggungan langsung sama darah (tangan belepotan darah mens itu biasa waktu nyopot cup), tapi baunya nggak setajam bau darah saat ganti pembalut dalam posisi pembalutnya udah penuh. Waktu tangan belepotan darah juga langsung bisa dicuci bersih.

Dengan akrab sama darah mens, aku jadi lebih mencermati kapan pas lagi banyak, kapan sedikitnya, lebih bisa mencermati warna darah mens atau apa saja yg kita keluarkan waktu mens. Aku pun jadi lebih menerima bahwa menstruasi adalah hal yang natural dan bagian dari hidup. Sebelumnya aku memang nggak pernah malu kalau lagi mens, dan pake cup itu bikin tambah bebas~! 

Nggak perlu panik kalau lupa bawa pembalut baru ke kamar mandi. Nggak ada suara keras buka plastik pembalut baru di toilet. Nggak pake celingukan cari kertas bekas atau kresek untuk buang pembalut. Nggak banyak-banyak bikin sampah tiap bulannya. Nggak ada bisik-bisik awkward nanya ke orang (well, temen, tapi bayangkan kalau kita lagi nggak sama temen) untuk ngeliatin bokong kita apakah darah mens tembus atau enggak.

Emang sih, harus bolak-balik ke toilet 2 jam sekali kalau lagi deras, but for me, it’s all worth it. Anggap saja melatih kedisiplinan hehehe.

Husna, 23 tahun

Awalnya nggak punya ekspektasi tinggi, cuma pengen nyoba karena mulai capek pakai pembalut biasa yang kadang bikin iritasi kulit dan keputihan. Ternyata efeknya kelihatan di pemakaian pas siklus mens kedua: keputihan berkurang dan jelas nggak iritasi kulit lagi.

Awalnya aku pikir akan susah pakainya, ternyata nggak juga. Pas pertama coba pakai, butuh sekitar 3-4 menit untuk masukin dan ngepasin posisinya di dalam vagina. Setelah beberapa kali, cuma butuh 1-2 menit dan, tadaaa, cup-ku masuk dalam posisi sempurna. 

Bisa dibilang lebih simpel juga karena dalam 24 jam cuma perlu dibersihin 2-3 kali, soalnya volume darah mens-ku nggak terlalu banyak. Daripada pakai pembalut biasa yang harus diganti tiap 3-4 jam (kalau pembalut dipakai kelamaan, iritasi dan keputihan bisa makin parah!).

Tapi yang menurutku repot dan bikin males adalah, tiap sebelum pakai pertama kali di awal siklus mens, harus direbus dulu. Kenapa repot? Mens kan muncul tiba-tiba, kalau keluarnya pas lagi di jam-jam sibuk atau lagi nggak di tempat yang bisa rebus cup-nya, jadi males ribet dan lebih pilih pakai pembalut biasa. Sebenernya waktu udah nemu waktu dan tempat buat rebus cup, bisa langsung dipakai sih. Tapi belakangan jadi males karena udah terlanjur pakai pembalut.

Kerepotan lainnya (yang sebenernya nggak penting-penting amat) adalah, aku harus selalu memastikan potong kuku biar bisa masukin cup ke vagina dengan aman dan tanpa rasa sakit. Padahal aku sering sengaja panjangin kuku walaupun buat alasan yang sepele kayak biar bisa lebih enak pas main alat musik petik, atau sekadar buat gaya-gayaan.

Kemalasan untuk ribet di awal siklus mens itu selalu jadi pengingat buatku: kalau aku mau hasil yang baik dalam jangka waktu panjang, harus konsisten dan mau komitmen untuk agak bersusah payah. Prinsip ini hampir mirip sama rutinitas pakai skin care sih. Harus telaten dan sabar.

Sebenernya ada alasan lain yang mungkin akan terdengar kayak SJW (social justice warrior) haha, yaitu menstrual cup lebih ramah lingkungan dibandingin pembalut. Menurut beberapa website, kalau dirawat secara benar (nggak terlalu sering direbus dan nggak dicuci pakai sabun keras, disimpan di tempat sejuk dan kering), satu cup bisa tahan sampai 2-4 tahun. Bisa lebih berhemat juga dong pastinya, apalagi kalau beli cup waktu ada promo gitu.

Apakah aku akan merekomendasikan kalian pakai cup? Iya. Tapi harus banyak baca review dan tanya orang-orang yang uda punya pengalaman pakai, biar nggak kagok dan nggak salah pilih. 

Baca juga: Review Favorinse, Sabun Artisan yang Peduli Lingkungan

Frequently Asked Questions (FAQ) Menstrual Cup 

Itu tadi review menstrual cup dari enam perempuan. Nah, kamu masih penasaran sama menstrual cup? Kalo iya, coba baca bagian ini sampai tuntas. Siapa tahu pertanyaanmu kejawab di sini.

Apakah menstrual cup aman untuk yang belum menikah?

Tentu saja! Menstrual cup terbuat dari silikon medis yang aman buat tubuh. Mau sudah menikah atau belum nggak akan ada bedanya.

Normalkah ujung menstrual cup tidak tersentuh?

Yup. Normal banget kok. Tak perlu panik semisal kamu sulit menyentuh ujung menscup ketika mau melepasnya. Kamu bisa coba berjongkok dan mengejan supaya ujung menscup lebih mudah dijangkau.

Apakah menstrual cup perlu dilepas ketika mau kencing atau pup?

Tidak perlu. 

Apakah menstrual cup bikin vagina kendor?

Tidak. Vagina itu sangat kuat dan fleksibel. Buat dilewatin bayi segede itu aja bisa balik ke ukuran semula. Apalagi cuma menstrual cup yang gedenya paling cuma 5 cm.

Gimana cara tahu pasang menstrual cup sudah bener?

Lucunya, kamu nggak akan ngerasain apa-apa ketika menstrual cup terpasang dengan benar. Rasa sebelum pakai = rasa setelah pakai. Kalau kamu merasa ada sesuatu yang mengganjal atau kram, coba lepas mens cup dan pasang ulang.

Berapa jam menstrual cup bisa dipakai?

Umumnya, menstrual cup bisa dipakai sampai dengan 12 jam. Setelah itu, kamu harus melepas dan mengosongkan isinya. Tapi ini tergantung juga dari banyaknya darah di siklus mens masing-masing perempuan. 

Bagaimana cara membersihkan menstrual cup?

Sebelum dan sesudah siklus menstruasi, mens cup haruslah direbus dengan air mendidih. Selama siklus menstruasi, kamu cuma perlu membersihkannya dengan air mengalir dan sabun yang lembut. Kalau sedang tak menemukan sumber air bersih, kamu bisa juga pakai tisu basah untuk membersihkannya.

Jadi Gimana? Sudah Yakin Mau Pakai Menstrual Cup?

Menstrual cup adalah produk sanitasi yang menurutku jenius. Bukan cuma karena praktis, awet, dan ramah lingkungan aja. Mens cup juga bisa jadi solusi untuk kamu yang ngalamin iritasi kulit gara-gara pakai pembalut. Lebih kerennya lagi, ketika pakai menscup kamu nggak akan ngerasa kaya lagi dapet. Hebat, ya?

Semoga review menstrual cup ini bisa bantu meyakinkan kamu buat beralih ke mens cup. Kalau kamu punya pertanyaan lain, langsung aja tulis komentar di bawah ya~ Semisal kamu sudah pakai menscup, boleh banget kok sharing review menstrual cup versimu di kolom komentar~

Categories
beau LIVING

3 Rekomendasi Pasta Gigi Ramah Lingkungan

Sikat gigi ─ sebuah ritual dua kali sehari yang tak boleh dilewatkan. Ritual inilah yang menjaga nafas tetap segar dan gigi cemerlang. Namun, tahukah kamu kalau tak semua pasta gigi aman untuk lingkungan?

Yup. You read it right. Bukan sekedar tidak aman, beberapa pasta gigi juga berbahaya bagi lingkungan dan biota air.

Di artikel ini, kamu bisa menemukan beberapa rekomendasi pasta gigi yang ramah lingkungan. Akan tetapi, sebelum sampai ke sana, kamu perlu tahu kenapa penting untuk beralih ke varian pasta gigi ramah lingkungan.

Mengapa Pakai Pasta Gigi Ramah Lingkungan?

Pasta gigi ramah lingkungan adalah alternatif terbaik untuk menyelamatkan lingkungan. Varian pasta gigi ini mengandung bahan-bahan alami yang mudah diurai. Karena komposisi inilah, pasta gigi takkan mencemari air dan melukai biota air.

Penjelasan di atas otomatis mengungkap apa yang salah dalam pasta gigi pada umumnya.

Pasta gigi mengandung bahan-bahan yang memastikan mulut kita bersih dan nafas segar. Tapi, apa yang bisa tubuh kita toleransi ─ belum tentu juga bisa ditoleransi lingkungan dan makhluk hidup lainnya.

Beberapa pasta gigi mengandung triclosan. Triclosan merupakan pestisida atau antibiotik yang digunakan untuk menghilangkan bakteri dan jamur. Masalahnya, bahan ini bisa merusak ekosistem dan hormon biota air.

Paraben yang terkenal sebagai bahan pengawet, juga dapat mempengaruhi perubahan hormon pada hewan.

Ada juga Sodium pyrophosphate, senyawa yang menghilangkan mineral yang memicu air liur seusai makan. Senyawa ini digunakan untuk mengurangi karang gigi pada manusia. Akan tetapi, senyawa ini juga mengandung fosfor yang memicu perkembangan tanaman alga. Tanaman ini bisa mengurangi kandungan oksigen dalam air dan membunuh makhluk hidup di dalamnya.

Fluoride juga ternyata bermasalah bagi lingkungan. Bahan yang membantu mencegah gigi keropos ini ternyata bisa menjadi berbahaya dalam jumlah besar. Pencemaran fluoride di tanah dan di air sama-sama mempengaruhi makhluk hidup yang tinggal di sana.

Tanaman dilaporkan layu dan mati karena terekspos bahan ini. Hewan seperti ayam, sapi, dan kambing juga terdampak oleh eksposur fluoride. Beberapa efek di antaranya lemas, sendi kaku, gigi dan tulang abnormal, dan produksi susu yang menurun.

Jangan lupakan juga microbead atau microplastics! Titik-titik berkilau dalam pasta gigi ini ternyata tak bisa diurai oleh alam. Ia ikut luruh bersama jalannya air hingga akhirnya terkumpul di lautan. Tak sengaja microplastics ini dimakan ikan dan kita pun ikut memakannya.

Itu tadi hanyalah sekilas dari bahan-bahan berbahaya yang terkandung dalam pasta gigi. Sebuah riset dari 36 merek pasta gigi menunjukkan 19 bahan berdampak jangka panjang bagi lingkungan. Delapan di antaranya dinyatakan beracun untuk biota air. Satu bahan dinyatakan beracun dan enam lainnya berbahaya. Baca apa saja bahan-bahan yang dimaksud di sini.

Setelah tahu betapa berbahaya pasta gigi konvensional itu, saatnya kita membahas apa saja pilihan pasta gigi yang aman untuk lingkungan.

Rekomendasi Pasta Gigi Ramah Lingkungan

Di bawah ini, kamu akan menemukan ulasan dari beberapa pasta gigi eco-friendly yang pernah kujajal. Jadi, ini semacam review jujur begitu ya.

Tapi kan, membandingkan satu produk dengan yang lain itu agak sulit ya. Ini karena setiap produk punya peruntukkan masing-masing. Maka, supaya lebih fair, kita akan pakai beberapa indikator yang sempat dijelaskan di artikel 15 Istilah Gaya Hidup Ramah Lingkungan yang Perlu Kamu Tahu.

Untuk artikel ini, kita akan ambil beberapa indikator penting seperti:

  • Cruelty-free
  • Vegan
  • Palm oil free
  • Fluoride-free
  • Kemasan ramah lingkungan

Selain menilai produk dari kelima indikator di atas, kita juga akan membuktikan seberapa efektif produk pasta gigi dengan klaim yang dijanjikan. Yak! Sekarang kita langsung saja review satu-satu pasta giginya ya~

1. Desert Essence ─ Natural Tea Tree Oil Whitening Plus in Cool Mint

Ingredients: Calcium Carbonate, Glycerin, Water (Aqua), Gaultheria Procumbens (Wintergreen) Leaf Oil, Melaleuca Alternifolia (Tea Tree) Leaf Distillate, Carrageenan, Sodium Lauroyl Sarcosinate, Melaleuca Alternifolia (Tea Tree) Leaf Oil, Bambusa Arundinacea Stem Powder, Phyllostachis Bambusoides Juice, Zinc Citrate, Aloe Barbadensis Leaf Juice, Calcium Ascorbate (Vitamin C), Equisetum Arvense Leaf Extract (Horsetail), Sodium Bicarbonate, Sea Salt, Phytic Acid, Stevia Rebaudiana Leaf/Stem Powder

Klaim: Membersihkan noda untuk senyum lebih cerah; Mengurangi penumpukan plak; Menyegarkan nafas.

Pertama kali pakai Desert Essence, sejujurnya aku merasa kepedesan ? Belum pernah nemu sih, pasta gigi yang rasa mint-nya bisa sekuat ini. Tapi, setelah pemakaian kedua dan seterusnya jadi terbiasa kok. Bahkan, rasanya ada yang kurang kalau belum sikat gigi pakai Desert Essence.

Pasta gigi ini berwujud krim putih. Baunya, ya seperti pasta gigi mint pada umumnya, segar sekali. Hal yang membedakan produk satu ini dengan yang lain mungkin adalah busanya.

Meski tergolong natural, pasta gigi ini masih memiliki busa yang cukup banyak. Barangkali ini karena kandungan Glycerin yang menempati urutan kedua di daftar komposisi. Namun, beda dari pasta gigi pada umumnya, busa Desert Essence mudah terurai. Seketika kamu membuang busa di air, ia akan terpecah menjadi busa-busa sangat tipis dan menghilang. Air yang ada pun tetap bening.

Ini jelas berbeda dengan pasta gigi konvensional pada umumnya. Busa yang ditinggalkan biasanya saling menempel dan sulit diurai. Air yang ikut membawanya ke saluran pembuangan pun biasanya ikut keruh.

Dari sekian banyak kelebihannya, aku justru kecewa dengan kemasannya. Tube dari pasta gigi ini masih menggunakan plastik yang cukup tebal. Pastinya, bagian inilah yang sulit diurai ataupun digunakan kembali.

Untuk klaim produk, hal yang paling terasa adalah mengurangi penumpukan plak dan menyegarkan nafas. Kedua hal ini terasa banget bahkan di pemakaian pertama.

Produk ini cocok untuk:

Siapapun yang menyukai sensasi segar di mulut, perokok, peminum kopi dan teh.

Produk ini kurang cocok untuk:

Orang dengan kondisi gigi dan mulut yang sensitif.

2. Sensatia Botanicals ─ Cinna Mint Natural Toothpaste

Ingredients: Calcium Carbonate, Water (Aqua), Vegetable Glycerin, Sodium Lauroyl Sarcosinate, Calcium Glycerophosphate, Terminalia Ferdinandiana Fruit Extract, Xanthomonas Campestris (Xanthan) Gum, Citrus Nobilis (Mandarin Orange) Peel Oil, Montmorillonite (Red Clay), *Limonene, Gaultheria Procumbens (Wintergreen) Leaf Oil, Mentha Arvensis (Peppermint) Leaf Oil, Maris Sal (Sea Salt), Citrus Limon (Lemon) Fruit Extract, Glycyrrhiza Glabra (Licorice) Extract, Melaleuca Alternifolia (Tea Tree) Leaf Oil, Cinnamomum Cassia (Cinnamon) Oil, *Cinnamal, *Linalool. *Occurs naturally in essential oils.

Klaim: Membersihkan gigi dan merawat gusi; Membantu menjadikan gigi lebih kuat dan bebas lubang; Melawan bakteri; Melindungi gigi sensitif dari rasa ngilu.

Impresi pertama dari Cinna Mint Natural Toothpaste keluaran Sensatia Botanicals ini adalah wanginya! Wangi cinnamon atau kayu manisnya tercium lembut dan menenangkan. Rasanya kaya menghirup bau Cinnamon Roll yang habis keluar dari oven. Sama sekali nggak kerasa artifisial.

Impresi kedua datang dari krim pastanya. Warnanya merah muda cenderung ke oranye. Tekstur krimnya juga sangat ringan. Jelas tekstur macam ini sulit ditemukan di pasta gigi konvensional yang ada di pasaran.

Pengalaman menyikat gigi dengan varian pasta gigi Sensatia Botanicals ini juga amat berbeda. Kamu takkan menemukan banyak busa memenuhi rongga mulutmu. Hanya ada busa tipis, lalu sisanya adalah (maaf) air liurmu sendiri.

Percayalah, pengalaman pertama memakai ini membuatmu sedikit shock. Bisa jadi kamu terpikir kalau pasta gigi ini gagal membersihkan mulut dan gigi secara sempurna.

Tapi tenang! Sebelum buru-buru menghibahkannya ke orang lain, kamu bisa mencoba menyikat gigimu dengan pasta gigi sepanjang bulu sikat selama dua menit. Atau kalau versiku, coba sikat gigi dua kali. Niscaya, gigi dan mulutmu akan terasa bersih. Pun, tak usah khawatir dengan kemungkinan limbah pasta gigi mencemari air.

Poin terakhir yang kusuka adalah kemasan pasta gigi ini! Ya ampun lucu banget kaya cat air! Kemasan odol ini terbuat dari tube berbahan alumunium. Jadi, cukup bisa didaur ulang ya. Satu-satunya elemen plastik dalam pasta gigi ini ada di tutup kemasannya. Yah, dibandingkan yang lain, sudah cukup signifikan lah pengurangan plastiknya.

Untuk klaim, yang paling terasa di aku adalah membersihkan gigi dan merawat gusi; melawan bakteri; dan melindungi gigi sensitif dari rasa ngilu.

Produk ini cocok untuk:

Orang dengan kondisi gigi dan mulut yang sensitif. Orang yang tak menyukai bau menyengat.

Produk ini kurang cocok untuk:

Perokok aktif. Peminum reguler kopi dan teh.

3. Do-It-Yourself

Ingredients: Coconut oil and baking powder

Kamu nggak salah baca kok. Kamu memang bisa bikin pasta gigimu sendiri. Cukup campurkan minyak kelapa dan baking powder sampai memiliki tekstur seperti pasta.

Bagian tricky-nya adalah menjaga campuran itu tetap bertekstur pasta. Jika ditaruh suhu ruangan, apalagi di cuaca Indonesia, bisa dipastikan pasta gigi DIY-mu akan mencair. Akan tetapi, jika ditaruh di kulkas, kemungkinan besar pasta gigimu berubah menjadi es batu.

Solusinya, coba keluarkan pasta gigimu dari kulkas selama 30-60 menit sebelum digunakan. Dengan begitu, kamu bisa menemukan tekstur yang pas ketika memakainya.

Oh ya, belajar dari kesalahanku, selalu gunakan refined coconut oil atau minyak kelapa yang sudah diproses. Minyak jenis ini biasanya cenderung bening dan tidak berbau menyengat.

Dulu, ketika kucoba membuat pasta gigi sendiri, aku memakai minyak kelapa yang belum diproses. Ini membuat campuran pasta gigimu berbau sedikit menyengat. Ketika sedang sindrom datang bulan, aduh rasanya pusing banget cium baunya.

Satu lagi, ketika memakai pasta gigi berbahan utama minyak kelapa, rajin-rajinlah membersihkan lidah. Entah dengan sikat atau alat pembersih lidah yang dijual di pasaran. Meski kedua bahan utama dari odol DIY ini merupakan anti-bakteri, kandungan minyak juga bisa menyebabkan bau mulut.

Produk ini cocok untuk:

Orang yang ingin membuat pasta giginya sendiri. Tak terburu-buru dan menikmati ritual sikat gigi.

Produk ini kurang cocok untuk:

Orang yang menginginkan segala sesuatu yang cepat dan efisien.

Baca juga: Pengalaman Cobain Halodoc Buat Konsultasi Ketombe

Lho, Segitu Aja Rekomendasinya?

Ehehe. Iya nih. Segitu dulu aja ya.

Soalnya kan, buat habisin satu kemasan pasta gigi butuh waktu agak lama. Kalau kamu pakai untuk sendiri, satu kemasan baru bisa habis dalam waktu 3-4 bulan. Bahkan, bisa juga lebih.

Walaupun bisa berkali-kali lipat lebih mahal daripada pasta gigi biasanya, pasta gigi ramah lingkungan cukup worth it kok. Kalau harganya dibagi berapa kali jumlah pakai, kamu akan merasa sebetulnya harga pasta gigi eco-friendly nggak terlalu mahal. Apalagi kalau kamu lihat dampaknya ke lingkungan.

Oke. Jadi segini dulu ya. Kamu punya saran merek pasta gigi ramah lingkungan yang perlu kuulas selanjutnya? Atau kamu punya pertanyaan soal pasta gigi yang sudah dibahas di atas? Jangan sungkan buat tinggalkan komentar di bawah ini ya~ See you di artikel berikutnya~

Sumber:

Hilda Samuelsson. Is Toothpaste an Environmental Hazard? University Gothenburg. https://www.bioenv.gu.se/digitalAssets/1480/1480510_hilma-samuelsson.pdf

Lucy Siegle. Can I have white teeth and be eco friendly? https://www.theguardian.com/environment/2007/may/13/ethicalliving.lifeandhealth

Michael Bloch. The environmental impact of toothpaste. https://www.greenlivingtips.com/articles/toxic-toothpaste.html

Categories
beau LIVING

Review Favorinse, Sabun Artisan yang Peduli Lingkungan

Sejak paham kondisi kulitku yang keringnya keterlaluan, diriku mulai mengganti satu per satu produk perawatan kulit yang selama ini kupakai. Sebagai gantinya, diriku harus merogoh kocek agak dalam untuk mencoba produk-produk artisan yang diklaim lebih ampuh dan lebih ramah lingkungan. Setelah mencoba body butter lokal (Baca juga: Evete Naturals Body Butter in Calming Green Tea, Review) kini aku mencoba satu merk sabun artisan, Favorinse.

Categories
beau LIVING

Evete Naturals Calming Green Tea Body Butter, Review

Punya kulit super kering itu ngeselin banget. Saking keringnya, Bapak bilang kalau betisku punya garis-garis berpola semacam sisik ular. Kalau aku sih, merasa lebih pas kalau disamakan dengan pola tanah kering di sawah. Karena itu Bapak pernah berpesan, “Kalau habis makan gorengan, minyaknya digosok ke kaki. Biar nggak kering.” Sebuah ajakan jorok yang membuatku sadar seberapa kering dan memperihatinkannya kulitku.