about the blog.

“Kita belanja terus sampai mati…”

Meski terdengar sedikit berlebihan, penggalan lirik dari Efek Rumah Kaca di atas memang ada benarnya. Belanja berubah dari sekedar menukar lembaran kertas dengan barang atau jasa, menjadi sebuah ritual. Belanja menjadi kegiatan yang paling ditunggu menjelang awal bulan. Hiburan bagi mereka yang penat dihimpit beban pekerjaan. Terapi konkret untuk membahagiakan diri sendiri.

Kita pun menyaksikan bagaimana megahnya ritual ini. Hari libur nasional tidak lagi sekedar tanggal merah dan tinggal di rumah. Ia kini menjelma menjadi diskon besar dan gratis ongkos kirim. Tak sampai disitu, hari-hari peringatan yang jarang terasa spesial disulap menjadi perayaan: Hari Kartini, Hari Perempuan, Hari Ibu, Hari Konsumen, Hari Belanja Online Nasional, sampai Black Friday. Pun, tanggal-tanggal cantik tak luput digubah menjadi momentum belanja.

Di hingar-bingar dunia perbelanjaan inilah, kita sering lupa. Mengapa kita terobsesi mendapatkan barang termurah? Kenapa kita terus menerus berbelanja? Siapa pembuat barang yang kita beli? Apakah barang itu berbahaya bagi lingkungan? Dan yang terpenting, apakah dengan membeli barang itu aku membantu menghidupi pembuatnya?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting, mengingat banyak produsen menekan harga barangnya demi konsumen dan membiarkan pegawainya tercekik upah murah.

Blog ini tidak akan menyuruh Anda secara ekstrim membuat segalanya sendiri dari nol untuk dikonsumsi sendiri. Meski sebetulnya itu ide yang bagus. Apalagi mempromosikan nilai anti-belanja.

Blog ini hanya ingin mengajak semuanya untuk berhenti sejenak. Mengambil waktu untuk berpikir kembali tentang kebiasaan belanja yang toksik. Lantas mengubahnya menjadi kegiatan yang lebih bertanggung jawab dan menyumbang kehidupan bagi mereka yang ada di rantai produksi terbawah.

Pun, naif rasanya untuk percaya bahwa belanja sekedar menukar lembaran uang dengan barang. Ada banyak hal yang melingkupinya. Maka dari itu, blog ini juga akan membahas topik-topik menarik irisan dari ‘ritual’ itu sendiri: gender, feminisme, politik, lingkungan, dan konsep soal keberlanjutan serta ramah lingkungan. Semuanya dibungkus dengan bahasa yang lugas dan sederhana.

Selain itu ada juga topik-topik sampingan yang mengingatkan Anda untuk hidup dengan sederhana dan tak terburu-buru. Semuanya dirangkum dalam beberapa kategori:

BOOK
berisi ulasan dan catatan menarik soal buku-buku yang saya baca.

THOUGHT
adalah kumpulan pemikiran dalam bentuk esai dan listicles.

LIVING
membahas hal-hal yang berkaitan dengan gaya hidup yang sederhana, perlahan, dan berkelanjutan. Topik ini dibagi lagi dalam tiga kategori:

adulting
berisi hal-hal seputar proses menjadi dewasa. Membahas refleksi dan catatan soal menikmati proses pendewasaan tanpa menyiksa diri. Mengingatkan diri untuk menghindari keterburu-buruan, kerumitan, dan hal yang tak perlu.

beau
mengulas produk perawatan dan kecantikan yang etis (organik, ramah lingkungan, tidak berlaku jahat dan mendukung keberagaman) serta alternatif produk buatan sendiri.

bite
rekomendasi kuliner artisan dan produk-produk lokal yang memanjakan lidah dan ikut mengenyangkan perut si pembuatnya.